BeritaMuhammadiyahNasionalNews

OSDI UMY 2026: Nilai Islam Berkemajuan Jadi Fondasi Kampus Aman

62

Jakarta, panjimas – Nilai-nilai Islam Berkemajuan dinilai menjadi fondasi penting dalam mewujudkan ruang aman dan berkeadaban di lingkungan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ruang aman bukan hanya dimaknai sebagai lingkungan yang bebas dari kekerasan. Namun, juga ruang yang memungkinkan mahasiswa berkembang dan mengekspresikan diri dalam bingkai nilai keislaman.

 

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Arif Jamali Muis, S.Pd., M.Pd., dalam kegiatan Orientasi Studi Dasar Islam (OSDI) UMY pada Selasa (8/9) di Sportorium UMY.

 

Arif, yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, menyampaikan materi bertajuk “Spirit Islam Berkemajuan dalam Gerakan Muhammadiyah untuk Mewujudkan Ruang Aman yang Berkeadaban” di hadapan ribuan mahasiswa baru.

 

Kehadiran mahasiswa baru dari beragam latar belakang organisasi dan pemahaman keagamaan menjadikan OSDI sebagai salah satu pintu awal untuk mengenalkan nilai-nilai yang menaungi kehidupan akademik di UMY.

 

OSDI merupakan program orientasi keislaman dan kemuhammadiyahan yang wajib diikuti seluruh mahasiswa baru UMY setiap tahun akademik. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diperkenalkan dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang menjadi bagian dari proses pendidikan di UMY.

 

Kerangka AIK dalam Kehidupan Kampus Muhammadiyah

Arif menyebut kampus sebagai ruang ekspresi yang menuntut mahasiswa untuk lebih mandiri. Kondisi tersebut berbeda dengan masa sekolah menengah ketika proses belajar dan kehidupan peserta didik masih berada dalam pengawasan yang relatif ketat.

 

Menurutnya, pada masa peralihan itulah mahasiswa membutuhkan kerangka nilai keislaman. Kebebasan dan kemandirian yang diperoleh selama berkuliah perlu disertai tanggung jawab agar tidak mengarah pada perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

 

Ia menjelaskan bahwa Muhammadiyah menawarkan pemahaman keislaman yang tidak terjebak pada dua kutub ekstrem, yakni penafsiran agama yang kaku di satu sisi dan kebebasan tanpa batas di sisi lain.

 

“Islam yang dipahami Muhammadiyah adalah Islam yang _rahmatan lil ‘alamin_. Tidak mungkin juga di sini akan kekiri-kirian, alias semua boleh, termasuk pergaulan bebas, cara berpikir, bahkan tidak bertuhan. Itu tidak mungkin karena dibingkai oleh Al-Islam dan Kemuhammadiyahan,” ujar Arif.

 

Ia menjelaskan bahwa kerangka tersebut diwujudkan secara konkret melalui kurikulum Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Kurikulum ini diberikan kepada mahasiswa dari seluruh program studi, mulai dari hukum, kedokteran, teknik, hingga ekonomi.

 

Baca juga: BPH UMY Ajak Mahasiswa Baru Jadi Pejuang Peradaban Unggul

 

AIK tidak hanya menjadi pelengkap kompetensi akademik dan keterampilan teknis yang dipelajari mahasiswa di setiap program studi, tetapi juga menjadi landasan nilai dalam menggunakan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.

 

Selain melalui kurikulum, menurut Arif, kerangka nilai tersebut dapat diperkuat melalui keterlibatan mahasiswa dalam organisasi, salah satunya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Organisasi itulah yang juga dipilih Arif ketika menempuh pendidikan tinggi.

 

Menurutnya, IMM berada dalam kerangka besar gerakan dan pemahaman keagamaan Muhammadiyah. Dengan demikian, proses pembentukan cara pandang dan perilaku anggotanya tetap berpijak pada nilai-nilai yang sama.

 

“Ruang aman yang menaungi aktivitas mahasiswa UMY ini terjamin karena terdapat kerangka besar yang melindungi dan membingkainya, yaitu cara Muhammadiyah dalam memahami Islam,” imbuhnya.

 

Tiga Pegangan bagi Mahasiswa Baru

Arif turut menyinggung derasnya arus informasi pada era digital sebagai tantangan yang perlu dihadapi mahasiswa baru. Generasi muda saat ini dapat dengan mudah terpapar berbagai informasi, pendapat, dan saran yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

 

Oleh karena itu, mahasiswa membutuhkan kemampuan berpikir kritis sekaligus nilai keagamaan sebagai penyaring dan pedoman dalam menyikapi informasi yang diterima.

 

Arif kemudian mendorong mahasiswa baru untuk memegang tiga hal selama menjalani perkuliahan. Pertama, tetap menjadi seorang intelektual dengan terus belajar dan mengasah daya nalar kritis.

 

Kedua, mahasiswa didorong untuk menjadi aktivis dengan terlibat dalam organisasi. Pengalaman berorganisasi dapat menjadi sarana untuk melatih kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan memimpin.

 

Ketiga, mahasiswa perlu menjaga kedekatan spiritual kepada Tuhan sebagai penyeimbang dalam menghadapi dinamika kehidupan yang tidak selalu berjalan linier.

 

“Anda sudah ditakdirkan masuk UMY dan itu menjadi bagian dari kehidupan Anda. Menurut saya, hal tersebut merupakan keberuntungan. Sekarang, tinggal bagaimana Anda memanfaatkan momentum tersebut,” pungkas Arif

Exit mobile version