YOGYAKARTA, panjimas — Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah bersama Kementerian PPN/Bappenas menggelar diskusi bertajuk “Caregiver Lansia untuk Meningkatkan Kehidupan Lansia yang Bermartabat” pada Senin (8/6/26) di Kantor PP ‘Aisyiyah.
Forum untuk membahas penguatan layanan perawatan lansia sekaligus pengembangan ekonomi keperawatan (care economy) di Indonesia. Koordinator Program INKLUSI ‘Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochimah menyampaikan, isu lanjut usia menjadi perhatian penting karena jumlah lansia di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Menurutnya, kondisi tersebut memerlukan kesiapan berbagai pihak agar lansia dapat menjalani kehidupan yang sehat, mandiri, dan bermartabat.
Terkait itu, ‘Aisyiyah telah lama menunjukkan komitmennya dalam penanganan isu lansia melalui berbagai program yang dijalankan mulai dari tingkat pusat hingga ranting. Program-program tersebut tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga pemberdayaan dan peningkatan kualitas hidup lansia.
Salah satu upaya yang tengah dikembangkan adalah program caregiver lansia melalui kerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta. Selain itu, ‘Aisyiyah juga turut mengembangkan modul pelatihan caregiver sebagai bekal bagi para pendamping lansia.
“Harapannya para lansia tidak hanya dapat menjalani masa tua dengan sehat dan sejahtera, tetapi juga tetap produktif serta memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya,” ujar Tri Hastuti.
Menurutnya, keberadaan caregiver yang terlatih menjadi salah satu kebutuhan penting dalam menghadapi peningkatan jumlah lansia di Indonesia. Dengan layanan pendampingan yang memadai, lansia diharapkan dapat memperoleh dukungan yang lebih baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Direktorat Kependudukan dan Jaminan Sosial Kementerian PPN/Bappenas RI, Widaryatmo, mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan ‘Aisyiyah dalam pemberdayaan lansia dan pengembangan layanan caregiver.
“Pemikiran ‘Aisyiyah tentang pemberdayaan lansia sangat luar biasa, inline dengan apa yang dilakukan pemerintah melalui kebijakan care economy,” ungkapnya.
Widaryatmo menjelaskan bahwa hasil kajian pemerintah menunjukkan masih besarnya tantangan yang dihadapi lansia, terutama terkait perlindungan ekonomi pada masa tua. Karena itu, pemberdayaan lansia dan penguatan sistem perawatan menjadi agenda yang perlu terus didorong bersama.
Sementara itu, Perencana Ahli Muda Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat (PKPM) Kementerian PPN/Bappenas RI, Dwi Rahayuningsih, memaparkan bahwa pengembangan care economy dilakukan untuk menciptakan layanan yang lebih inklusif bagi kelompok rentan, termasuk lansia.
Ia menjelaskan bahwa sebagian besar layanan perawatan lansia saat ini masih dilakukan oleh keluarga dan didominasi perempuan. Kondisi tersebut berdampak pada kesempatan perempuan untuk bekerja secara produktif dan memperoleh penghasilan.
Dwi menambahkan bahwa pemerintah tidak bermaksud menghilangkan peran unpaid care worker yang selama ini kuat dalam budaya keluarga Indonesia. Namun, pemerintah ingin memberikan pengakuan, perlindungan, peningkatan kesejahteraan, serta mendorong pembagian kerja yang lebih setara antara laki-laki dan perempuan.
Melalui diskusi ini, PP ‘Aisyiyah bersama pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan berupaya memperkuat kolaborasi dalam pengembangan layanan caregiver dan perawatan lansia yang lebih profesional, inklusif, serta berkelanjutan demi mewujudkan kehidupan lansia yang sehat, produktif, dan bermartabat.













