KemendikdasmenMendikdasmenNasionalNews

Mendikdasmen : Jabatan Boleh Berubah, tetapi Rasa Hormat kepada Guru Tidak Boleh Hilang

23
×

Mendikdasmen : Jabatan Boleh Berubah, tetapi Rasa Hormat kepada Guru Tidak Boleh Hilang

Sebarkan artikel ini

Panjimas – Ada pelajaran penting dari pertemuan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti dengan dua mantan gurunya di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kudus.

Di tengah jabatan dan tanggung jawab besar yang diembannya saat ini, Abdul Mu’ti tetap menempatkan dirinya sebagai seorang murid di hadapan guru-guru yang pernah mendidiknya.

Sikap ini menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang tidak seharusnya membuatnya melupakan orang-orang yang berperan dalam perjalanan hidupnya. Dua guru yang kembali ditemuinya, Lilik Puspita dan Firdaus, memiliki kenangan tentang sosok Abdul Mu’ti ketika masih menjadi siswa. Firdaus mengingatnya sebagai murid yang tekun belajar dan gemar membaca.

Bahkan, sejak sekolah, Abdul Mu’ti sudah memiliki kebiasaan membeli buku berbahasa Inggris untuk menambah pengetahuan. Sementara itu, Lilik mengenangnya sebagai siswa yang memiliki kemampuan akademik baik, tetapi tidak suka menonjolkan diri di hadapan teman-temannya.

Dari dua kenangan tersebut, ada nilai pendidikan yang layak diperhatikan. Kemampuan akademik memang penting, tetapi kebiasaan belajar dan kerendahan hati juga merupakan bagian dari karakter yang perlu dibangun sejak bangku sekolah.

Murid yang cerdas tidak harus selalu menunjukkan keunggulannya. Murid yang memiliki pengetahuan luas juga harus tetap mampu menghargai orang lain. Inilah karakter yang seharusnya menjadi bagian dari tujuan pendidikan.

Kegemaran membaca yang dimiliki Abdul Mu’ti sejak sekolah juga memberikan pelajaran tersendiri. Minat belajar tidak muncul begitu saja ketika seseorang memasuki dunia kerja atau menduduki jabatan tertentu.

Kebiasaan itu perlu dibangun sejak dini melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan keteladanan guru. Ketika membaca menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari, proses belajar tidak lagi bergantung pada tugas atau kewajiban sekolah. Anak akan terdorong mencari pengetahuan karena memiliki rasa ingin tahu.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah sikap Abdul Mu’ti yang tetap menjaga hubungan dengan guru-gurunya. Jabatan sebagai menteri tidak membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang-orang yang pernah membimbingnya. Sikap seperti ini perlu menjadi contoh bagi para murid bahwa menghormati guru bukan hanya kewajiban ketika masih berada di sekolah.

Rasa hormat tersebut seharusnya tetap terjaga ketika seseorang telah dewasa, berhasil, dan memiliki kedudukan. Bagi dunia pendidikan, kisah ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan seorang guru tidak selalu terlihat dari prestasi akademik murid saat masih berada di sekolah.

Ada hasil pendidikan yang baru terlihat setelah bertahun-tahun kemudian, ketika seorang murid tumbuh menjadi pribadi yang memiliki pengetahuan, karakter, dan sikap menghargai orang lain. Karena itu, tugas guru tidak sebatas menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membangun kebiasaan dan menanamkan nilai kehidupan.

Pertemuan Abdul Mu’ti dengan dua mantan gurunya menjadi pengingat bahwa pendidikan memiliki hubungan yang panjang antara guru dan murid. Ilmu yang diberikan mungkin terus berkembang, jabatan seseorang bisa berubah, dan pencapaian hidup bisa semakin tinggi. Namun, rasa hormat kepada guru seharusnya tidak ikut berubah.

Sebab, salah satu tanda keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika seorang murid mencapai posisi tinggi, melainkan ketika ia tetap memiliki kerendahan hati untuk mengakui jasa orang-orang yang pernah mendidiknya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *