BeritaKemendikdasmenMendikdasmenNasionalNews

Mendikdasmen Meminta Sekolah dan Masyarakat Memberikan Ruang yang Aman Bagi Anak yang Menjadi Korban Perundungan

20

Jakarta, panjimas – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti meminta sekolah dan masyarakat memberikan ruang yang aman bagi anak yang menjadi korban perundungan.

Menurutnya, korban tidak boleh kembali mendapatkan tekanan melalui stigma maupun perlakuan negatif dari lingkungan sekitarnya. Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam acara Penguatan Peran Komite Sekolah, Tenaga Pendidik, dan Tenaga Kependidikan dalam Pencegahan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme di Satuan Pendidikan, yang diselenggarakan BNPT di Grand Sahid Jaya, Rabu (2/9/2026).

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa pengalaman menjadi korban kekerasan atau perundungan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak. Sebagian korban merespons dengan menarik diri, tidak masuk sekolah, hingga memilih alternatif pendidikan seperti homeschooling atau pendidikan kesetaraan. Ia menilai pilihan ruang belajar bagi korban perundungan perlu tetap tersedia agar mereka tidak semakin tertekan.

“Anak-anak yang menjadi korban perundungan itu mendapatkan double punishment, hukuman ganda. Dia sudah menjadi korban kekerasan dan kadang-kadang juga menjadi korban dari stigmatisasi oleh masyarakat.”ucap Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti juga menyoroti anak-anak yang orang tuanya pernah terlibat dalam tindakan terorisme. Menurutnya, anak tersebut tidak boleh dianggap sebagai pelaku atau menerima stigma atas perbuatan yang dilakukan orang tuanya.

“Dia bukan pelaku, dia tidak terlibat sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, tapi seringkali teman-teman sekolahnya mem-bully mereka.”ujarnya.

Untuk mencegah anak terjerumus pada kekerasan maupun ekstremisme, Abdul Mu’ti menilai keluarga juga memiliki peran penting. Orang tua diminta membangun komunikasi yang terbuka sehingga anak memiliki tempat untuk bercerita tanpa merasa takut dihakimi atau dimarahi.

Menurutnya, sekolah juga harus menjadi lingkungan yang aman dan nyaman agar anak dapat belajar, berinteraksi, serta mengembangkan bakat dan minatnya.

“Kami berupaya untuk menjadikan sekolah yang aman dan nyaman itu sebagai budaya dan lingkungan yang memungkinkan anak-anak kita ini dapat belajar dengan sebaik-baiknya dan dapat merasakan suasana kekeluargaan di dalam lingkungan sekolah mereka.” Pungkasnya

Exit mobile version