Panjimas – Sore itu di teras rumah Bu Ijo, sekat-sekat sosiologis luruh bersama gelak tawa warga RW 002 Desa Pabuaran. Suara deru motor warga yang baru pulang membelah jalanan Gunung Sindur sayup-sayup terdengar. Tidak ada pagar beton tinggi disini, warga dari berbagai latar belakang duduk berdampingan, mengobrol santai menimpali satu sama lain.
Perdebatan soal teologi tak terdengar, apalagi membahas rumitnya dogma agama. Obrolan mereka murni berputar pada fluktuasi harga sayur di pasar, anak yang rewel di rumah, hingga rasa penat merayapi kemacetan sehari-hari.
Sosiolog Emile Durkheim pernah merumuskan bahwa kohesi sosial lahir dari solidaritas komunal di akar rumput, bukan semata karena paksaan hukum negara. Udara sore Pabuaran seolah mengamini teori tersebut. Keharmonisan itu terkonfirmasi mengalir organik dari denyut keseharian warga.
Ahmad Baijuri, tokoh Muslim setempat, menceritakan bahwa kerukunan ini terjadi secara alami sejak awal ia tinggal di sana, tanpa perlu ada kegiatan yang secara khusus direkayasa untuk menyatukan warga.
“ini terjadi setahu saya alami begitu saja. Dari awal kami di sini, semua mengalir, tidak pernah ada kegiatan khusus yang menghususkan untuk menyatukan, tapi dengan sendirinya,” ungkapnya saat ditemui oleh Tim Humas dan ANTARA, Jum’at (30/10/2026).
Rasa saling percaya ini begitu tebal, hingga umat agama lain memberikan kebebasan dan penghormatan penuh saat umat Muslim beribadah, bahkan ketika tradisi membangunkan sahur memecah keheningan malam di bulan Ramadan atau saat umat lain berbagi takjil buka puasa.
Insting bertetangga itu rupanya bukan kebetulan sesaat, melainkan benih yang disemai sejak warga masih kanak-kanak. Kedekatan antarwarga bukanlah hasil dari rentetan penyuluhan, melainkan warisan pengasuhan.
“Saya dari kecil diajak orang tua saya, dihubungkan, silahturrahmi, ke umat-umat beda agama. Jadi pada sering mengenal, sering dekat.” kenang Chandra, Tokoh Agama Khonghucu mengingat didikan masa lalu.
Bukti fisik dari warisan ini terpantul dari tata letak ruang desa, di mana rumah ibadah seperti kelenteng, masjid, dan gereja berdiri saling berdekatan. Kedekatan fisik ini seolah menjadi simbol persatuan warga yang tetap kokoh di tengah kemajemukan.
Jarak antar-rumah ibadah yang hanya sepelemparan batu itu pada akhirnya melahirkan bahasa kasih yang sangat praktis. Tokoh Kristen setempat, Herman, menegaskan bahwa wujud nyata dari warisan hidup harmonis ini tidak selalu muluk-muluk, melainkan membumi lewat kerja-kerja komunal.
Belum lama ini, umat gereja menginisiasi program penghijauan di area pemakaman umum desa. “Kita melakukan yang namanya bakti sosial, menanam pohon berbuah. Ini yang menjadi harapan adalah supaya kita terus saling bahu-membahu membangun kerukunan desa kita,” cerita Herman antusias.
Aksi menanam bibit pohon buah di sela-sela nisan ini adalah metafora yang hidup, mereka sedang menanam bibit kerukunan. Kelak, buah manis dari pohon-pohon itu bisa dipetik dan dinikmati oleh siapa saja tanpa memandang agama, persis seperti manisnya hidup bertetangga secara harmonis yang mereka panen hari ini.
Menariknya, keintiman sosial yang saling melengkapi ini sama sekali tidak menggerus batas-batas keimanan. Pabuaran memberi pelajaran mahal bahwa rukun tidak berarti harus mengaburkan akidah. “Kami menjaga akidah kami masing-masing, kita menghormati keyakinan agama dan mendukung selama itu bisa saling menghormati dan saling menghargai,” tegas Baijuri.
Harmoni ini terekam jelas dalam momen-momen krusial, baik suka maupun duka. Ketika umat Kristiani merayakan Natal, Herman bercerita bahwa para pemuda Muslim berinisiatif sendiri turut membantu menjaga keamanan. Sebaliknya, saat ada warga Tionghoa yang berpulang, umat Muslim akan datang bertakziah murni untuk menemani dan menguatkan keluarga yang berduka.
Sikap saling menghargai di tengah masyarakat ini didukung oleh ruang musyawarah desa yang memberikan hak suara setara bagi siapa saja. “Mereka menjelaskan, mengaspirasikan, apa saja yang dibutuhkan atau diperlukan atau kendala atau apapun itu, dicurahkan dalam musyawarah. Kami fasilitasi, kami cari solusi untuk kami selesaikan bersama,” papar Azis, Ketua LKUB Desa Pabuaran. Jika ada potensi gesekan sekecil apa pun, para tokoh masyarakat akan langsung merembukkannya.
Realitas sosiologis yang mengakar kuat inilah yang pada akhirnya menjadi jawaban atas keunikan Desa Pabuaran. Ahmad Fatoni, Penyuluh Agama Islam dari KUA Kecamatan Gunung Sindur, bersaksi bahwa kerukunan di wilayah ini hidup murni dari inisiatif warga.
“Pabuaran memiliki keunikan tersendiri, kerukunan tersebut tercipta dari bawah ke atas akan mudah daripada atas ke bawah,” tegas Fatoni.
Sebagai penyuluh, ia menyadari penuh bahwa pendekatan instan yang dipaksakan dari atas akan berujung buntu. Fakta bahwa nenek moyang di Pabuaran sudah hidup guyub jauh sebelum kemerdekaan membuat tugas pemerintah kini bergeser; dari yang tadinya harus mengajari toleransi dari nol, kini menjadi sekadar merawat kesadaran warga dari provokasi egoisme dan serbuan hoaks.
Secara makro, Kementerian Agama mencatat capaian positif Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) yang menguat di angka 77,89 persen. Capaian strategis ini rupanya tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang dan dihidupkan secara organik oleh denyut kehidupan masyarakat di tingkat bawah.
Warga yang bercengkerama di teras Bu Ijo mungkin tidak hafal dengan berbagai indikator maupun jargon Moderasi Beragama. Namun, tanpa disadari, keseharian merekalah yang menjadi tulang punggung dari capaian tersebut. Bagi mereka, merawat kerukunan bangsa tidak melulu soal menjalankan program, melainkan sesederhana memastikan tetangga sebelah rumah tidak kelaparan dan bisa tidur nyenyak malam ini.
Matahari makin condong ke barat di langit Gunung Sindur. Gelak tawa di teras Bu Ijo perlahan mulai menghening. Obrolan yang hangat itu pun mereda, berganti dengan suara azan Magrib yang mengalun meneduhkan. Warga saling melempar senyum dan pamit untuk kembali ke rumah serta keyakinannya masing-masing.
Di Pabuaran, toleransi tidak pernah butuh panggung pidato maupun spanduk sosialisasi. Ia hidup dan bernapas lewat pagar rumah yang rendah, secangkir kopi hitam, dan rasa saling percaya yang tak pernah putus.











