Jakarta, panjimas – Kasih sayang dalam mendidik anak lahir dari jiwa dan semangat medidik generasi. Karena itu kasih sayang merupakan modal utama untuk membentuk kepribadian yang tangguh, berakhlak mulia, dan bermental sehat.
Pilarnya; pertama, membangun rasa aman emosional agar anak yang mendapatkan cinta dan kelembutan akan merasa aman secara psikologis, sehingga mereka tidak mudah cemas atau takut dalam menjalani hidup.
Kedua, menumbuhkan rasa percaya diri agar perhatian dan penerimaan dari orang tua membuat anak menghargai diri sendiri dan tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi menjadi generasi yang kuat dan tangguh.
Hal itu disampaikan oleh Sekjen MUI, Buya Amirsyah Tambunan saat di tanya media usai memberikan sambutan dalam pembukaan seminar yang diselenggarakan oleh Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (KPRK MUI) dengan tema : Penguatan Institusi Pendidikan yang Ramah Anak.
Sebelum memulai presentasinya Buya Amirsyah terlebih dahulu menyampaikan pantun kepada seluruh hadirin :
Pohon zaitun di hutan lebat Ibu-ibu KPRK MUI berdiri kuat
Inilah pantun perempuan hebat Selalu mandiri dan berhati kuat
Pergi ke pasar membeli ketupat
Jangan lupa ibu KPRK membeli rempah
Kalau mencari wanita hebat
Pilih yang sabar dan tak mudah menyerah
KPRK Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang berfokus pada pemberdayaan perempuan, pembinaan remaja, dan penguatan ketahanan keluarga di (KPPA).
Lebih lanjut buya Amirsyah menegaskan anak yang dibesarkan dengan kelembutan akan belajar cara menyayangi orang lain dan memiliki kepedulian sosial yang kuat pada Rabu, (30/9/2026).
Tugas utama ayah dan ibu membentuk Akhlak dan Karakter yang baik berdasarkan kasih sayang memudahkan penanaman nilai-nilai moral, agama, dan kedisiplinan secara lebih efektif tanpa kekerasan.
“Kasih sayang yang ideal perlu diimbangi dengan ketegasan yang proporsional agar anak tetap memiliki tanggung jawab, dan tumbuh menjadi pribadi yang kuat baik mental maupun spritual,” pungkasnya.












