BeritaKemenagNasionalNews

Karo Humas Kemenag Bagikan Tips Jaga Kepercayaan Publik terhadap Pesantren

35
×

Karo Humas Kemenag Bagikan Tips Jaga Kepercayaan Publik terhadap Pesantren

Sebarkan artikel ini

Bekasi, panjimas — Kepercayaan masyarakat menjadi modal penting bagi pesantren untuk terus menjalankan perannya dalam mendidik generasi bangsa. Kepercayaan tersebut perlu terus dirawat, antara lain dengan memastikan pesantren menjadi lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman, menjaga keteladanan, serta memperkuat harmoni di tengah masyarakat.

 

Hal tersebut disampaikan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, pada Rawasapi Bershalawat dalam rangka Hari Santri 2026 di Yayasan Nur Al-As’adiyah Rawasapi, Jatimulya, Bekasi, Jumat (23/10/2026).

 

“Pesantren memiliki sejarah panjang dalam mendidik generasi bangsa dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, kita perlu terus menjaga kepercayaan terhadap pesantren, sekaligus memastikan lingkungan pendidikan pesantren menjadi tempat yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang santri,” ujar Thobib di hadapan sekitar 800 jemaah.

 

Menurut Thobib, setidaknya ada tiga hal yang penting untuk terus diperkuat dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap pesantren.

 

Pertama, Pastikan Pesantren Aman dan Nyaman bagi Santri

 

Thobib menekankan pentingnya memastikan pesantren menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang santri.

 

Menurutnya, pesantren bukan hanya tempat mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga ruang pembentukan karakter dan pendidikan akhlak. Karena itu, lingkungan pendidikan yang mendukung perkembangan santri menjadi bagian penting dalam merawat kepercayaan masyarakat.

 

Kedua, Rawat Tradisi dan Keteladanan Pesantren

 

Kepercayaan terhadap pesantren juga dibangun dari nilai dan keteladanan yang selama ini menjadi kekuatannya. Thobib mengajak masyarakat terus merawat tradisi mulia serta meneladani perjuangan para ulama dan kiai.

 

Pesantren, kata Thobib, memiliki sejarah panjang dalam pendidikan dan perjalanan bangsa. Selain memperdalam ilmu agama, pesantren turut menanamkan karakter, kemandirian, kecintaan terhadap Tanah Air, dan nilai pengabdian.

 

Momentum Rawasapi Bershalawat juga menjadi ruang untuk menghidupkan keteladanan Rasulullah saw. dalam menyampaikan kebenaran, menjaga persaudaraan, dan menyikapi perbedaan.

 

Ketiga, Perkuat Harmoni dan Bijak Bermedia Sosial

 

Di tengah derasnya arus informasi, Thobib mengingatkan pentingnya pemahaman agama yang utuh serta kebijaksanaan dalam menggunakan media sosial.

 

Pemahaman agama yang baik, menurutnya, membantu masyarakat menyikapi perbedaan secara bijak, tidak mudah terpancing provokasi, dan tetap menjaga persaudaraan di tengah dinamika kehidupan sosial.

 

“Semangat beragama harus berjalan seiring dengan semangat menjaga harmoni. Kita perlu terus belajar memahami agama secara utuh, tidak mudah terprovokasi, dan bijak menggunakan media sosial. Dengan begitu, agama benar-benar menjadi sumber kedamaian dan perekat persatuan,” pesannya.

 

 

Sementara itu, KH Daud Hendi Ismail mengajak masyarakat meneladani perjuangan para kiai pesantren yang telah memberikan sumbangsih bagi bangsa dan negara. Nilai keikhlasan, pengabdian, kemandirian, dan cinta Tanah Air, menurutnya, perlu diwariskan kepada generasi muda, khususnya santri.

 

“KH Hasyim Asy’ari dan para kiai pesantren tidak hanya mendidik umat melalui ilmu agama, tetapi juga berperan dalam menanamkan semangat perjuangan, kecintaan terhadap Indonesia, serta tanggung jawab menjaga keutuhan bangsa,” ujarnya.

 

Rawasapi Bershalawat merupakan bagian dari peringatan Hari Santri 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.” Peringatan ini menjadi momentum untuk memperkuat peran pesantren dalam melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, serta mampu berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *