MANGGARAI TIMUR, panjimas — Pasca-gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026, Muhammadiyah bergerak cepat memobilisasi sumber daya melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dari berbagai daerah.
Penghimpunan dana juga didukung oleh Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah nomor 18/EDR/I.0/H/2026 yang menginstruksikan penggalangan Infak Salat Jumat di seluruh masjid Muhammadiyah pada 21 Agustus 2026. Hingga 3 September 2026, LAZISMU mencatat total dana terhimpun mencapai Rp 6.099.163.820. Dari jumlah tersebut, sebanyak Rp 3.455.958.814 telah disalurkan untuk mendukung aksi dan layanan kemanusiaan di lokasi bencana.
Direktur Utama LAZISMU, Barry Adhitya, menyampaikan pada Jumat (4/9) bahwa penyaluran donasi akan terus berlanjut hingga tahap rehabilitasi, rekonstruksi, dan pemulihan ketangguhan masyarakat.
Dalam merespons dampak gempa, Muhammadiyah menerjunkan tim kesehatan berstandar WHO bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI selama 30 hari, terhitung sejak 17 Agustus 2026. Penanganan medis dibagi menjadi dua skema utama:
Emergency Medical Team (EMT) Type-1 Fixed: Terdiri dari 50 personel yang bertugas mendirikan dan mengoperasikan Rumah Sakit Lapangan di Puskesmas Dampek, Manggarai Timur, yang mengalami kerusakan parah.
EMT Mobile: Bergerak menyisir titik-titik pengungsian terisolasi yang sulit dijangkau, dengan tenaga medis yang didatangkan dari berbagai Rumah Sakit Muhammadiyah-‘Aisyiyah se-Indonesia.
Hingga 3 September 2026, tim medis EMT tercatat telah menangani ribuan penyintas dengan rincian: 85 bayi, 229 balita, 266 anak-anak, 150 remaja, 2.173 dewasa, 22 ibu hamil, dan 799 lansia. Berdasarkan data pemeriksaan medis, kasus kesehatan tertinggi yang dialami warga terdampak mencakup infeksi saluran pernapasan (437 pasien), nyeri otot dan pegal-pegal (372 pasien), hipertensi (233 pasien), gangguan pencernaan/nyeri perut (186 pasien), serta sakit kepala dan nyeri leher (153 pasien).













