YOGYAKARTA, panjimas – Launching Buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar bukti pemuliaan di Muhammadiyah ke sosok alim ulama, bukan pengkultusan.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Senin (31/8) di Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Menurutnya, membangun tradisi takzim atau pemuliaan terhadap sosok tidak perlu meminjam pengertian dari luar, sebab di Muhammadiyah memang sudah diajarkan untuk memuliakan manusia, terlebih yang alim terhadap ilmu.
“Memang kita perlu menghidupkan itu. Kita memang bagus punya tradisi egaliter, tradisi demokrasi, tradisi yang serba terbuka di Muhammadiyah– penuh kesetaraan, tapi bersamaan dengan itu, kita perlu menghidupkan sikap takzim,” ungkapnya.
Tradisi egaliter, sekaligus tradisi takzim kepada para sosok alim menurutnya secara substansi telah hidup dan memang ada di Muhammadiyah. Maka keduanya harus dijaga untuk tetap ada menjadi tradisi di Muhammadiyah.
Tentang Syamsul Anwar, Haedar Nashir: Sosok Ar Rasikhuna Fil Ilmi
Sementara itu, menyinggung buku “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar, Haedar menyebut, antara judul buku dengan pribadi Syamsul Anwar tidak berseberangan.
Hemat Haedar, Prof. Syamsul merupakan sosok intelektual muslim yang derajatnya sudah sampai pada Ar-Rasikhuna fil ‘Ilmi, yakni orang-orang yang mendalam, kuat, dan mantap ilmu pengetahuannya.
“Ini memang tidak banyak, dan memang perlu terus kita bangun para kader kita termasuk yang di Tarjih, untuk menjadi mereka yang alim secara keilmuan, meningkatkan menjadi ulul albab, dan lebih puncak lagi menjadi Ar Rasikhuna fil Ilm,” harap Haedar.
Bagi Haedar, Muhammadiyah ke depan membutuhkan sosok yang fakih namun multidimensional yakni yang mampu memahami dirasah islamiyah secara integrasi-interkoneksi, atau yang dalam ilmu sosial disebut perspektivisme.
“Kita banyak sekali diberi solusi ketika Prof. Syamsul di Majelis Tarjih, maupun ketika di PP Muhammadiyah atas hal-hal pelik, yang tentu secara institusional ada di Tarjih. Tapi secara konfirmasi-konfirmasi untuk mengambil policy di PP Muhammadiyah, Prof. Syamsul itulah tempat kita bertanya dan memastikan,” ungkapnya.
Ada dua momen pelik yang menurut Haedar ditemukan solusinya “berkat Prof. Syamsul”, yakni ketika masa Covid-19 dan penggunaan secara resmi Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT).












