BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Ketua PP Muhammadiyah Prof Haedar Ungkap Persoalan Keberagaman dan Perilaku Masyarakat

15

Jakarta, panjimas – Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., menyoroti persoalan keberagamaan masyarakat yang belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku kehidupan sehari-hari pada kegiatan Hari Bermuhammadiyah 13 Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).

Kegiatan tersebut berlangsung di Auditorium K.H. Ahmad Azhar Basyir, Gedung Cendekia UMJ, Sabtu (05/09/2026).

Haedar mencontohkan masih maraknya korupsi sebagai salah satu indikator persoalan tersebut. Ia juga menyinggung praktik riswah, penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan, serta gaya hidup mewah yang dapat berujung pada korupsi.

“Tuhan murka pada kita yang selalu berkata, tapi tidak konsisten dalam melaksanakannya. Mayoritas muslim, korupsi masih merajalela, bahkan menjadi masif, sistematik, dan terstruktur,” ujar Haedar.

Menurut Haedar, nilai keberagamaan seharusnya berjalan seiring dengan perilaku jujur dalam kehidupan. Ia menilai persoalan tersebut juga terlihat dalam cara seseorang memperoleh rezeki dan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya.

“Ini satu indikator paling kuat, berarti keberagamaan kita tidak berbanding lurus dengan perilaku kita untuk jujur, termasuk dalam hal mencari rezeki yang semestinya halal. Namun, ketika kecukupan yang kita raih masih ingin lebih dari itu, lalu muncul riswah, penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan, hidup mewah, dan akhirnya berujung pada korupsi,” tegasnya.

Selain persoalan perilaku, Haedar menyoroti perlunya pembaruan dalam kehidupan beragama. Menurutnya, masyarakat perlu terus memperbarui kehidupan beragama agar nilai agama tetap memiliki fungsi dalam kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan.

“Agama itu pada mulanya bercahaya, berkilau-kilauan. Tetapi lama-kelamaan redup. Bukan karena agamanya, tetapi karena umatnya, karena pemeluknya,” tutur Haedar mengutip pesan K.H. Ahmad Dahlan.

Haedar juga menilai rendahnya kesadaran ilmu menjadi tantangan bagi kemajuan masyarakat. la mengaitkan kondisi tersebut dengan rendahnya budaya membaca dan kesadaran kritis di tengah masyarakat.

“Hanya satu orang dari 1.000 orang yang suka membaca. Dampaknya kita tidak mungkin maju sebagai sebuah bangsa jika masyarakat kita masih rendah kesadaran ilmunya, kesadaran kritisnya dan lain-lain,” ungkapnya.

Di tengah berbagai persoalan tersebut, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah masih mendapat kepercayaan positif dari masyarakat. Ia menyebut hasil survei Litbang Kompas pada 2024 menunjukkan 91 persen publik menaruh kepercayaan positif kepada Muhammadiyah, sementara survei Lembaga Kebijakan Publik Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta terhadap generasi milenial dan Generasi Z menunjukkan angka sekitar 91-92 persen.

“Ketika survei ini dilakukan dan hasilnya seperti itu, maka Muhammadiyah berarti masih punya posisi yang konsisten sebagai organisasi keagamaan dan sosial kemasyarakatan yang bisa merawat, menjaga keberagaman dalam kehidupan masyarakat,” jelas Haedar.

Haedar menekankan bahwa kepercayaan tersebut perlu dijaga sekaligus diikuti dengan penguatan misi dakwah Muhammadiyah. Ia menyebut dakwah Muhammadiyah harus terus diarahkan untuk memberikan pencerahan dan kemajuan bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan.

“Dakwah yang mencerahkan, dakwah yang mencerdaskan, dakwah yang memberdayakan, dakwah yang membebaskan, dan dakwah yang memajukan kehidupan umat, bangsa dan kemanusiaan semesta,” pungkas Haedar.

Hari Bermuhammadiyah 13 turut dihadiri Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah sekaligus Ketua BPH UMJ Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., Kepala Staf Kepresidenan Republik Indonesia Jenderal (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M., serta influencer dan Pendiri Maskanul Huffaz Hj. Oki Setiana Dewi, S.Hum., M.Pd.

Exit mobile version