Jakarta, panjimas — Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Non Formal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi menjalin kerja sama strategis dengan UPER Education & Tech (UPER Edu Tech) dari Tiongkok untuk mendirikan MGE–UPER Mandarin Language Center di Yogyakarta.
Pengumuman kerja sama ini disampaikan dalam Rakornas Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah di Makassar, Jumat (14/2/2026).
Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, menjelaskan bahwa kolaborasi tersebut merupakan bagian dari upaya memperluas jejaring internasional Muhammadiyah di bidang pendidikan bahasa, beasiswa, serta penguatan jalur karier global bagi kader dan lulusan sekolah Muhammadiyah.
Dalam paparannya, Didik menegaskan bahwa Majelis menugaskan Matahari Global Edu (MGE), yang dipimpin Agus Suroyo, untuk menjalankan kerja sama operasional dengan UPER Edu Tech.
Menurutnya, kemitraan ini menjadi langkah strategis untuk membuka akses lebih luas bagi kader Muhammadiyah dalam meningkatkan kompetensi bahasa Mandarin secara terstruktur, sekaligus memperbesar peluang studi dan mobilitas internasional.
Kerja sama tersebut diawali dengan penandatanganan Memorandum of Cooperation Agreement (MOCA) antara Didik Suhardi dan Founder UPER Edu Tech, Eric Wang, di Jakarta pada 8 Januari 2026.
Kesepakatan ini kemudian diperkuat melalui penandatanganan Separate Financial Agreement antara Direktur MGE Agus Suroyo dan Eric Wang di Yogyakarta pada 8 Februari 2026.
Rangkaian dokumen itu menjadi fondasi pelaksanaan program, termasuk pembagian peran Majelis, MGE, dan UPER Edu Tech dalam pengelolaan pusat bahasa serta fasilitasi beasiswa.
Pusat Bahasa Mandarin dan Program HSK
Dalam forum Rakornas, Manajer UPER Edu Tech Suki Zhou memaparkan paket program yang akan dijalankan bersama MGE. Program utamanya adalah pendirian MGE–UPER Mandarin Language Center di Yogyakarta yang akan menyediakan pembelajaran HSK Level 1–4 secara luring.
Terdapat dua skema pembelajaran yang ditawarkan, yakni program intensif enam bulan dengan jadwal setiap hari serta program berbasis sekolah untuk jenjang MA/SMA/SMK selama tiga tahun dengan pertemuan sekali seminggu.
Model pengajaran akan mengombinasikan instruktur lokal dan penutur asli secara hybrid, dengan dukungan akademik dari Beijing Language and Culture University (BLCU) sebagai mitra pengembangan HSK.
Selain kelas tatap muka, UPER Edu Tech juga menyediakan kelas daring untuk HSK, sekaligus program perencanaan karier dan penempatan kerja di perusahaan-perusahaan Tiongkok, baik yang beroperasi di Tiongkok maupun di Indonesia melalui jejaring Kadin China.
HSK 1 Dinilai Belum Cukup
Direktur MGE Agus Suroyo menjelaskan bahwa program intensif enam bulan diprioritaskan bagi alumni MA/SMA/SMK Muhammadiyah dengan target capaian dari HSK 1 hingga HSK 4.
Sementara itu, program berbasis sekolah akan dijalankan melalui pilot project di sejumlah sekolah yang ditunjuk Majelis, dengan Mandarin sebagai bagian terintegrasi dalam kurikulum tiga tahun.
Menurut Agus, capaian HSK 4 menjadi syarat penting bagi peserta yang ingin melanjutkan studi S1 di universitas-universitas Tiongkok, baik melalui jalur beasiswa maupun mandiri.
“HSK Level 1 tidak cukup untuk kebutuhan akademik di kampus-kampus Tiongkok. Karena itu, program ini dirancang agar peserta bisa mencapai HSK 4,” ujarnya.
Didik Suhardi menambahkan, penguatan kapasitas kader Muhammadiyah menjadi hal yang mendesak agar mampu beradaptasi dengan dinamika global. Ia menilai diaspora kader ke Tiongkok penting dilakukan mengingat posisi negara tersebut yang berkembang pesat dalam bidang sains dan teknologi
Akses ke Kampus-Kampus Terkemuka Tiongkok
Dalam paparannya, Suki Zhou juga memperkenalkan sejumlah universitas unggulan di Tiongkok yang menjadi bagian dari jejaring akademik program ini.
Beberapa di antaranya adalah Tsinghua University, Peking University, Zhejiang University, Shanghai Jiao Tong University, Fudan University, Nanjing University, Sun Yat-sen University, Xi’an Jiaotong University, hingga Beijing Language and Culture University.
Keberadaan jejaring ini diharapkan membuka jalan bagi alumni sekolah Muhammadiyah untuk melanjutkan studi S1 maupun S2 melalui berbagai skema beasiswa yang disiapkan bersama.
Model Pengembangan SDM Global
Sebagai penutup, Didik Suhardi menyatakan bahwa pendirian Mandarin Language Center di Yogyakarta diharapkan menjadi model pengembangan sumber daya manusia yang terukur. Program ini diarahkan untuk meningkatkan kompetensi bahasa Mandarin berbasis standar HSK, memperluas akses studi lanjut di kampus-kampus terkemuka, serta memperkuat jejaring kerja dalam ekosistem industri Tiongkok–Indonesia.
Ia juga mendorong Majelis Dikdasmen PNF di berbagai wilayah Indonesia untuk menjalin kerja sama serupa dan mereplikasi program ini sesuai kebutuhan daerah masing-masing.













