BeritaNasionalNews

Kader Ulama Muhammadiyah Harus Menjadi Solusi Peradaban

30
×

Kader Ulama Muhammadiyah Harus Menjadi Solusi Peradaban

Sebarkan artikel ini

GARUT, panjimas— Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Saad Ibrahim menegaskan pentingnya kehadiran kader ulama sebagai agen perubahan yang mampu menjawab tantangan zaman dan kebutuhan peradaban.

 

Pesan tersebut disampaikan dalam acara Haflah Akhirussanah wat Takharruj Santriwan dan Santriwati Angkatan 43 dan 31 (Harsana 431) Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut.

 

Mengutip QS. Al-Fathir ayat 27–29, Saad menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung pesan mendalam tentang hakikat ulama. Menurutnya, ulama adalah manusia berilmu yang senantiasa beriman, bertakwa, serta memiliki rasa takut kepada Allah.

 

“Maknanya, Allah mengetahui tentang kehebatan manusia, tetapi tentu kehebatan manusia jauh dari kehebatan Allah sendiri,” jelasnya.

 

Ia menambahkan, kemajuan ilmu pengetahuan tanpa dimensi teologis dapat melahirkan tindakan destruktif yang membahayakan kehidupan manusia. Sebaliknya, ilmu yang digunakan untuk kemaslahatan akan membawa manfaat besar bagi kehidupan.

 

“Ketika manusia memiliki kehebatan dalam science, tetapi tidak diberi dimensi teologis, maka hal itu bisa menjadi bagian dari tindakan destruktif yang dahsyat di muka bumi. Sebaliknya, jika digunakan untuk kemaslahatan, dampaknya juga akan sangat besar,” imbuhnya.

 

Saad kemudian menjelaskan lima karakter yang harus dimiliki seorang ulama. Pertama, memahami fenomena alam. Kedua, memahami fenomena sosial. Ketiga, menguasai Al-Qur’an dan Sunnah. Keempat, mampu membangun relasi sekaligus senantiasa mengingat Allah. Kelima, memiliki komitmen sosial dengan mengamalkan ilmu demi kemaslahatan masyarakat.

 

Menurutnya, kelima karakter tersebut telah lama menjadi pandangan keulamaan Muhammadiyah. Keulamaan Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama, tetapi juga keterlibatan aktif dalam menjawab persoalan umat dan perkembangan peradaban.

 

Saad mencontohkan keteladanan Ahmad Dahlan dalam membangun tradisi keilmuan Muhammadiyah. Ia menyebut, sebelum mendirikan Muhammadiyah pada 1912, KH Ahmad Dahlan lebih dahulu mendirikan madrasah yang mengajarkan ilmu agama sekaligus ilmu umum.

 

“Selain mempelajari ilmu nusus seperti Al-Qur’an, hadis, dan sunnah, beliau juga mengajarkan ilmu bumi, ilmu hitung, ilmu hisab, hingga ilmu falak. Itulah salah satu implementasi keulamaan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan kepada Muhammadiyah,” ungkapnya.

 

Melalui forum tersebut, Saad berharap para santri mampu memandang keilmuan secara lebih luas. Kader ulama Muhammadiyah diharapkan tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu agama, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan umat dan kebutuhan peradaban masa kini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *