Jakarta, panjimas – Dalam rangka peringatan Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober hari ini, Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan menyampaikan pesannya terkait keberadaan peran pesantren dan berbagai persoalan yang mungkin timbul dalam pengelolaan pesantren yang ada di Indonesia.
Pertama, menurut Sekjen MUI itu mengatakan secara de facto sejak awal pesantren di dirikan sebelum Indonesia itu merdeka. Para ulama lahir dari rahim pesantren dan terbukti menjadi pembela negara.
Kedua, Buya Amirsyah juga mengatakan bahwa perjuangan para santri tidak berhenti sebagai pelopor dan pejuang kemerdekaan tetapi ikut dalam mengisi kemerdekaan dengan aktif membangun Indonesia di segala bidang bersama komponen masyarakat Indonesia lainnya secara bersama-sama.
Ketiga, kedepan tugas para pemangku kepentingan seperti pengelola pesantren semakin berat ditengah disrupsi yakni perubahan mendasar yang mengubah total tatanan, sistem, atau model bisnis lama dengan cara yang radikal dan sering kali terjadi secara mendadak.
Fenomena ini umumnya menurut Sekjen MUI Buya Amirsyah Tambunan dipicu oleh inovasi teknologi, seperti kecerdasan buatan yang menggeser kebiasaan.
“Oleh karena itu semua pihak harus bersinergi mengantisipasi agar pesantren tetap menjadi rujukan dalam membangun pradaban kata para ulama “al-adabu fauqol ‘ilmi” (الأدب فوق العلم) adab lebih tinggi (atau lebih utama) daripada ilmu,” pungkasnya.
