BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Lazismu Jadikan Zakat Instrumen Pembangunan Bangsa, Tak Sekadar Santunan

26

BANDUNG, panjimas – Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2025 masih tercecer di peringkat 6 di kawasan ASEAN. Berbagai pihak tidak bisa berpangku tangan untuk mengatrol IPM Indonesia.

Salah satu stakeholder yang concern terhadap IPM Indonesia adalah Persyarikatan Muhammadiyah. Ormas Islam yang berdiri tahun 1912 berbagai lini dakwahnya diarahkan untuk meningkatkan taraf hidup umat dan bangsa agar lebih baik.

Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais menjelaskan, kegiatan filantropi Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) diarahkan tak sebatas karitatif.

 

Melainkan ZISWAF oleh Lazismu didistribusikan untuk membangun dan menjaga keberdayaan umat dan bangsa. Langkah transformatif oleh Lazismu ini diharapkan akan mengangkat IPM Indonesia.

“Pentingnya transformasi pengelolaan zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dari sekadar bantuan konsumtif menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya di UM Bandung pada Ahad (7/6).

Rais menjelaskan, strategi transformatif Lazismu di antaranya dengan membangun pemahaman bahwa ZIS bukan sekadar kewajiban agama. Melainkan pilar strategis untuk meningkatkan IPM dan mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Zakat tidak boleh dipahami sebatas bantuan karitatif. Zakat harus mampu mengubah mustahik menjadi muzakki dalam menjawab tantangan instrumen ekonomi yang kuat untuk memperkuat sistem kesejahteraan nasional,” ujar Mujadid Rais.

Disamping agenda Prioritas Lazismu dalam menghadapi tantangan filantropi modern, adapun agenda utama yang menjadi fokus Lazismu ke depan yaitu: pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lingkungan

Exit mobile version