BeritaMUINasionalNews

Sekjen MUI Serukan Solidaritas Kemanusiaan dan Perlindungan Perempuan serta Anak Palestina

332
×

Sekjen MUI Serukan Solidaritas Kemanusiaan dan Perlindungan Perempuan serta Anak Palestina

Sebarkan artikel ini

JAKARTA panjimas — Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Buya Dr Amirsyah Tambunan, menyerukan penguatan solidaritas kemanusiaan masyarakat Indonesia bagi perempuan dan anak-anak Palestina.

 

Seruan ini disampaikan Buya Amirsyah dalam kegiatan Forum Perempuan Iman dan Kebebasan bertajuk “Dari Ibu Indonesia untuk Ibu Palestina” yang diselenggarakan Islamic Dakwah Fund (IsDF) MUI bersama Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) MUI di Aula Buya Hamka, Lt.4 Kantor MUI Pusat, Rabu (21/10/2026).

 

Menurut Buya Amirsyah, penderitaan yang dialami para ibu Palestina bukan sekadar angka dalam laporan kemanusiaan atau berita yang silih berganti. Di balik situasi tersebut, terdapat para ibu yang terus berjuang menjaga kehidupan anak-anak mereka di tengah keterbatasan pangan, air bersih, layanan kesehatan, tempat berlindung, dan akses pendidikan.

 

“Kepedulian bukan hanya ikut merasa sedih. Kepedulian adalah kesediaan untuk hadir dan bertindak,” kata Buya dalam sambutannya.

 

Lebih lanjut Buya Amirsyah menegaskan bahwa solidaritas terhadap Palestina merupakan panggilan nurani sekaligus amanat konstitusi.

 

Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa penjajahan harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

 

“Semangat tersebut menjadi landasan moral bagi bangsa Indonesia untuk terus mendukung perlindungan warga sipil dan terwujudnya perdamaian yang adil serta berkelanjutan di Palestina,” tutur Buya

 

Dalam perspektif kemanusiaan, lanjut Buya Amirsyah, dukungan bagi ibu Palestina perlu diarahkan pada kebutuhan nyata, meliputi keselamatan dan tempat berlindung, layanan kesehatan ibu, kehamilan dan persalinan, ketersediaan air bersih dan pangan bergizi, perlengkapan kebersihan, kebutuhan bayi, serta perlindungan martabat perempuan.

 

“Karena itu, kepedulian tidak cukup diwujudkan melalui ungkapan simpati, tetapi harus diterjemahkan menjadi bantuan yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Buya.

 

Buya Amirsyah kemudian menjelaskan,

dari perspektif keagamaan, solidaritas terhadap Palestina berakar pada nilai rahmah (kasih sayang), ta‘awun (saling menolong), ‘adl (keadilan), dan amanah (tanggung jawab).

 

Pesan tersebut sejalan dengan QS. Al-Mā’idah ayat 2 yang mengajarkan umat manusia untuk saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan. Kepedulian terhadap Palestina, dalam kerangka ini, merupakan keberpihakan pada keselamatan warga sipil, keadilan, dan martabat manusia, bukan alasan untuk menumbuhkan kebencian terhadap bangsa atau agama lain.

 

“Nilai agama harus menjadi kekuatan untuk merawat kemanusiaan, memperluas kepedulian, dan mendorong penyelesaian konflik secara adil dan bermartabat,” tandas Buya.

 

Diakhir sambutannya, Buya Amirsyah mengajak masyarakat Indonesia untuk terus menjaga solidaritas dan tidak membiarkan para ibu Palestina menghadapi penderitaan seorang diri.

 

“Jarak geografis tidak boleh memutus ikatan kasih sayang, iman, dan tanggung jawab kemanusiaan,” tutup Buya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *