BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Edukasi Nelayan dan Masyarakat Pesisir Lamongan untuk Pengolahan Ikan Hasil Tangkap

11
×

Muhammadiyah Edukasi Nelayan dan Masyarakat Pesisir Lamongan untuk Pengolahan Ikan Hasil Tangkap

Sebarkan artikel ini

LAMONGAN, panjimas – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar sesi literasi pengolahan hasil tangkap ikan bagi nelayan dan masyarakat pesisir di TK ABA Weru, Kabupaten Lamongan, pada Jumat (4/9).

 

Sesi ini menghadirkan Bidang Pemberdayaan Nelayan dan Masyarakat Pesisir MPM PP Muhammadiyah, yakni Muhammad Prima Putra sebagai pemateri, dengan fokus utama pada standar pengolahan ikan yang aman, lezat, murah, dan halal.

 

Dalam pemaparannya, Prima menjelaskan bahwa ikan jauh lebih rentan terkontaminasi bakteri dan lebih cepat membusuk dibandingkan daging sapi atau kambing, karena dua faktor utama, yakni habitat ikan di perairan yang menjadi muara berbagai limbah dari sungai, serta tekstur daging ikan yang lebih lunak karena tidak memerlukan otot yang kuat untuk bergerak, sehingga mempercepat pertumbuhan bakteri dibandingkan daging hewan darat yang seratnya lebih rapat.

 

“Ikan jauh lebih cepat busuk dibandingkan daging sapi atau kambing. Ini karena mikroba yang ada di lingkungan hidup ikan jauh lebih banyak, dan tekstur dagingnya yang lembut membuat bakteri lebih cepat tumbuh,” ujar Prima.

 

Lebih lanjut, Prima menyarankan agar ikan segera disiangi—dibersihkan dari insang, isi perut, dan sisik—sebelum disimpan, sebab bagian-bagian tersebut merupakan organ yang berhubungan langsung dengan air sehingga menjadi sumber kontaminasi utama.

 

Ia juga menekankan pentingnya suhu penyimpanan yang tepat, di mana penyimpanan pada freezer bersuhu minus 20 derajat celcius dapat memperpanjang daya tahan ikan hingga 6 bulan sampai 1 tahun, jauh lebih lama dibandingkan penyimpanan pada kulkas biasa yang hanya bersuhu sekitar 2 hingga 5 derajat celcius.

 

“Kalau punya bahan baku ikan, sebaiknya jangan disimpan dalam keadaan utuh. Karena kalau disimpan utuh dan penyimpanannya tidak bagus, bakterinya bisa menyebar ke mana-mana,” ujar Prima.

 

Prima turut menyoroti persoalan minimnya fasilitas penyimpanan dingin atau cold storage di kalangan nelayan, yang menurutnya menjadi kendala serius di lapangan.

 

Ia menambahkan, keterbatasan sarana ini membuat sebagian hasil tangkapan tidak sempat diolah dan akhirnya terpaksa dibuang kembali ke laut, sebuah kondisi yang menurutnya memprihatinkan mengingat potensi hasil laut yang sebenarnya melimpah.

 

“Sementara itu, penangkapan ikan tidak ada tempat menyimpannya, pengolahannya juga tidak bisa. Akhirnya banyak hasil tangkapan yang harus dibuang lagi ke laut karena tidak ada tempat yang layak,” kata Prima.

 

Tak berhenti disitu saja MPM juga membentuk komunitas yang dapat dijadikan sarana saling sokong. Pun kedepannya akan dicanangkan pengawasan serta pelatihan rutin sebagai bentuk konsistensi dampingan MPM.

Giat ini dilaksanakan dalam upaya menyejahterakan masyarakat pesisir melalui sumber daya yang mudah didapat oleh mereka sendiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *