BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Ingatkan Pentingnya Merawat dan Memperkuat Iman dalam Hadapi Tantangan Zaman

11

JAKARTA, panjimas — Menjadi muslim merupakan permulaan dari perjalanan panjang menuju iman. Keislaman tidak cukup berhenti pada identitas dan pelaksanaan ibadah secara lahiriah, tetapi perlu tumbuh menjadi keyakinan yang dihayati dan tercermin dalam kehidupan.

 

Pesan itu disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhadjir Effendy pada Sabtu (5/9) ketika menyampaikan ceramah dalam Hari Bermuhammadiyah (HBM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta

 

Di hadapan peserta, Muhadjir mengajak warga Muhammadiyah memeriksa kembali kualitas keberagamaannya. Seseorang mungkin telah rajin melaksanakan salat, tetapi belum tentu memahami dan menghayati setiap permohonan yang diucapkannya di hadapan Allah Swt.

 

“Maka, kita ini jangan-jangan belum beriman, baru Islam saja. Rajin salat, tetapi menghayati ihdinash-shirathal mustaqim juga belum,” ujarnya.

 

Muhadjir kemudian merujuk Surah Al-Hujurat ayat 14. Ayat tersebut mengisahkan orang-orang Arab Badui yang mengaku telah beriman, lalu ditegaskan bahwa mereka baru berserah diri karena iman belum masuk ke dalam hati.

 

Menurutnya, Islam lebih dahulu hadir sebagai bentuk ketundukan secara lahiriah. Dari sana, seorang muslim harus terus bertumbuh hingga mencapai kedalaman iman.

 

“Maka, dalam Al-Qur’an itu Islam lebih dulu daripada iman, sebagaimana dalam Surah Al-Hujurat ayat 14,” katanya.

 

Perjalanan menuju iman bukan proses yang selesai dalam satu waktu. Iman dapat mengalami perubahan sehingga harus terus dirawat, diperkuat, dan diuji dalam menghadapi perkembangan zaman.

 

“Sampai nanti ke puncaknya iman. Iman itu berubah dari waktu ke waktu,” tutur Muhadjir.

 

Jika dahulu tantangan iman hadir dalam bentuk yang sederhana, manusia modern berhadapan dengan persoalan yang lebih kompleks. Perkembangan kecerdasan buatan, bioteknologi, dan rekayasa tubuh memungkinkan manusia melakukan berbagai hal yang sebelumnya dianggap mustahil.

 

Untuk menggambarkan perubahan tersebut, Muhadjir mengutip pemikiran Yuval Noah Harari dalam buku Homo Deus. Harari memandang bahwa manusia sedang bergerak melampaui fase Homo sapiens, yakni manusia yang memiliki kemampuan berpikir, menuju Homo deus yang berambisi menyerupai Tuhan.

 

“Sekarang ini tantangan iman apa yang dihadapi? Yaitu perubahan manusia. Kata Yuval Noah Harari yang sering saya kutip, manusia sekarang ini bukan lagi Homo sapiens, bukan hanya orang yang berpikir kognitif, tetapi sudah Homo deus, yaitu makhluk yang menyamai Tuhan,” ungkapnya.

 

Dalam gagasan tersebut, manusia modern memiliki tiga ambisi besar, yaitu menaklukkan kematian, menciptakan kebahagiaan, dan mengambil alih wilayah yang sebelumnya dipandang sebagai urusan Tuhan.

 

Ambisi menaklukkan kematian terlihat dari kemajuan dunia medis, kecerdasan buatan, dan bioteknologi. Manusia terus mengembangkan obat, organ buatan, serta teknologi yang dapat memperpanjang usia dan mengatasi keterbatasan tubuh.

 

Menurut Muhadjir, pandangan manusia terhadap kematian pun mulai berubah. Kematian tidak lagi semata-mata dipahami sebagai ketentuan Tuhan, tetapi dianggap sebagai persoalan teknis yang suatu saat dapat diperbaiki.

 

“Jadi, menurut dia, kematian itu bukan takdir, hanya kesalahan teknis saja. Jadi seperti komputer yang mengalami bug. Apa yang dijadikan kunci agar manusia tidak mati? Yaitu AI, ilmu bioteknologi, dan cyborg,” ujarnya.

 

Ambisi berikutnya adalah menciptakan kebahagiaan. Manusia beragama meyakini bahwa kebahagiaan dapat diperoleh melalui kehidupan yang baik dan kedekatan kepada Tuhan. Namun, gagasan Homo deus menawarkan kemungkinan bahwa kebahagiaan dapat diproduksi sendiri, termasuk melalui penggunaan obat-obatan.

 

“Kita ini selalu yakin betul kalau beragama dengan baik akan mendapatkan kebahagiaan. Manusia Homo deus melawan itu. Kebahagiaan tidak harus dari Tuhan, kita bisa menciptakannya, salah satunya dengan obat-obatan,” jelasnya.

 

Kemajuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan iman tidak lagi hanya datang dari keraguan terhadap ajaran agama. Tantangan juga muncul ketika manusia merasa mampu mengendalikan kehidupan, menciptakan kebahagiaan, dan mengatasi kematian dengan kekuatannya sendiri.

 

Karena itu, perkembangan ilmu pengetahuan perlu disertai fondasi iman yang kokoh. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu kehidupan, tetapi tidak boleh membuat manusia kehilangan kesadaran mengenai kedudukannya sebagai makhluk.

 

Di tengah perubahan tersebut, Muhadjir mengajak warga Persyarikatan menjadikan Muhammadiyah sebagai jalan pengabdian sekaligus ruang untuk merawat iman.

 

“Yang terakhir, marilah kita terus bermuhammadiyah dengan semaksimal mungkin. Insyaallah, Muhammadiyah adalah pilihan terbaik untuk kita berbakti kepada Allah Swt.,” pungkasnya

Exit mobile version