NasionalNews

Muhammadiyah Sulsel Tunjukkan Tekad Besar di Hadapan Haedar pada Momen Syawalan 1446

60
×

Muhammadiyah Sulsel Tunjukkan Tekad Besar di Hadapan Haedar pada Momen Syawalan 1446

Sebarkan artikel ini

Makassar, panjimas – Semangat kebersamaan membuncah di halaman Gedung Dakwah Muhammadiyah Tamalanrea, Makassar. Sejak Ahad (6/4/25) pagi, ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan memadati lokasi. Syawalan 1446 yang digelar Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel bukan hanya menjadi ajang saling bermaafan, tapi juga medan menyatukan tekad dan menyuarakan langkah-langkah besar ke depan.

“Ini adalah momen untuk semakin mempererat ukhuwah, meneguhkan semangat perjuangan, serta menata langkah-langkah strategis ke depan,” ujar Ketua PWM Sulsel, Prof. Ambo Asse, dalam sambutannya yang membangkitkan semangat hadirin.

Momentum ini juga dijadikan panggung untuk mengumumkan rencana pembangunan Gedung Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) setinggi 13 lantai. Dengan estimasi biaya lebih dari Rp70 miliar, proyek ini ditargetkan rampung dalam dua tahun.

Meski dana awal belum sepenuhnya terkumpul, Prof. Ambo menyatakan keyakinannya terhadap kekuatan gotong royong warga Muhammadiyah se-Sulsel. “Kita mulai saja dulu,” ucapnya penuh optimisme.


Yang membuat acara ini semakin berkesan adalah kehadiran Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. Ia datang bersama Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah, Dr. Hj. Norjannah Djohantini, serta jajaran pimpinan pusat lainnya. Kehadiran mereka bukan sekadar simbolis, tetapi menjadi pemantik semangat warga Muhammadiyah Sulsel untuk terus melaju.

“Saya belum pernah menghadiri Syawalan yang sekaligus mencanangkan pembangunan gedung 13 lantai. Ini luar biasa dan sangat membanggakan,” tutur Prof. Haedar, memuji langkah besar yang ditunjukkan PWM Sulsel.

Ia juga menekankan pentingnya kemandirian dalam menjalankan roda organisasi. “Pimpinan Pusat tidak memberikan subsidi kecuali untuk daerah-daerah terpencil. Wilayah seperti Sulsel memang tumbuh dari kekuatan sendiri, dan ini menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah memiliki daya juang yang luar biasa,” katanya.

Tak hanya soal pembangunan fisik, Prof. Haedar juga mengingatkan pentingnya silaturahmi sebagai sarana spiritual pasca-Ramadhan. “Puasa mengajarkan kita untuk menahan amarah, mewakafkan harta, dan menjaga hubungan sosial. Inilah jalan menuju ketakwaan yang sesungguhnya,” jelasnya.

Ia memuji militansi kader Muhammadiyah Sulsel yang tetap teguh menjaga nilai-nilai Islam di tengah dinamika zaman. “Nilai-nilai keislaman dijaga dengan baik oleh warga Muhammadiyah, termasuk di Mandar dan Toraja. Ini adalah contoh nyata bagaimana Muhammadiyah menjadi kekuatan besar dalam membangun masyarakat yang berkemajuan,” tambahnya.

Kebahagiaan warga Muhammadiyah Sulsel pun kian lengkap dengan kabar bahwa provinsi ini ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) tahun depan. “Mari kita sambut amanah ini dengan kebersamaan dan kerja keras,” ajak Prof. Ambo.

Syawalan kali ini menjadi lebih dari sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi panggung harapan, tempat menyemai mimpi besar, dan momen untuk membuktikan bahwa Muhammadiyah Sulsel siap menapaki masa depan dengan percaya diri dan tekad membangun peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *