KH Ahmad Dahlan
Mahasiswanya menegah-kebawah, terlihat sederhana serta polos adanya, adab menjadi standar reputasinya.
Cerita dimulai dari sini.
Tetap saja, saya merasa bangga bahwa lulus dari kampus ini, dosennya sederhana & tawadhu, kampusnya biasa saja, tidak menjadikan reputasi adalah segala-galanya.
Wacana keilmuan & Keislaman adalah purposed besar perpaduan smart people sejalan dengan wise people baginya.
Semua mengalir dalam ekosistem belajar berbagi keteladanan sebagai jatidiri, adab serta legacy yang dibawa mereka dalam kemuliaan diri, begitulah kampus Muhammadiyah melatih jiwa-jiwa polos berderap untuk jalan berkelok diujung masa kelak nanti.
Hari ini disaat paradoxal pola kebijakan pendidikan nasional yang kehilangan arah, serta banyak kampus berbuat sebatas memoles reputasi dengan berjual beli gelar, demi gengsi para pejabat negeri, memenuhi hasrat untuk mencari ruang profit belaka, malah Muhammadiyah menuai prestasi, QS index reputasi tumbuh dan naik significant. Apresiasi sebagai pengakuan membanjiri ruang civitas akademika sejumlah kampus Muhammadiyah.
Kita semua tahu atas realitas bahwasanya Muhammadiyah, tetap bertahan dengan SPP murah meriahnya, naik tak seberapa setiap tahunnya, demi upaya terjangkau untuk anak-anak tak mampu negeri ini, Muhammadiyah memahami bahwa pendidikan adalah hak bagi rakyat Indonesia.
Kita semua tahu, banyak yang mendaftar karena murahnya.
Kita semua tahu yang mendaftar tidak ada pilihan kampus baginya.
Kita semua tahu bahwa terkadang ini bukan pilihan utamanya.
Tapi cerita menjadi berbeda, disaat kampus-kampus papan atas yang jaim menjaga reputasi, berlomba mencari potensi-kapabilitas talentanya, sebagai kriteria & syarat mutlak untuk diterima, di kampus Muhammadiyah malah membuka ruang kepada siapapun yang ingin masuk & dapat belajar sebagai kesadaran atas hak dasar bagi siapapun anak negeri dalam pilihan di 147 universitas di pelosok negeri, sebagai pintu gerbang-kawah candradimuka terbaik, didukung pula dengan sikap moral para pendidik dengan sabar dan tawadhu; mereka membasuh, mendidik dan menempa penuh welas asih serta keteladanan.
Mereka yang tadinya biasa saja, seiring waktu berjalan mereka menjadi hebat luar biasa, tentu sosok talenta unggul bersiap untuk menjadi key player penentu arah cita cita pendiri bangsa.
Demikianlah guru-guru sosok pendidik Muhammadiyah yang sederhana dan tanpa pamrih menyemai nilai-nilai kemuhammadiyahan serta akidah keislaman sebagai values, patut disadari hakikat pendidikan, etika moral serta adab akan tumbuh menjadi belief jati diri mereka bila kebijakan pendidikan menyertakan karakter menjadi prioritasnya.
Siapapun mereka atas asal, warna kulit, etnis, agama dan peradaban, bukan ukuran bagi Muhammadiyah untuk melakoni dengan sepenuh hati, Muhammadiyah paham betul arti pluralisme, keragaman serta nasionalisme bagaimana hal ini mengiringi nilai nilai inti akidahnya.
Muhammadiyah mempunyai jalan panjang dan berkelok atas problem bangsa, gaduh politik tidak serta merta bereforia dan latah cawe cawe atasnya. Pak Haidar Nasir punya sikap moral atas kebijakan pendidikan tidak untuk diperjual belikan atas nana politik praktis, tetapi mendidik adalah amanah para pendiri bangsa yang patut dijaga kualitas dan keberlanjutannya.
Pengabdian & ketelatenan sang pendidik bagi calon leader bangsa, dimulai, bagaimana mereka menempa dan membentuk culture Muhammadiyah sebagai benih baik mahasiswa. Mereka tumbuh bak design produk berkualitas unggul, presisi & berdaya, menyemai keteladanan, mempertahankan values benih baik atas setiap inisiatif bagi karirnya kelak.
Mereka bersiap melompat jauh, menapaki pilihan karir dengan pasti, walau terkadang tidak mudah, tetapi bersama benih baik Muhammadiyah, mereka terus membawa serta & menyemaikannya keteladanan adalah karakter khas kemuhammadiyahan yang melekat kuat, mengakar dalam kinerja ungul dan amanah, bagai cermin yang tak retak oleh sikap instant orang-orang sekelilingnya.
Kita tahu tidak sedikit lembaga pendidikan diluar sana menyajikan program lulus tanpa kuliah, gelar dapat dibeli serta reputasi tanpa upaya sebagai sebatas pepesan kosong mengejar posisi tanpa ikhtiar.
Satu lagi, adanya fenomena tanpa malu atas keserakahan sana-sini dipertontonkan dalam lorong gelap korupsi tiada henti para pejabat negeri inilah bukti konkrit hasil pendikan yang patut berbenah diri. Bagai sebuah masa yang absurb ketika sebuah negeri mendapati para pejabat negerinya meninggalkan warisan buruk kelak untuk cerita bagi anak cucu kita.
Kita semua masih ingat, pesan pendiri Muhammadiyah, Bapak K.H. Ahmad Dahlan; “Jangan cari hidup di Muhammadiyah, tapi hidup-hidupilah Muhammadiyah.”
Terima kasih Muhammadiyah untuk legacy tanpa batas, menghantarkan para leader Bangsa menata shaf atas amanah kepemimpinan nadional, juga tepat rasanya para punggawa pendidikan nasional datang dari Muhammadiyah, kami semua para talenta unggul Muhammadiyah di 147 Universitas, 5000 lebih sekolah dasar, menengah hingga atas memberikan dukungan moral atas lembaga pendidikan yang tetap dalam keteladanan, bagaimana pendidikan Muhammadiyah cermin masa depan anak bangsa.
Satu lagi, ini bukan sebuah pembuktian, hari ini pendidikan nasional di tangan kader Muhammadiyah yang mana ladang pendidikannya yang tersebar ribuan di pelosok negeri dan global adalah wajah reputasi.
Semakin bangga menjadi alumni Muhammadiyah
Fastàbihul khairat, jalan lurus dalam keteladanan tanpa batas waktu.
Hambalang, 23 Ramadhan 1446 H
Dr. M. Aditya Warman. MBA
Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta, Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan













