NasionalNews

Ummatan Wasatha Menurut Mendikdasmen : Perkara yang Paling Baik adalah yang Paling Tengah

60
×

Ummatan Wasatha Menurut Mendikdasmen : Perkara yang Paling Baik adalah yang Paling Tengah

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Ummatan wasatha adalah mengambil sikap yang lurus, sikap tengah yang tidak ekstrem. Ringkasnya memiliki sikap yang adil dan moderat.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti di acara Pengkajian Ramadan 1446 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Jumat (7/3/2025).

”Perkara yang paling baik adalah yang paling tengah,” seloroh Abdul Mu’ti.

Menurut Abdul Mu’ti, ummatan wasatha yaitu umat yang adil. Umat yang adil itu ada dua. Yaitu ‘adilun fi ‘ilmi dan ‘adilun fi hukmi.

”‘Adilun fi ‘Ilmi adalah orang yang adil yang memiliki keilmuan yang tinggi. ‘Adilun fi hukmi adalah orang yang menegakkan hukum dengan seadil-adilnya. Adil dalam pengertian ilmu adalah orang yang bersikap secara objektif, berani berkata yang benar adalah benar, salah adalah salah,” ujar Mendikdasmen.

Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UMJ ini lalu mengutip Al-Quran surah Al-Qasas ayat 77. Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia.

”Maksudnya tidak condong, karena keduanya perlu dilakukan,” tuturnya.

Kemudian dia mengutip pendapat Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya, wasatha dipahami sebagai pilihan yang terbaik. Ibnu Katsir juga menyebut wasatha sebagai moderat, tidak ekstrem atau bersikap berlebihan.

“Dalam pendekatan Ibnu Katsir dijelaskan, agama yang seimbang adalah antara yang material dan spiritual, duniawi dan ukhrawi,” ujar Mu’ti yang juga Sekretaris Umum PP Muhammadiyah.

Ummatan wasatha, sambung dia, harus moderat, bijaksana karena ilmunya. Sebab prasangka itu tidak membawa manusia kepada kebenaran.

”Sementara ilmu adalah kunci manusia menjadi orang yang bijaksana dan berpijak pada kebenaran,” katanya.

Menurut dia, Teologi Islam Wasathiyah berkemajuan yang dikembangkan Muhammadiyah merupakan perpaduan antara Teologi Al-Maun dan Teologi Al-Ashr.

”Konsep ini menegaskan posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tengahan, yang tidak condong ke ekstrem liberal maupun ekstrem konservatif,” tuturnya.

Sebagai organisasi Islam berkemajuan, kata dia, Muhammadiyah berkomitmen untuk mengembangkan konsep Islam wasathiyah atau Islam moderat dari tinjauan teologis, ideologis hingga secara praksis ditengah fenomena global saat ini.

Adanya penanaman konsep Islam wasathiyah bagi warga persyarikatan Muhammadiyah dapat menjadi penengah untuk menghadapi segala persoalan global.

Di sisi lain, lanjut dia, penguatan tentang Islam Berkemajuan yang dibahas dari hasil Muktamar Surakarta sejalan dengan konsep Islam wasathiyah atau Islam moderat, yaitu bagaimana posisi Islam wasathiyah secara teologis oleh Muhammadiyah dapat menjadi jalan tengah di tengah fenomena global keagamaan dan tidak terjebak dalam ekstremisme kanan atau kiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *