Yogyakarta, panjimas — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan pentingnya pembaruan manajemen, penguatan kolaborasi, dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit Muhammadiyah di tengah ekosistem kesehatan yang terus berkembang dan persaingan yang semakin ketat.
Hal tersebut disampaikannya dalam rangkaian acara Pelantikan Direksi RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta dan RS PKU Muhammadiyah Gamping di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Rabu (17/12).
Haedar menyampaikan bahwa wilayah Yogyakarta saat ini menghadapi perubahan lingkungan layanan kesehatan yang signifikan. Karena itu, semangat fastabiqul khairat harus diiringi dengan langkah-langkah pembaruan yang konkret agar rumah sakit Muhammadiyah tidak tertinggal.
Ia menyoroti perlunya reformasi fokus dalam profesi penanganan dan pelayanan kesehatan. Menurutnya, sumber daya manusia Muhammadiyah, khususnya dokter dan tenaga kesehatan, memiliki keahlian yang sangat baik. Tantangannya adalah bagaimana mengoptimalkan potensi tersebut agar pelayanan kepada pasien benar-benar maksimal hingga tingkat utama.
“Dokter-dokter kita ahlinya luar biasa, tapi bagaimana mengoptimalkan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan agar melayani pasien secara maksimal, di situlah pembaruan manajemen diperlukan,” ujarnya.
Haedar mengingatkan bahaya zona nyaman yang kerap muncul ketika institusi merasa sudah mapan. Ia menilai perasaan aman dan nyaman justru dapat menghambat peningkatan kualitas layanan jika tidak diimbangi dengan fokus dan optimalisasi yang berkelanjutan.
Selain itu, Haedar menyinggung kebijakan pemerintah yang akan terus berkembang, termasuk rencana pembangunan banyak rumah sakit. Menurutnya, membangun rumah sakit bukan perkara sederhana karena pengelolaannya sangat kompleks dan tidak sekadar soal jumlah fasilitas.
Dalam konteks pelayanan kesehatan, Haedar juga menyoroti tantangan edukasi masyarakat, termasuk fenomena masyarakat Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri seperti Penang, Malaysia. Faktor jarak, waktu, dan biaya menjadi pertimbangan, terutama bagi masyarakat di Sumatera. Kondisi tersebut, menurutnya, perlu diimbangi dengan pembangunan persepsi publik yang baik melalui peningkatan kualitas layanan nyata.
“Persepsi publik itu lahir dari apa yang bisa kita lakukan. Apa yang kita lakukan itulah yang membentuk persepsi tentang rumah sakit kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Haedar menyampaikan kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memperkuat kolaborasi antar rumah sakit Muhammadiyah melalui sistem grouping, bukan korporatisasi. Pendekatan ini dimaksudkan untuk membangun kekuatan bersama tanpa merugikan satu sama lain.
“Tidak ada yang rugi dengan satu grup. Yang ada justru kekuatan bersama,” ujarnya.
Ia berharap rumah sakit Muhammadiyah di Yogyakarta, termasuk Kota Yogyakarta, Gamping, Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul, dan Kotagede, dapat berkembang bersama dalam satu sistem kolaborasi yang produktif. Untuk itu, perubahan mindset dari pola kerja sendiri-sendiri menuju kerja kolektif menjadi keharusan.
Haedar juga menegaskan visi Muhammadiyah untuk menghadirkan rumah sakit unggul dan berkemajuan yang tidak hanya berkelas nasional, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional. Ia menyebut peningkatan kualitas secara progresif sebagai agenda strategis Muhammadiyah ke depan.
“Organisasi besar jangan sampai seperti gajah yang besar tapi sakit. Justru karena besar, kita harus fleksibel, produktif, dan menjadi kekuatan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Haedar mengingatkan para pimpinan dan pengelola rumah sakit Muhammadiyah agar tidak terjebak pada rasa aman semu maupun euforia popularitas di media sosial. Menurutnya, ukuran keberhasilan sejati terletak pada kerja nyata dan kualitas layanan, bukan sekadar pencitraan.
“Jangan pernah merasa sudah aman dan nyaman. Itu kuncinya,” pungkasnya











