BeritaHajiOpini

Haji: Kongres Politik Akbar Umat Islam Sepanjang Zaman

13
×

Haji: Kongres Politik Akbar Umat Islam Sepanjang Zaman

Sebarkan artikel ini

Oleh:Anang Fahmi ( Dosen UIN Prof KH Saifuddin Zuhri Purwokerto )

Dari Rumah Al-Arqam hingga Piagam Madinah, dari Perjanjian Aqabah hingga gejolak Iran–Amerika-Israel — ibadah haji menyimpan arsi¬tektur gerakan yang tak pernah padam.

 

Haji bukan sekadar ritual. Ia adalah deklarasi politik paling tua dalam sejarah Islam. Ketika jutaan Muslim dari penjuru bumi berkumpul di Makkah, memakai pakaian ihram yang sama, berdiri di padang Arafah yang sama, mereka sesungguhnya sedang menghidupkan kembali sebuah desain gerakan yang dirancang Rasulullah ﷺ lebih dari empat belas abad lalu.

 

Rumah Al-Arqam: Madrasah Politik Pertama

Sebelum ada mimbar, sebelum ada masjid, Rasulullah ﷺ mendirikan pusat pengkaderan pertama di rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam di kaki Bukit Shafa, Makkah. Di sinilah, selama tiga tahun da’wah sirriyyah (sembunyi-sembunyi), pondasi kader inti Islam diletakkan. Ibn Hisyam dalam Al-Sirah Al-Nabawiyyah mencatat bahwa Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Haritsah, Abu Bakar, dan generasi sahabat pertama ditempa di rumah bersejarah itu — bukan hanya secara spiritual, melainkan secara intelektual dan politis.

 

Para kader Al-Arqam dilatih memahami realitas sosial Makkah yang oligarkis. Mereka belajar membaca kuasa, membangun solidaritas, dan menjaga kerahasiaan gerakan. Inilah embrio dari apa yang kemudian Ali Syariati sebut sebagai “ideologi pembebasan Islam” — sebuah gerakan yang mengubah hamba sahaya, pedagang kecil, dan kaum marginal menjadi kekuatan transformatif sejarah.

 

Perjanjian Aqabah: Kontrak Politik Lintas Batas

Musim haji adalah waktu pertemuan antarsuku Arab. Rasulullah ﷺ memanfaatkannya dengan jenius. Di musim haji tahun ke-12 kenabian, beliau bertemu secara rahasia dengan 12 orang dari suku Khazraj dan Aus (Yatsrib) di celah bukit Aqabah. Lahirlah Baiat Aqabah Pertama — sebuah perjanjian kesetiaan politik-spiritual yang menandai perluasan dakwah lintas wilayah kekuasaan.

“Mereka berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, dan tidak mendurhakai Nabi dalam kebaikan.”

— Ibn Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, jilid II

 

Setahun berikutnya, Baiat Aqabah Kedua dihadiri 73 laki-laki dan 2 perempuan. Ini bukan sekadar baiat spiritual — ini adalah pakta pertahanan dan perlindungan politik. Al-Abbas ibn Abdul Muththalib, paman Nabi, hadir sebagai “saksi diplomatik” mewakili kepentingan Bani Hasyim. Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Zad Al-Ma’ad menggarisbawahi bahwa Aqabah Kedua hakikatnya adalah deklarasi berdirinya negara Islam pertama, jauh sebelum hijrah ke Madinah.

 

Piagam Madinah: Konstitusi Pluralis Pertama Dunia

Hijrah ke Madinah menghasilkan capaian peradaban yang belum tertandingi: Piagam Madinah (Shahifah Al-Madinah). Dokumen yang terdiri dari 47 pasal ini mengatur hubungan antara Muslim Muhajirin dan Anshar, serta seluruh suku Yahudi Madinah. Montgomery Watt dalam Muhammad at Medina menyebutnya sebagai “konstitusi tertulis pertama di dunia.”

Piagam Madinah adalah puncak dari perjalanan politik yang dimulai di Rumah Al-Arqam, dikonsolidasikan di Aqabah, dan dilembagakan di Madinah. Haji menjadi instrumen yang menyatukan seluruh tahapan ini: ia adalah forum tahunan tempat umat mengucapkan ulang komitmen, memperbarui kontrak sosial, dan menyatukan visi gerakan.

 

Haji Wada’: Pidato Politik Terakhir Rasulullah

Haji Wada’ (Haji Perpisahan, 10 H) adalah masterpiece politik Rasulullah ﷺ. Di hadapan lebih dari 100.000 jamaah di Arafah, beliau menyampaikan pidato yang menghapuskan sistem kesukuan, melarang riba yang mengikat ekonomi masyarakat pada oligarki, menyatakan persamaan derajat manusia, dan mengumumkan bahwa risalah Islam telah sempurna. Al-Nasa’i dan Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya darahmu, hartamu, dan kehormatanmu adalah haram atas sesama kalian.”

Inilah manifesto akhir — merangkum keseluruhan arsitektur gerakan: dari pengkaderan rahasia di Al-Arqam, diplomasi Aqabah, konstitusi Madinah, hingga penaklukan tanpa darah Makkah.

 

Pasca Konflik Iran–Amerika–Israel: Haji sebagai Arena Geopolitik Kontemporer

Perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang mengguncang kawasan Timur Tengah mempertegas relevansi dimensi politik haji. Imam Khomeini sejak dekade 1980-an melalui konsep tabarra’ dan “Pelepasan diri dari Musyrikin” (QS. Al-Taubah: 3) memanifestasikan haji sebagai panggung pernyataan solidaritas anti-imperialisme. Ali Syariati, sosiolog-teolog Iran, dalam Hajj: Reflection on Its Rituals, menafsirkan tawaf sebagai revolusi kosmis dan lempar jumrah sebagai penolakan simbolik terhadap hegemoni kekuatan adidaya.

 

Pasca konflik terbaru, haji kembali menjadi titik focal geopolitik Islam: Arab Saudi sebagai tuan rumah navigasi antara kepentingan AS-Israel di satu sisi dan solidaritas umat di sisi lain. Yusuf Al-Qaradawi dalam Fiqh Al-Jihad mengingatkan bahwa haji adalah “parlemennya umat Islam” — forum tanpa sekretariat permanen, namun paling representatif di dunia.

 

Muktamar haji pasca konflik sesungguhnya menuntut agenda baru: rekonsiliasi antara negara-negara Muslim, penguatan ekonomi halal sebagai counter-sanctions, dan pembangunan konsensus ummah terhadap isu Palestina. Abdullah Azzam (dalam konteks solidaritas) dan Tariq Ramadan (dalam konteks integrasi global) sama-sama membaca haji sebagai “reboot” tahunan kesadaran politik Muslim.

 

“Haji adalah simfoni tahunan yang mengingatkan bahwa umat Islam adalah satu tubuh — ketika satu anggota terluka, seluruh tubuh merasakannya.”

— Dr. Yusuf Al-Qaradawi, Fiqh Al-Jihad

 

Hikmah tertinggi haji sebagai gerakan politik adalah ini: ia memaksa umat untuk hadir secara fisik, melepaskan identitas kesukuan dan nasionalisme sempit, dan berdiri bersama sebagai ummatan wahidah. Dari Al-Arqam hingga Aqabah, dari Piagam Madinah hingga padang Arafah hari ini — arsitektur gerakan Rasulullah SAW ﷺ masih berdenyut. Pertanyaannya bukan apakah haji itu politis. Pertanyaannya adalah: seberapa serius umat hari ini mewarisi hikmah politiknya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *