BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Perkenalkan Islam Di Hadapan Ulama Dunia Berkemajuan dan Kiprah ‘Aisyiyah

29
×

Muhammadiyah Perkenalkan Islam Di Hadapan Ulama Dunia Berkemajuan dan Kiprah ‘Aisyiyah

Sebarkan artikel ini

ISTANBUL, panjimas — Muhammadiyah memperkenalkan gagasan Islam Berkemajuan dan pengalaman lebih dari satu abad amal usahanya dalam Konferensi Ulama Internasional Wahdat al-Ummah al-Wasath: min al-Tsawabit ila Mitsaq al-Wahdah (Persatuan Umat Moderat: dari Prinsip-Prinsip Pokok menuju Piagam Persatuan) di Istanbul, 28–30 Oktober 2026.

 

Persatuan Ulama Muslim Internasional (al-Ittihad al-‘Alami li ‘Ulama’ al-Muslimin) bersama Yayasan Ulama Islam (İslam Âlimleri Vakfı) Turki menyelenggarakan konferensi ini dengan menghadirkan ulama, mufti, pimpinan organisasi Islam, dan akademisi dari Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Australia.

 

Utusan resmi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah sekaligus Direktur Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM), mempresentasikan makalah berjudul al-Islam Din al-Taqaddum Munthalaqan li al-Wahdah (Islam sebagai Agama Kemajuan, Titik Tolak Persatuan Umat) dalam sidang ilmiah ketiga, Kamis (29/10).

 

Syekh Salim Saqaf al-Jifri memimpin sidang ini. Rofiq tampil bersama Mufti Munib-ur-Rahman dari Pakistan, Syekh al-Ghali Khalil Umar al-Tijani dari Chad, Duta Besar Ali bin Hasan al-Hammadi, dan Prof. Dr. Isham al-Bashir dari Sudan.

 

Rofiq menegaskan bahwa persatuan umat lahir dari kerja nyata yang terlembaga. Menurutnya, umat Islam dapat bersatu bila memiliki tujuan bersama dan bekerja bersama untuk mencapainya, sambil tetap menghargai perbedaan pendapat. Tujuan bersama itu adalah hayatan thayyibah, kehidupan yang baik yang Allah janjikan, melalui kemajuan di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

 

“Allah menjadikan umat ini umat pertengahan agar menjadi saksi (teladan) atas umat manusia. Umat yang masih bergantung kepada bangsa lain dalam ilmu, obat-obatan, dan pangan tentu sulit menjadi saksi atas mereka. Karena itu, sikap moderat harus berjalan seiring dengan kemajuan,” katanya.

 

Rofiq lalu menjelaskan lima karakter Islam Berkemajuan sebagaimana Muktamar ke-48 Muhammadiyah merumuskannya: berlandaskan tauhid, bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah, menghidupkan ijtihad dan tajdid, mengembangkan wasathiyah, dan mewujudkan rahmat bagi semesta alam.

 

Ia juga menjelaskan perbedaannya dengan paham kemajuan di Barat. Paham kemajuan Barat umumnya tumbuh dengan memisahkan diri dari agama dan mengukur kemajuan dari produksi dan konsumsi, dan kaum penjajah pernah memakainya untuk membenarkan penjajahan.

 

“Dalam Islam, kemajuan berpijak pada tauhid, berpedoman pada wahyu, dan bertujuan meraih kebaikan dunia dan akhirat. Istilahnya boleh sama, tetapi isinya berbeda,” tegasnya.

 

Rofiq juga memperkenalkan KH Ahmad Dahlan, murid Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi di Makkah. Ketika para penentangnya merobohkan langgarnya karena ia mengoreksi arah kiblat, Kiai Dahlan bersabar dan tidak mengafirkan siapa pun. Ia menyatukan ilmu agama dan ilmu umum dalam satu sekolah pada 1911, mendirikan Muhammadiyah pada 1912, dan mengajarkan Surah al-Ma‘un sampai murid-muridnya turun memberi makan anak yatim dan orang miskin.

 

Menurut Rofiq, amal usaha Muhammadiyah bertahan karena kepemilikan kolektif berbasis wakaf, tata kelola dengan pergantian kepemimpinan yang teratur, dan manhaj tarjih yang terbuka terhadap semua mazhab. Kini Muhammadiyah mengelola sekitar enam ribu sekolah, 440 pesantren, 172 perguruan tinggi, dan lebih dari 120 rumah sakit, serta pernah mendirikan rumah sakit lapangan di Turki selatan bersama Pemerintah Indonesia saat gempa 2023.

 

Presentasi itu memberi tempat khusus bagi ‘Aisyiyah. Nyai Siti Walidah, istri KH Ahmad Dahlan, mendirikan ‘Aisyiyah pada 1917 dan menamainya dengan nama Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. ‘Aisyiyah membuka majelis ilmu bagi perempuan, mendirikan taman kanak-kanak sejak 1919, dan ikut menggerakkan Kongres Perempuan Indonesia pertama pada 1928. Kini ‘Aisyiyah mengelola lebih dari dua puluh ribu lembaga pendidikan anak usia dini, lebih dari sepuluh perguruan tinggi, serta layanan kesehatan ibu dan anak.

 

“Al-Qur’an menjanjikan kehidupan yang baik bagi laki-laki dan perempuan. Dalam pengalaman Muhammadiyah, perempuan Muslim mengajar, merawat, dan memimpin lembaga. Umat yang menyia-nyiakan separuh kekuatannya akan sulit maju,” tutur Rofiq.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *