BeritaNasionalNewsOpini

Prabowo, Hilirisasi dan Pesan Leluhur yang Bijak

8
×

Prabowo, Hilirisasi dan Pesan Leluhur yang Bijak

Sebarkan artikel ini

Panjimas – Kita selama ini lebih terkenal sebagai negara pengekspor bahan mentah yang harganya sangat murah ketimbang mengekspor barang jadi atau setengah jadi.

Padahal kalau kita bisa melakukan hilirisasi maka tentu keuntungan yang akan kita dapatkan jauh lebih besar dan berlipat-lipat dari yang ada hari ini. Sebagai contoh kita punya pasir kuarsa / silika.

Harga mentahnya hanya sekitar $60 / ton. Tapi kalau kita bisa mengolahnya menjadi barang jadi seperti kaca dan keramik maka harganya bisa menjadi $800/ton.

Apalagi kalau kita bisa merubahnya menjadi chip semikonduktor maka harganya bisa menjadi $1 juta/ton. Begitu juga untuk nikel. Harga bijih nikel sekitar Rp30.000 per kg (tergantung kadar dan fluktuasi pasar).

Bila diolah menjadi barang setengah jadi atau jadi (Feronikel / Produk Turunan) nilainya bisa melonjak hingga Rp200.000 per kg atau lebih tinggi lagi tergantung tingkat kemurnian dan produk akhirnya.

Bila timah kita ekspor dalam bentuk batangan ( ingot) harganya $25.000 /ton padahal kalau kita olah menjadi solder untuk HP iPhone, samsung, batterai maka harganya bisa sekitar $ 150.000/ton.

Jika kita mengekspor minyak kelapa sawit mentah ( CPO) harganya sekitar $900/ton.tapi kalau kita olah menjadi margarin dan minyak goreng kemasan harganya menjadi $ 2.500/ton.

Jika kita olah menjadi sabun atau shampo , kosmetik bisa $8.000 /ton. Kalau kita olah menjadi susu formula berbahan sawit harganya lebih mahal lagi yaitu $12.000/ton.

Oleh karena itu jika kita dan Prabowo ingin membuat rakyat negeri ini menjadi negeri yang makmur seperti yang diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945 maka tidak dapat tidak kita harus menghentikan ekspor bahan mentah dan menggantinya dengan ekspor barang jadi atau setengah jadi.

Untuk itu program hilirisasi menjadi sebuah kemestian karena lewat program itulah kita akan bisa membuat nilai tambah dan meningkatkan pendapatan negara secara signifikan.

Untuk melaksanakan program ini jelas tidak mudah karena para pengusaha yang sudah terbiasa mendapatkan cuan yang besar dari ekspor bahan mentah tentu tidak senang dan akan merasa terganggu.

Oleh karena itu untuk tercapainya tujuan tersebut Prabowo harus menyiapkan segala sesuatu yang terkait dengan itu.

Pertama, regulasi atau UU hilirisasi yang komprehensif dan terintegrasi yang memaksa para pengusaha untuk tidak lagi bisa menjual bahan mentah tapi harus menjual barang jadi atau minimal setengah jadi.

Kedua, pemerintah harus mengusahakan kehadiran listrik yang punya kapasitas besar dengan tarif yang murah karena hari ini tarif listrik kita masih terbilang mahal di banding dengan negara-negara kompetitor kita sehingga produk-produk smelter kita akan kalah bersaing.

Untuk itu adanya pembangkit listrik khusus untuk industri jelas sudah sangat diperlukan sehingga tidak lagi perlu memakai listrik PLN umum karena boleh dikatakan tanpa tarif listrik yang murah maka tidak akan ada barang jadi karena untuk apa kita memproduksi kalau barang yang kita produksi tidak kompetitif dan tidak laku dijual.

Ketiga, harus disiapkan pabrik peleburan ( smelter) dan kawasan industri yang terintegrasi. Untuk itu smelter yang kita bangun harus sampai 3 level yaitu level 1 ( ingot), level 2 (billet/ katoda) dan level 3 ( barang jadi seperti batteri, kabel, pelek dll).

Keempat, kita harus punya SDM dan teknologi. Kelemahan kita selama ini kita punya tambang tapi kita tidak punya orang yang bisa mengolahnya menjadi barang jadi.

Kelima, kita harus bisa membangun jalan dan pelabuhan yang dalam untuk kapal besar serta perizinan satu pintu yang cepat dan terbuka sebab kalau pengurusan izin terlalu lama dan bertele-tele maka investor tentu akan memilih kabur dan pindah ke negara lain.

Keenam, karena persaingan cukup ketat maka sebaiknya kita memfokuskan kegiatan kita terlebih dahulu ke pasar dalam negeri karena kalau tidak maka kita akan bisa kecele, karena kita bisa bikin baterai tapi perusahaan mobil listriknya ada di china.

Untuk itu bagi terciptanya pasar dalam negeri yang bagus dan luas maka harus ada keberpihakan dimana pihak BUMN dan pemerintah harus mau memakai hasil dari produk hilirisasi lokal kita. Untuk melaksanakan semua itu jelas tidak mudah karena tidak tertutup kemungkinan dalam rentang waktu tertentu kebijakan ini jelas akan berdampak terhadap menurunnya penerimaan negara. Disinilah relevannya kita memahami salah satu peribahasa yang disampaikan oleh para leluhur kita yang bijak yang mengatakan berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian. bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Ini artinya jika kita ingin menggapai suatu cita-cita memang tidak mudah karena akan banyak halangan dan rintangannya. Untuk itu kita harus memperkuat kesabaran kita sambil terus berfikir dan bekerja keras. Insya Allah diujungnya kita akan bisa meraih apa yang menjadi tujuan dan cita-cita kita bersama yaitu terciptanya keadilan sosial dan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Anwar abbas
Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *