News

Religion As A Factor Of Sustainable World Development

31
×

Religion As A Factor Of Sustainable World Development

Sebarkan artikel ini

Oleh: Dr. H. Anwar Abbas, M.M., M.Ag.
(Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI)

  1. Pembangunan yang dilaksanakan selama ini, terlihat lebih banyak ditujukan untuk mengejar terciptanya keuntungan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan kurang memperhatikan masalah pemerataan dan lingkungan. Akibatnya, pertama, yang kaya bertambah kaya dan yang miskin keadaan ekonominya naik sedikit bahkan ada yang semakin terpuruk. Kedua, lingkungan menjadi rusak dan tercemar, sehingga keseimbangan alam pun terjadi gangguan. Hal itu terlihat sekali dari terjadinya fenomena global warming yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
  2. Menyadari hal-hal tersebut, maka dunia pun mulai mengkritisi perilaku manusia dalam dunia ekonomi dan bisnis, kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat dan lingkungan hidup. Sehingga lahirlah sebuah konsep baru yang dikenal dengan sustainable development goals (SDGs), yaitu sebuah proses pembangunan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan manusia saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. SDGs ini berusaha menyeimbangkan tiga aspek, yaitu aspek ekonomi, sosial dan lingkungan bagi mencapai kemajuan yang dapat dinikmati dalam jangka panjang. Tujuan dari SDGs ini secara substansial adalah bagaimana kita bisa menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan hidup demi kesejahteraan manusia di masa kini dan masa depan.
  3. Konsep SDGs ini terkait erat dengan John Elkington dari Inggris yang pada tahun 1990an memperkenalkan konsep the Triple Bottom Line (TBL), yang dikenal dengan 3P-nya: Profit (Laba), People (Manusia), dan Planet (Bumi/Lingkungan). Konsep TBL ini menggagas bahwa perusahaan dalam kegiatannya jangan hanya berfokus pada mencari keuntungan finansial (profit) saja, tetapi juga harus memperhatikan dan mempertimbangkan dampak sosial (people) dan lingkungan (planet) untuk tercapai keberlanjutan pembangunan jangka panjang. Jadi, dengan cara pandang ini, kegiatan ekonomi dan bisnis perusahaan tidak hanya diarahkan bagi mencapai keadaan keuangan perusahaan yang semakin meningkat secara maksimal, tapi juga bagaimana semua kegiatan yang mereka lakukan dicapai secara adil dan etis.
  4. Untuk itu, tidak dapat tidak pihak perusahaan dalam operasionalisasinya selain berusaha untuk mendapatkan Profit (P), juga harus peduli kepada People (P). Artinya pihak perusahaan juga dituntut untuk peduli pada kesejahteraan sosial, termasuk hak-hak tenaga kerja, kondisi kerja yang layak, serta dampak positif terhadap masyarakat sekitar serta harus peduli terhadap lingkungan alam (planet). Pihak perusahaan juga dituntut untuk bisa bertanggung jawab dalam mengelola sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan, dengan meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan alam yang ada.
  5. Keterkaitan Sustainable Development Goals dan Agama
  6. Dari penjelasan di atas, terlihat dunia ekonomi dan bisnis benar-benar dituntut dan diharapkan untuk lebih berwajah manusiawi dan ramah terhadap lingkungan. Dengan cara seperti itulah keberlanjutan kehidupan umat manusia di bumi ini akan bisa dihindarkan dari bencana dan malapetaka. Di sinilah letak arti pentingnya kita menghubungkan konsep dan masalah sustainable world development ini dengan agama.
  7. Kita mengetahui bahwa jumlah penduduk dunia pada tahun 2025 adalah sekitar 8,2 milyar jiwa. 85 persen dari jumlah tersebut merupakan orang yang beragama. Ini jelas sebuah jumlah yang sangat besar. Oleh karena itu, mengaitkan masalah agama dengan usaha kita untuk menciptakan satu dunia yang aman tenteram dan damai sehingga tercipta suatu pembangunan dalam skala dunia yang sustainable tentu sangat tepat. Hal ini karena agama sebagai sebuah keyakinan dan ajaran, jelas-jelas akan bisa menjadi faktor penentu bagi tercapainya tujuan luhur tersebut. Masing-masing agama tentu punya konsep tentang bagaimana para pengikutnya seharusnya berbuat dan bertingkah laku dalam menjalani hidup dan kehidupannya, termasuk dalam dunia ekonomi dan bisnis.
  8. Untuk itu, peran dan tugas dari para tokoh agama tentu saja sangat penting karena merekalah yang memberikan bimbingan kepada masyarakat tentang bagaimana seharusnya mereka berbuat dan bertingkah laku. Masyarakat sebagai pelaku usaha tentu dituntut untuk bisa menerapkan prinsip-prinsip dari ajaran agama mereka dalam kehidupan sehari-hari.
  9. Tentu sangat menarik untuk mengaitkan pandangan John Elkington dengan pandangan agama terutama dengan ajaran Islam. Agama Islam sudah menyinggung apa yang disampaikan oleh John Elkington ini lebih dari 14 abad yang lalu. Hal itu terlihat dengan jelas dalam Al-Qur’an surat al-Qashash ayat 77 yang berbunyi :

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

  1. Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
  2. ) Konsep 4P dari Islam
  3. Dari ayat di atas dapat disimpulkan bahwa yang diajarkan Islam bukan hanya 3P (Profit, People and Planet) tapi adalah 4P (Paradise, Profit, People and Planet) dengan filosofi yang berbeda. Dalam konsep 3P, yang memberi warna terhadap perilaku manusia adalah diri manusia itu sendiri berikut dengan kesadaran kemanusiaan dan lingkungan yang dimilikinya. Sementara itu, dalam konsep 4P yang diajarkan Islam, kita sebagai manusia dalam segala aspeknya termasuk dalam hal yang terkait dengan kesadaran manusia terhadap kemanusiaan dan lingkungannya, harus dicerahkan oleh firman-firman Allah dan sabda-sabda Rasul-Nya agar kita nanti di hari akhir dimasukkan ke dalam surga-Nya.
  4. Hal itu berarti kalau dalam konsep 3P yang disampaikan Elkington manusia berstatus sebagai pusat dan penentu (anthropocentrism) dalam segala hal. Sementara itu, dalam konsep 4P yang terdapat dalam Al-Qur’an tersebut adalah theocentrisme atau anthropocentrism religious. Dalam konsep antroposentrisme religius ini, yang menjadi penentu dan yang harus kita ikuti dan patuhi dalam hidup ini adalah Allah SWT, agar semua perbuatan dan tindakan yang kita lakukan mendapatkan ganjaran pahala dan surga dariNya.
  5. Jadi, kalau konsep 3P manusia berbicara tentang keselamatan manusia di dunia ini saja, sementara itu dalam konsep 4P yang diajarkan Islam, keselamatan yang dicari adalah keselamatan di dunia dan juga di akhirat. Dimana kita oleh Tuhan akan dimasukkan ke dalam surga-Nya yang abadi. Oleh karena itu, jika kita berhasil menjadikan diri kita menjadi orang yang beriman atau beragama secara baik dan benar, maka gairah kita umat Islam untuk menyukseskan konsep sustainable world development tersebut tentu semestinya harus lebih tinggi. Ini karena melaksanakannya tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang ta’aqquli atau bisa diterima oleh akal sehat semata, tapi ini juga bersifat ta’abbudi atau ibadah yang membuat pelakunya akan mendapatkan ridho dari Allah SWT. Sehingga nanti di hari akhir dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam surgaNya.
  6. Guna mencapai tujuan tersebut, maka kegiatan ekonomi dan bisnis yang kita lakukan haruslah mengacu kepada konsep kepemilikan, keadilan, kebersamaan, kebebasan dan keseimbangan versi Islam. Untuk itu, dalam bentuk instrumental dalam kegiatan ekonomi dan bisnis kita harus melaksanakan perintah zakat, infak dan sedekah. Kita harus menjauhi praktik-praktik yang dilarang-Nya seperti terlibat dalam praktik ribawi, tipu menipu, dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Dan adanya peran negara yang diorientasikan bagi terciptanya kemaslahatan umat harus benar-benar berjalan. Hanya dengan cara-cara seperti itulah, sustainable world development yang menjadi cita-cita kita tersebut akan punya arti dan makna yang hakiki bagi keselamatan hidup manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
  7. Dalam kaitan ini, maka konsep 4P (Paradise, Profit, People and Planet) dari Islam bisa menjadi tawaran alternatif untuk memperkaya konsep SDGs. Di Indonesia, para pemimpin Islam mestinya mensosialisasikan konsep ini sebagai konsep alternatif untuk mengantisipasi krisis ekonomi dan orientasi pembangunan oleh negara yang kadang-kadang kurang menyeimbangkan konsep 4P tersebut. Pemerintah dan pemimpin bisnis pun harus berlapang dada untuk membuka pikiran yang otentik dari Islam ini. Jika pemuka agama, pemimpin bisnis, dan pemerintah bisa bekerja sama mensosialisasikan konsep 4P ini, Insya Allah sebagai negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam, Indonesia bisa tampil percaya diri untuk menawarkan konsep 4P yang sangat komprehensif ini di level dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *