BeritaMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Tawarkan Lima Proyek Kerja Sama Umat dalam Konferensi Ulama di Istambul

22
×

Muhammadiyah Tawarkan Lima Proyek Kerja Sama Umat dalam Konferensi Ulama di Istambul

Sebarkan artikel ini

ISTANBUL  panjimas — Muhammadiyah mengajukan lima usulan kerja sama konkret kepada lembaga-lembaga Islam dunia dalam Konferensi Ulama    Internasional Wahdat al-Ummah al-Wasath di Istanbul, 28–30 Oktober 2026.

 

Utusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menyampaikan usulan tersebut dalam presentasinya di sidang ilmiah ketiga, Kamis (29/10).

 

Rofiq menyusun usulan-usulan itu dengan empat syarat: bisa berjalan dengan sumber daya yang ada, tidak bergantung pada transfer dana lintas negara, mulai dari skala kecil lalu berkembang, dan memiliki indikator capaian yang terukur setelah satu tahun.

 

Pertama, jaringan universitas umat yang dimulai dari sekitar sepuluh kampus dan ma‘had di berbagai negara, dengan pengakuan satuan kredit, pertukaran mahasiswa dan dosen selama satu semester, lalu program gelar bersama.

 

“Mahasiswa yang belajar satu semester bersama kawan-kawan dari mazhab lain akan mengalami langsung perbedaan dan belajar menghargainya. Pengalaman seperti itu jauh lebih membekas daripada deklarasi,” kata Rofiq.

 

Kedua, beasiswa lintas negara: lembaga atau dermawan di satu negara membiayai kuliah mahasiswa dari negara yang dilanda konflik atau bencana di kampus negara lain. Skema ini berupa pembayaran jasa pendidikan, sehingga tidak terbentur aturan wakaf dan transfer dana antarnegara.

 

Ketiga, kemitraan antarlembaga (taw’amah): lembaga pendidikan dan kesehatan yang sudah mapan mendampingi lembaga yang baru tumbuh di negara lain dalam hal manajemen, standar mutu, dan pelatihan staf.

 

Keempat, pelatihan singkat fikih tata kelola dan pengelolaan wakaf bagi pimpinan sekolah dan rumah sakit. Kelima, standar bersama tim tanggap darurat medis antarlembaga kesehatan Islam serta mekanisme koordinasi saat bencana.

 

Rofiq juga mengusulkan komite ilmiah para ahli falak dan fikih untuk mengkaji Kalender Hijriah Global Tunggal. Kongres Penyatuan Kalender Hijriah Internasional di Istanbul menetapkan kalender ini pada 2016, dan Muhammadiyah memberlakukannya sejak 1 Muharam 1447 H.

 

PUTM Terbuka bagi Mahasiswa Internasional

Muhammadiyah juga menyatakan kesiapan untuk ikut melaksanakan usulan tersebut. Rofiq menyampaikan bahwa PUTM, lembaga kaderisasi ulama Majelis Tarjih dan Tajdid sejak 1968 yang kini ia pimpin, siap langsung bergabung dengan jaringan universitas tersebut, mengirim thalabahnya ke lembaga-lembaga mitra, dan menerima mahasiswa dari negara Muslim mana pun.

 

PUTM membebaskan thalabah dari biaya kuliah. Karena PUTM menerapkan sistem asrama, thalabah membayar kontribusi asrama dan makan dalam jumlah kecil, dan biaya hidup di Indonesia terjangkau.

 

“Kami ingin usulan ini benar-benar terlaksana, dan Muhammadiyah memulai dari apa yang bisa kami kerjakan sendiri. PUTM terbuka bagi siapa pun dari dunia Islam yang ingin mendalami fikih, ushul fikih, tafsir, hadis, dan ilmu falak dengan manhaj tarjih,” ujar Rofiq. Ia berharap semua usulan ini menjadi bahan bagi lembaga yang menindaklanjuti hasil konferensi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *