Jakarta, panjimas – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengajak seluruh insan pendidikan untuk mewujudkan guru sebagai agent of civilization (agen peradaban) dalam menghadapi berbagai tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII di Hotel Bidakara, Jakarta, Ahad (26/7).
Dalam pemaparannya, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupan.
Menurutnya, pencapaian tujuan tersebut membutuhkan peran strategis guru, tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembentuk karakter dan peradaban bangsa.
Ia mengungkapkan, dunia pendidikan saat ini menghadapi sedikitnya tiga tantangan utama. Pertama, learning loss atau penurunan kualitas pembelajaran sebagai dampak pandemi Covid-19 yang tercermin dari rendahnya capaian akademik peserta didik.
Kedua, learning poverty, yakni kemampuan berpikir dan belajar siswa yang belum memenuhi standar yang diharapkan.
Ketiga, schooling without learning, yaitu kondisi ketika peserta didik mengikuti pendidikan formal, tetapi tidak memperoleh hasil belajar yang optimal, antara lain akibat rendahnya motivasi belajar.
Selain itu, Abdul Mu’ti menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital yang turut membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak hanya menghadirkan peluang, tetapi juga risiko yang harus diantisipasi bersama.
Ia menjelaskan, banyak anak saat ini terpapar berbagai bentuk digital violence atau kekerasan digital, yang berdampak pada kehidupan mereka baik di ruang maya maupun di dunia nyata. Karena itu, seluruh pemangku kepentingan perlu meningkatkan perhatian terhadap perlindungan peserta didik dari dampak negatif penggunaan teknologi digital.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, dan mendukung proses pembelajaran. Ia berharap sekolah dapat menjadi lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya karakter, kreativitas, serta semangat belajar peserta didik, sehingga guru benar-benar mampu menjalankan perannya sebagai agen peradaban.
