Jakarta, panjimas – Serangan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai berpotensi menyulut Perang Dunia Ketiga. Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, menegaskan bahwa Iran memiliki persenjataan canggih, termasuk rudal balistik, sehingga tidak mudah ditaklukkan begitu saja.
Jika situasi memanas, Amerika Serikat diperkirakan akan meminta dukungan dari sekutu-sekutunya seperti Inggris, Prancis, dan sejumlah negara Arab tertentu. Sebaliknya, negara-negara besar yang menentang sikap arogan Amerika Serikat—seperti Rusia, Tiongkok, dan Pakistan—berpotensi merapat ke pihak Iran. Din Syamsuddin menilai, inilah potensi awal malapetaka baru bagi dunia.
Lebih jauh, Din Syamsuddin memprediksi bahwa Dunia Islam, khususnya kawasan Arab, kemungkinan besar akan bersimpati kepada Iran sebagai sesama negara Muslim, atau minimal memilih bersikap diam dan netral.
Ia mengutip pernyataan Raja Salman yang disiarkan sejumlah media: jika Iran diserang Amerika Serikat, maka Arab Saudi akan menunjukkan simpati kepada Iran. Jika sikap ini benar-benar terwujud, Din memperkirakan negara-negara Arab lain pun akan condong mendukung Iran, apalagi jika konflik berubah menjadi Perang Dunia Ketiga dengan episentrum di Timur Tengah.
“Negara-negara Arab adalah pihak yang paling terkena dampaknya. Jika Selat Hormuz membara atau ditutup, harga minyak dunia pasti melonjak, memicu resesi global,” ujar Din Syamsuddin, dalam keterangan tertulis, Senin (23/6/25) sore,
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah ini mengingatkan bahwa Dunia Islam sejatinya tidak pernah lepas dari dampak buruk perang global maupun konflik kawasan. Karena itu, ia menyerukan agar umat Islam bersatu, mengesampingkan perbedaan mazhab dan aliran teologi—terutama antara Sunni dan Syiah—untuk bersama-sama menegakkan keadilan dan mewujudkan perdamaian sejati.
Menurut Din, eskalasi di Timur Tengah tidak terlepas dari isu Palestina. Israel yang kesulitan menguasai Palestina, khususnya Gaza, menjadikan dukungan Iran terhadap Hamas dan kelompok Houthi di Yaman sebagai dalih untuk menyerang Iran.
“Inilah agitasi dan kalkulasi yang keliru. Serangan Israel ke Iran sama saja dengan menggali kuburnya sendiri. Amerika Serikat yang turun tangan membela Israel pun mengambil langkah yang tidak strategis,” tegasnya.
Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia menyinggung bahwa alasan moral Amerika Serikat—yakni menghancurkan instalasi nuklir Iran—tidak berbeda dengan dalih menyerang Irak pada masa Saddam Hussein, yang akhirnya terbukti tidak memiliki senjata pemusnah massal. Ia juga menilai Presiden Donald Trump tidak mempertimbangkan reaksi dunia, termasuk rakyat Amerika sendiri yang banyak mengecam kebijakan agresifnya.
Kini, dengan pengerahan kapal induk dan persenjataan ke kawasan Timur Tengah, Din Syamsuddin menegaskan perlunya Dunia Islam menolak provokasi perang perwakilan (proxy war) yang selama ini memecah belah negara-negara Muslim.
“Saatnya keadilan ditegakkan. Tiada perdamaian tanpa keadilan, tiada keadilan tanpa kebenaran,” kata Ketua Poros Dunia Wasatiat Islam tersebut













