Jakarta, panjimas — Mentari pagi di Martapura menyapa dengan hangat saat langkah-langkah kecil siswa SD dan SMP Alam Muhammadiyah Martapura (Almira) berkumpul dengan semangat berbeda. Bukan sekadar rutinitas belajar di alam, kali ini mereka membawa misi mulia untuk menyambut bulan suci Ramadan 1447. Melalui tajuk Tarhib Ramadan, sekolah ini mengubah selebrasi menjadi aksi nyata yang menyentuh akar rumput.
Kegiatan ini melibatkan seluruh elemen sekolah. Mulai dari siswa hingga Forum Silaturahmi Orang Tua Siswa. Mereka tidak hanya duduk diam di kelas, tetapi bergerak bersama melakukan aksi sosial untuk warga duafa dan lansia yang tinggal di sekitar lingkungan sekolah. Sejak awal, atmosfer kebersamaan menyelimuti setiap sudut sekolah, membuktikan pendidikan karakter paling efektif adalah melalui teladan dan praktik langsung di lapangan.
Kantor Layanan Lazismu Darul Arqom menjadi motor penggerak dalam penghimpunan dana. Hasilnya luar biasa; kolaborasi tulus antara siswa dan orang tua berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp22.070.000. Angka tersebut bukan sekadar nominal, melainkan representasi dari keikhlasan yang kemudian menjelma menjadi 100 paket Kado Ramadan. Paket-paket ini menjadi jembatan kasih bagi warga sekitar yang memerlukan uluran tangan
Madrasah Sunyi bagi Jiwa
Koordinator kegiatan, Muhammad Ramadhansyah, memastikan setiap paket sampai ke tangan yang tepat. Dengan penuh ketelitian, ia bersama tim menyiapkan kado-kado tersebut untuk para lansia dan kaum duafa. Ia menegaskan, fokus utama bantuan ini adalah mereka yang selama ini bertetangga langsung dengan Sekolah Almira namun hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Alhamdulillah, kami menyalurkan 100 paket Ramadan dengan total anggaran Rp22.070.000. Penerimanya adalah warga sekitar Sekolah Almira yang membutuhkan, khususnya dhuafa dan lansia,” ujar Ramadhansyah saat menjelaskan teknis penyaluran bantuan tersebut.
Namun, bagi Ramadhansyah, esensi kegiatan ini jauh melampaui angka-angka. Ia ingin para siswa memahami, Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga. Ada pesan moral mendalam yang harus tertanam di sanubari setiap anak didik agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap ketimpangan sosial di sekelilingnya.
“Harapannya, dari bingkisan Ramadan ini lahir kesadaran, puasa sejatinya bukan tentang mengosongkan perut, melainkan mengisi jiwa dengan kepedulian,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Di tempat ini, para siswa belajar, kebahagiaan sejati muncul ketika mereka mampu meringankan beban orang lain. Ia berharap Sekolah Almira tetap konsisten memupuk rasa empati ini tanpa harus menunggu kondisi berlimpah harta.
“Semoga Ramadan tahun ini menjadi madrasah sunyi, tempat kita belajar bahwa memberi adalah cara paling lembut untuk menjadi manusia. Dan semoga SD Almira terus menjadi taman nilai, tempat sedekah tumbuh bukan karena berlebih, tetapi karena hati tak ingin melihat sesama kekurangan,” tutupnya mengakhiri pembicaraan.
Aksi Tarhib Ramadan ini sukses menghadirkan wajah Islam yang sejuk dan peduli. Melalui langkah kecil para siswa di Martapura, masyarakat diingatkan kembali, kekuatan solidaritas adalah modal utama dalam memperkuat ikatan sosial. Kini, menyambut bulan suci bukan lagi soal kemeriahan semata, melainkan tentang seberapa dalam kita mampu berbagi kasih kepada sesama manusia.













