BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Di Tengah Krisis Mental, Muhammadiyah Serukan Penguatan Resiliensi Spiritual

93
×

Di Tengah Krisis Mental, Muhammadiyah Serukan Penguatan Resiliensi Spiritual

Sebarkan artikel ini

Yogyakarta, panjimas – Sekitar 28 juta jiwa masyarakat Indonesia diperkirakan mengalami gangguan kejiwaan dengan berbagai ragam bentuk dan tingkatannya. Angka ini diprediksi terus meningkat seiring dengan kompleksitas persoalan kehidupan yang dihadapi masyarakat.

Berangkat dari fenomena tersebut, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menegaskan bahwa kekuatan resiliensi mental merupakan pilar utama dalam membangun daya juang seseorang dalam menjalani kehidupan.

Menurutnya, membangun resiliensi mental harus diawali dengan proses mengenal diri secara lebih mendalam, baik dari sisi kekuatan maupun kelemahan yang dimiliki. Pemahaman yang utuh terhadap diri sendiri menjadi langkah awal untuk membentuk ketahanan mental yang kokoh dan siap menghadapi berbagai problematika kehidupan.

“Sampai ketika nanti mendapatkan cobaan, ia bisa menghadapi dengan baik. Atau ketika cobaan terasa terlalu berat, ia tetap bisa bangkit sehingga tidak terpuruk dalam permasalahan,” ujar Agus dalam ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (23/2).

Selain mengenali diri, Agus menyebutkan bahwa kunci penting lainnya dalam membangun resiliensi adalah menanamkan sikap syukur dan sabar dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau sesuatu terjadi seperti yang kita inginkan, maka itu kita syukuri. Ketika kita mensyukuri janji Allah, la azidannakum, maka kenikmatan itu akan terus ditambah agar yang terjadi sesuai dengan yang kita harapkan,” ungkapnya.

Namun, ketika realitas tidak berjalan sesuai harapan, maka sikap yang harus dikedepankan adalah sabar.

“Maka rumusnya adalah sabar,” tegasnya.

Agus juga menekankan bahwa kunci untuk menikmati kehidupan secara hakiki adalah menerima segala ketentuan Allah dengan ikhlas dan penuh lapang dada. Di balik setiap peristiwa, terdapat hikmah yang menyertai bagi mereka yang bersabar dan bersyukur.

Hal tersebut, lanjutnya, sejalan dengan firman Allah dalam QS Al-Baqarah ayat 286, bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.

“Yang harus kita lakukan ketika menghadapi cobaan adalah meyakini sepenuhnya bahwa ujian itu tidak akan melebihi kemampuan kita. Yakin pula bahwa Allah akan membimbing hamba-Nya yang mengenal-Nya dengan baik untuk melewati cobaan tersebut,” jelasnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *