BeritaInternasionalMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah dan Umana Al-Aqsa Jajaki Kolaborasi untuk Rekonstruksi Gaza

28

JAKARTA, panjimas — Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menerima kunjungan delegasi Umana Al-Aqsa untuk membahas peluang kerja sama dalam mendukung Palestina, terutama pada bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, serta rekonstruksi fasilitas publik di Gaza.

Delegasi Umana Al-Aqsa yang terdiri dari Syekh Dr. Mohammed Al-Hajj dan Eymen Yildirim diterima oleh Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni bersama Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah Imam Addaruqutni.

Dalam pertemuan tersebut, Mohammed menjelaskan bahwa Umana Al-Aqsa merupakan lembaga internasional berbasis di Istanbul, Turki, yang bergerak memperkuat peran para dai dan lulusan fakultas syariah dari berbagai negara dalam membangun kepedulian terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

Kunjungannya ke Muhammadiyah sekaligus untuk menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammadiyah bersama berbagai elemen umat Islam Indonesia yang selama ini memberikan dukungan kepada masyarakat Palestina.

“Kami datang ke Muhammadiyah untuk menyampaikan apresiasi atas semua kontribusi yang telah diberikan Muhammadiyah dan juga elemen-elemen umat Islam lainnya di Indonesia dalam mendukung Palestina dan Gaza,” ujar Mohammed.

Ia berharap pertemuan tersebut dapat membuka peluang kerja sama dalam program pemberdayaan dan rekonstruksi Gaza, terutama pada sektor kesehatan, pendidikan, dakwah, dan pembangunan kembali fasilitas publik yang terdampak perang.

Perhatian khusus juga diarahkan pada program kafalah atau pemberian dukungan bagi keluarga syuhada, terutama dari kalangan khatib dan imam di Gaza dan Al-Quds.

“Kami berharap adanya kerja sama untuk mewujudkan program-program pemberdayaan, infrastruktur kesehatan, pendidikan, dan secara khusus memperhatikan kafalah bagi keluarga syuhada dari kalangan khatib dan imam di Gaza dan Al-Quds,” katanya.

 

Menurut Mohammed, kondisi Gaza membutuhkan keterlibatan lebih luas dari masyarakat internasional. Dukungan tersebut tidak hanya bersifat moral, tetapi juga material untuk membangun kembali berbagai fasilitas yang rusak akibat perang.

 

“Tentu saja rakyat Palestina, terutama Gaza, memerlukan dukungan moral dan juga material untuk membangun kembali dan melakukan rekonstruksi fasilitas umum, rumah sakit, pendidikan, serta fasilitas publik,” ungkapnya.

 

Ia meyakini Indonesia bersama negara-negara Islam lainnya dapat mengambil peran penting dalam mendorong percepatan rekonstruksi Gaza, termasuk menghidupkan kembali sektor pendidikan dan dakwah.

 

“Kami percaya Indonesia dan juga negara-negara Islam lainnya bisa membantu dan mendorong percepatan rekonstruksi di bidang dakwah dan pendidikan di Gaza,” imbuhnya.

 

Dalam kesempatan yang sama, Mohammed juga menyampaikan undangan kepada PP Muhammadiyah untuk menghadiri Konferensi Umana Al-Aqsa ke-4 yang dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turki, pada 9–10 Januari 2027.

 

Menanggapi pertemuan tersebut, Syafiq A. Mughni mengatakan Umana Al-Aqsa memiliki perhatian besar terhadap penguatan pemahaman umat Islam mengenai Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

 

Menurut Syafiq, sejumlah program telah dikembangkan lembaga tersebut, termasuk dukungan pembangunan masjid dan musala yang dibutuhkan masyarakat di tengah banyaknya tempat ibadah di Gaza yang rusak akibat perang.

 

Selain program kemanusiaan, perhatian Umana Al-Aqsa juga diarahkan pada pengembangan kajian dan literatur mengenai Masjid Al-Aqsa.

 

“Beliau melakukan kajian tentang Al-Aqsa dan melahirkan beberapa literatur tentang Masjid Al-Aqsa,” kata Syafiq.

 

Upaya tersebut, lanjut Syafiq, juga diarahkan untuk meningkatkan pemahaman para khatib, mubalig, dan penceramah di berbagai negara mengenai persoalan yang dihadapi masyarakat Palestina, termasuk persoalan Masjid Al-Aqsa.

 

Menurutnya, pemahaman mengenai Palestina tidak cukup hanya bertumpu pada perkembangan sosial dan politik kontemporer. Para khatib dan mubalig juga perlu memahami landasan normatif dalam Al-Qur’an dan Sunnah mengenai Masjid Al-Aqsa.

 

“Beliau menginginkan supaya para penceramah dan khatib memiliki kemampuan bukan saja memahami persoalan kontemporer yang sedang terjadi, tetapi juga memahami landasan normatif dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang Al-Aqsa,” ujarnya.

 

Melalui pemahaman tersebut, para ulama dan dai diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai Al-Aqsa sekaligus memperkuat dukungan umat Islam terhadap kemerdekaan Palestina.

 

Syafiq mengatakan keinginan membangun kerja sama dengan Muhammadiyah juga diarahkan pada bidang pendidikan. Sementara Konferensi Umana Al-Aqsa di Istanbul diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat komitmen para ulama, khatib, dan penceramah dari berbagai negara terhadap persoalan Palestina dan Al-Aqsa.

 

“Tujuannya adalah memperkuat komitmen para ulama, para khatib, dan para penceramah untuk menyebarkan pengetahuan tentang Al-Aqsa, baik dari sudut persoalan sosial dan politiknya maupun dari sudut normatif Al-Qur’an dan Sunnah,” kata Syafiq.

 

Muhammadiyah, lanjut Syafiq, menyambut baik upaya tersebut dan akan memberikan dukungan terhadap agenda yang bertujuan memperkuat kepedulian umat Islam terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

 

“Insyaallah kita akan hadir dalam konferensi itu. Kita harus memberi dukungan karena usaha dan perjuangan ini baik dan sangat dibutuhkan oleh umat Islam sekarang,” pungkasnya

Exit mobile version