BANJARMASIN, panjimas– Milad ke-30 Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMBJM) harus menjadi titik tolak untuk memperkuat komitmen membangun kampus sebagai markas intelektual sekaligus pusat peradaban Islam masa depan. Semangat tersebut menjadi pesan utama dalam peringatan Milad UMBJM yang digelar di Kampus UMBJM, Jumat (24/7).
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Selatan, Ridhahani Fidzi, menegaskan bahwa usia tiga dekade bukan sekadar penanda perjalanan sebuah perguruan tinggi, melainkan momentum untuk melakukan pembenahan, memperkuat kolaborasi, dan meningkatkan kualitas di berbagai bidang.
“Milad ke-30 ini harus menjadi titik tolak dan momentum untuk saling bahu-membahu serta berbenah, sehingga UMBJM benar-benar menjadi markas intelektual dan peradaban Islam masa depan,” ujarnya.
Menurut Ridha, cita-cita tersebut lahir dari kesadaran bahwa tantangan pendidikan tinggi semakin kompleks. Disrupsi teknologi, persaingan global, hingga meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap kualitas lulusan menuntut perguruan tinggi untuk terus beradaptasi dan berinovasi.
“Dalam hal ini kami menyadari bahwa tantangan perguruan tinggi ke depan semakin berat. Disrupsi teknologi, persaingan global, dan tuntutan masyarakat akan kualitas lulusan merupakan realitas yang harus dihadapi dengan kesiapan, inovasi, dan komitmen yang kuat,” tegas Ridha.
Sementara dalam pemaparan laporan, Rektor UMBJM, Khudzaifah Dimyati menjelaskan bahwa perjalanan UMBJM selama 3 dasawarsa itu telah melalui perjalanan dan rintangan yang cukup panjang.
“Dalam milestonenya, di tahun 1996, universitas ini adalah akademi perawat (akper), lalu di 2003 menjadi stikes, dan pada akhirnya 2015 berdiri UM Banjarmasin. Tentu ini perjalanan yang panjang dan tidak mudah bagi kami,” bebernya.
Selanjutnya, dalam laporan perkembangannya ia turut mengungkap bahwa UMBJM telah memiliki 5 program studi baru. Pertama, prodi manajemen, kedua pgsd, ketiga komunikasi, keempat ilmu hukum, dan yang kelima adalah prodi diploma bahasa Inggris.
Berdasarkan laporannya itu, Perwakilan Gubernur Kalimantan Selatan, sekaligus Sekda Provinsi Kalimantan Selatan, Muhammad Syarifudin menyebut bahwa komitmen kemajuan tersebut telah tertanam secara nyata dalam diri UMBJM.
“Melihat perjalanan UM Banjarmasin, kita dapat melihat komitmen perguruan tinggi ini dalam membangun pendidikan. Institusi ini memiliki visi kuat, tata kelola yang baik, dan semangat untuk maju. Niscaya UM Banjarmasin mampu untuk terus mengikuti perkembangan zaman,” ucapnya.
Semangat membangun masa depan tersebut sejalan dengan pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, yang menegaskan bahwa milad tidak boleh dimaknai hanya sebagai peringatan bertambahnya usia sebuah institusi. Milad harus menjadi ruang muhasabah sekaligus momentum menyusun proyeksi masa depan dengan orientasi pada keunggulan.
“Lebih dari sekadar pengingat tahun kelahiran, mari jadikan milad ini sebagai momentum muhasabah dan, yang lebih penting, melihat proyeksi ke depan. Kata kuncinya adalah membangun keunggulan,” tutur Haedar.
Memasuki usia ke-30 tahun, UMBJM diharapkan tidak hanya terus bertumbuh dari sisi kelembagaan, tetapi juga mampu melahirkan ekosistem akademik yang unggul, inovatif, dan berkemajuan.
Dengan fondasi nilai-nilai Islam Berkemajuan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah, UMBJM diharapkan semakin mengukuhkan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, pencetak sumber daya manusia yang berintegritas, sekaligus markas intelektual yang menghadirkan solusi bagi persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta
