BeritaKemendikdasmenMendikdasmenMuhammadiyah

Guru Tangguh dan Sejahtera untuk Indonesia Emas 2045

61
×

Guru Tangguh dan Sejahtera untuk Indonesia Emas 2045

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, panjimas – Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), menggelar Webinar “Semangat Kemerdekaan” bertema “Bangkit Bersama Guru Tangguh: Membangun Kesejahteraan Psikologis dan Semangat Kemerdekaan Indonesia” pada Rabu (12/8).

 

Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan bagi para guru dalam menghadapi dinamika dunia pendidikan yang semakin kompleks. Selain kompetensi pedagogis, guru dinilai membutuhkan ketangguhan psikologis (psychological resilience) dan kesejahteraan psikologis (psychological well-being) agar mampu menjalankan tugas pendidikan secara optimal.

 

Salah satu materi disampaikan Letkol Inf. Freddy A. R. Simanjuntak, Kepala Psikologi Kopassus. Ia mengajak peserta memahami perubahan dunia melalui perspektif T.U.N.A. (Turbulency, Uncertainty, Novelty, dan Ambiguity).

 

Menurutnya, dunia pendidikan saat ini berada dalam situasi yang bergerak cepat, penuh ketidakpastian, menghadirkan berbagai hal baru, serta diwarnai informasi dan situasi yang ambigu. Kondisi tersebut menuntut guru memiliki kemampuan beradaptasi, ketahanan mental, dan kematangan psikologis.

 

“Guru tidak cukup hanya dituntut untuk bertahan. Guru perlu memiliki kapasitas untuk mengendalikan diri, mempertahankan komitmen, menghadapi tantangan, dan terus bertumbuh di tengah perubahan,” ujarnya.

 

Belajar Ketangguhan dari Jenderal Soedirman

Simanjuntak mengangkat sosok Jenderal Besar Soedirman sebagai teladan ketangguhan. Perjalanan Soedirman menuju kepemimpinan nasional, menurutnya, menarik untuk direfleksikan karena berawal dari dunia pendidikan.

 

Sebelum dikenal sebagai Panglima Besar, Soedirman merupakan seorang guru yang mengajar di sekolah Muhammadiyah di Cilacap. Dari ruang pendidikan tersebut, ia tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai, membina karakter, dan menumbuhkan keberanian.

 

Ketika bangsa berada dalam situasi genting, nilai-nilai yang telah dibangun Soedirman sebagai seorang pendidik kemudian diwujudkan dalam kepemimpinan dan perjuangan. Bahkan dalam kondisi kesehatan yang berat, ia tetap menunjukkan keteguhan dalam memimpin perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

 

Keteladanan tersebut menunjukkan bahwa ketangguhan tidak lahir dari keadaan yang selalu mudah. Ketangguhan tumbuh dari kesetiaan terhadap tujuan, nilai, dan amanah yang diyakini.

 

Dari sosok Soedirman, Simanjuntak menguraikan sedikitnya tujuh nilai yang relevan untuk membangun karakter guru tangguh.

 

Pertama, patriotisme dan cinta tanah air, dengan menempatkan pengabdian kepada bangsa sebagai bagian dari panggilan hidup.

 

Kedua, keteguhan dan pantang menyerah, yakni kemampuan untuk tetap berdiri menghadapi kesulitan dan keterbatasan.

 

Ketiga, disiplin dan tanggung jawab sebagai fondasi profesionalisme dalam menjalankan amanah.

 

Keempat, kepemimpinan yang bijaksana dan rendah hati, dengan menempatkan kepentingan masyarakat dan orang yang dipimpin di atas kepentingan pribadi.

 

Kelima, religius dan tegar dalam iman, dengan menjadikan nilai spiritual sebagai sumber kekuatan ketika menghadapi tekanan dan kesulitan.

 

Keenam, semangat persatuan dan gotong royong, sebab tantangan besar tidak dapat diselesaikan secara individual.

 

Ketujuh, keberanian dan pengorbanan, yaitu kesediaan memberikan yang terbaik demi kepentingan yang lebih besar.

 

Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan kondisi guru saat ini yang menghadapi berbagai perubahan, mulai dari perkembangan teknologi, tuntutan administrasi, perubahan karakter peserta didik, hingga ekspektasi masyarakat yang semakin tinggi.

 

Karena itu, ketangguhan guru tidak cukup dibangun melalui penguatan kompetensi teknis. Diperlukan pula penguatan karakter, dukungan psikologis, budaya kerja yang sehat, dan kepemimpinan sekolah yang suportif.

 

Guru Tangguh, Guru Sejahtera

Webinar tersebut juga menegaskan bahwa ketangguhan tidak boleh dimaknai sebagai kemampuan guru untuk terus menanggung beban tanpa batas.

 

Guru yang tangguh tetap membutuhkan lingkungan kerja yang sehat, penghargaan, dukungan sosial, ruang untuk berkembang, serta keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan.

 

Dalam konteks tersebut, psychological well-being menjadi bagian penting dalam membangun guru tangguh. Kesejahteraan psikologis bukan semata-mata kondisi ketika guru terbebas dari tekanan, tetapi juga kemampuan menjalani profesi secara positif, seimbang, bermakna, produktif, dan memiliki harapan untuk terus berkembang.

 

Ketangguhan guru setidaknya bertumpu pada tiga kekuatan utama, yakni semangat pengabdian, kemampuan menghadapi tantangan, dan kesejahteraan psikologis.

 

Semangat pengabdian membuat guru tetap berorientasi pada kepentingan peserta didik dan bangsa. Ketangguhan membantu guru menghadapi kesulitan dan bangkit dari tekanan. Sementara kesejahteraan psikologis memastikan proses pengabdian berlangsung dalam kondisi mental yang sehat dan bermakna.

 

Guru Tangguh untuk Indonesia Emas 2045

Direktorat Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus menempatkan penguatan guru sebagai bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

 

Guru bukan hanya pelaksana pembelajaran, tetapi juga pembentuk karakter, penggerak perubahan, sekaligus teladan bagi generasi muda. Karena itu, membangun guru tangguh merupakan investasi strategis bagi masa depan bangsa.

 

Webinar tersebut turut menghadirkan Arif Jamali, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Ahmad Budidarma Ketua Tim Kerja Pembelajaran, Kesejahteraan, dan Penghargaan, Titis Sekti Wijayanti sebagai moderator, serta Octaviana Kemalasari sebagai pembawa acara.

 

Melalui webinar ini, ditegaskan bahwa menghadapi perubahan tidak cukup dengan menuntut guru untuk semakin kuat. Ekosistem pendidikan juga perlu hadir untuk memastikan guru merasa didukung, dihargai, memiliki makna dalam pekerjaannya, dan mempunyai ruang untuk bertumbuh.

 

Pada akhirnya, guru tangguh bukanlah guru yang tidak pernah lelah atau terbebas dari tekanan. Guru tangguh adalah mereka yang mampu menghadapi tekanan, menjaga nilai dan komitmen, bangkit ketika menghadapi kesulitan, serta tetap menemukan makna dalam pengabdiannya.

 

Keteladanan Jenderal Soedirman mengajarkan bahwa ketangguhan lahir dari kesetiaan pada tujuan. Dalam konteks pendidikan Indonesia, tujuan tersebut adalah menghadirkan generasi yang berkarakter, berpengetahuan, berdaya saing, dan memiliki semangat membangun bangsa.

 

Bersama guru tangguh, pendidikan Indonesia diharapkan semakin sehat, manusiawi, dan memerdekakan menuju Indonesia Emas 2045

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *