BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Hilman Latief : Muhammadiyah Harus Bangun Mentalitas untuk Perkuat Kemandirian Ekonomi Syariah

9

JAKARTA, panjimas – Betulkah Muhammadiyah pandai berekonomi? Pertanyaan Hilman Latief ini menjadi sangat relevan untuk direnungkan. Apabila melihat secara kasatmata, Muhammadiyah telah unggul dalam pelayanan pendidikan dan kesehatan.

 

“Tapi bidang ekonomi? Ini harus kita buktikan,” tegas Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah tersebut, Jumat (25/9) saat Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Ruang KH Ahmad Dahlan Gedung Dakwah Muhammadiyah, Menteng Raya, Kota Jakarta Pusat.

 

Hilman menyebut, banyak mitra yang berdatangan ke Muhammadiyah untuk berkolaborasi menjalankan bisnis ekonomi. Tapi, di dataran permukaan menunjukkan hal berlainan. “Nampaknya kita belum siap,” ucapnya. Kenapa? “Mentalnya,” sambungnya.

 

Menurutnya, mental memainkan peran utama untuk membuktikan konteks yang dikemukakan di situ. “Kalau mental belum terbangun, ya kita tidak bisa,” tuturnya. Di samping itu, perlunya penguasaan ilmu pengetahuan, khususnya dalam memahami dan menjalankan ekonomi.

 

“Pemeonya adalah cari ilmu sampai ke negeri China,” ujar Hilman. Mengapa China? Negeri Tirai Bambu itu disebut Hilman sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di dunia, setelah New York, London, dan Hongkong.

 

“Mencari ilmu bisnis, ilmu usaha dari orang sana itu penting,” tekannya.

 

Penguatan Industri Keuangan Syariah dan Industri Halal

 

Bersamaan dengan itu, Hilman menggarisbawahi konteks umat yang menempel satu rangkaian setelah kata ekonomi. Kata umat di situ diterjemahkan Hilman sebagai warga Persyarikatan.

 

“Jadi kadang-kadang ketika kita berdiskusi berbicara umat itu orang lain yang jauh. Tetapi justru yang harus kita pikirkan yang disekitar kita,” bebernya.

 

Hilman berharap, di lingkungan Muhammadiyah sendiri ada gerakan kolektif menjalankan ekonomi. “Punya tata kelola yang baik, punya prospek bisnis yang baik,” sambungnya.

 

Bersamaan dengan itu, Hilman menyoroti keterlibatan di dalam ekosistem industri dan keuangan syariah maupun industri halal, tampak belum kelihatan di permukaan.

 

“Financial institution kita masih belum begitu kuat,” sebutnya. Padahal, satu sisi, Muhammadiyah sendiri punya resouce yang kuat di bidang tersebut.

 

“Mudah-mudahan ini juga menjadi pelajaran buat kita, bagaimana ormas besar ini menjadi instrumen penting dalam menopang industri keuangan syariah maupun industri halal,” ujarnya.

 

Pengajian yang mengusung tema “Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat” ini menghadirkan narasumber Toni Firmansyah, Ketua Lembaga Pengembang Usaha Mikro Kecil Menengah PP Muhammadiyah dan Euis Amalia, Prof Nur Arif Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

 

Exit mobile version