BeritaInternasionalNasionalNews

Din Syamsuddin Ajak Umat Lintas Agama Bangun Peradaban Baru

9
×

Din Syamsuddin Ajak Umat Lintas Agama Bangun Peradaban Baru

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Dunia membutuhkan peradaban baru yang bertumpu pada nilai-nilai etika dan moral. Untuk mewujudkannya, umat lintas agama perlu memperkuat kolaborasi agar agama hadir sebagai solusi bagi berbagai persoalan global, bukan justru menjadi bagian dari masalah.

 

Pesan itu disampaikan Prof. Dr. M. Din Syamsuddin dalam International Council Meeting of Religions for Peace yang berlangsung di Mauritius pada 24 Juni 2026. Pertemuan internasional tersebut dihadiri sekitar 200 tokoh lintas agama dari berbagai negara.

 

Sidang yang digelar di sebuah hotel tepi pantai di negara kepulauan di Samudra Hindia itu dibuka Presiden Mauritius Dharam Gokhool.

 

Hadir pula Sekretaris Jenderal Religions for Peace International, Dr. Francis Kuria. Dari Indonesia, selain Din Syamsuddin, turut hadir Prof. Dr. Amany Lubis, mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menjadi anggota Women’s Network organisasi tersebut.

Dalam kapasitasnya sebagai Presiden Kehormatan Religions for Peace International, Din Syamsuddin menjadi pembicara pada sesi tematik Partnership for Inclusive Global Governance. Ia menilai dunia saat ini tengah menghadapi krisis multidimensi yang ditandai oleh kerusakan yang terus menumpuk, ketidakpastian, dan berbagai persoalan kemanusiaan yang semakin kompleks.

 

Karena itu, menurut Guru Besar Politik Islam Global Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut, dunia memerlukan arah peradaban baru yang lebih bermartabat. Dalam konteks itu, agama harus tampil sebagai problem solver, bukan menjadi part of the problem, apalagi berubah menjadi problem maker.

 

Din menegaskan, komunitas lintas agama perlu menggagas dan memprakarsai lahirnya peradaban mulia yang berlandaskan nilai-nilai etika dan moral. Menurutnya, paradigma tersebut dapat menjadi alternatif atas peradaban lama yang terlalu berorientasi pada sekularisme dan liberalisme.

Prof. Dr. M. Din Syamsuddin (tengah) mengikuti sesi Partnership for Inclusive Global Governance pada International Council Meeting of Religions for Peace di Mauritius. Dalam presentasinya, ia mengusulkan Etika Global Bersama sebagai fondasi peradaban mulia. (Tagar.co/Istimewa)

Etika Global Bersama

Sejalan dengan tema sidang, Forging Pathways for Shared Sacred Worldview, Din mengusulkan konsep Shared Global Ethics atau Etika Global Bersama. Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menjelaskan bahwa meskipun agama-agama berbeda dalam aspek teologis, semuanya memiliki titik temu dalam nilai-nilai etika dan moral yang universal.

“Dari titik temu itulah Etika Global Bersama untuk membangun Peradaban Mulia perlu mulai diarusutamakan,” ujarnya.

 

Menurut Din, nilai-nilai seperti cinta kasih, kepedulian, toleransi, solidaritas, dan keadilan harus menjadi fondasi utama dalam membangun kesejahteraan dan kemakmuran bersama di tingkat global.

Namun, ia mengingatkan bahwa kalangan agamawan tidak mungkin bekerja sendiri. Upaya membangun peradaban yang lebih baik harus melibatkan berbagai unsur masyarakat, terutama para politisi dan negarawan.

 

“Kaum agamawan perlu mengajak para politisi dan negarawan untuk menyadari bahwa dunia tanpa etika akan menuju kerusakan,” katanya.

 

Kolaborasi antara agamawan, negarawan, dan berbagai elemen masyarakat, lanjut Din, merupakan wujud nyata pemerintahan global yang inklusif. Menurutnya, kerja sama semacam itu tidak lagi bisa ditunda.

 

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita yang memulai, siapa lagi?” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *