KemenagNasional

Wamenag Pesankan Tanggung Jawab Moral atas Kecerdasan Buatan (AI) di ICIMS 2026 UMS

108
×

Wamenag Pesankan Tanggung Jawab Moral atas Kecerdasan Buatan (AI) di ICIMS 2026 UMS

Sebarkan artikel ini

Solo, panjimas – Wakil Menteri Agama Republik Indonesia Dr. KH. Romo R. Muhammad Syafi’i, S.H., M.Hum., menekankan pentingnya tanggung jawab moral manusia dalam penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) pada 6th International Conference on Islamic and Muhammadiyah Studies (ICIMS) 2026 yang diselenggarakan di Ruang Seminar Auditorium Moh. Djazman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah, Selasa.

 

Dalam pemaparannya yang dimoderatori Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., selaku Wakil Rektor III UMS, Romo mengawali dengan apresiasi terhadap peran Muhammadiyah dalam dunia pendidikan.

 

“Saya sangat mengapresiasi Muhammadiyah dalam bidang pendidikan,” ujarnya.

 

Ia menegaskan pendidikan harus mampu menyiapkan generasi yang relevan dengan zamannya.

 

“Ajarkanlah anakmu ilmu yang berbeda dari yang kau peroleh, karena anakmu hidup di zaman yang berbeda daripada hidupmu,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, Wamenag menjelaskan kecerdasan buatan merupakan produk kecerdasan manusia, namun tidak memiliki dimensi moral.

 

 

“AI adalah hasil dari kecerdasan manusia, tetapi ia tidak memiliki moral, nurani, dan perasaan atau emosi,” jelasnya.

 

Oleh karena itu, lanjutnya, manusia memiliki tanggung jawab penuh dalam penggunaannya.

 

“Wajib bagi manusia sebagai khalifah di bumi untuk bijak dalam menggunakan AI yang telah diciptakannya,” tegasnya.

 

Ia juga menyoroti konsep kecerdasan dalam perspektif keislaman.

 

“AI pertama adalah manusia itu sendiri, karena manusia diciptakan oleh Allah dengan kecerdasan yang luar biasa, disertai fungsi sebagai khalifah dan tugas menghamba. Itulah AI yang paling sempurna,” ungkapnya.

 

Dalam penutup penyampaiannya, ia kembali menekankan aspek tanggung jawab etis.

 

“Secanggih-canggihnya AI, AI tetaplah buatan manusia, dan manusialah yang bertanggung jawab penuh atas apa yang telah diciptakannya,” katanya.

 

Melalui forum ICIMS 2026, Wamenag berharap diskursus kecerdasan buatan tidak hanya berhenti pada aspek teknologis, tetapi juga mampu mengakar pada nilai etika, kemanusiaan, dan spiritualitas sebagai fondasi peradaban di era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *