CitizenMuhammadiyahOpini

UMY Tegaskan Perbedaan Peradaban Islam dan Barat: Menolak Maju Sendiri, Mengusung Nilai Kemanfaatan

114
×

UMY Tegaskan Perbedaan Peradaban Islam dan Barat: Menolak Maju Sendiri, Mengusung Nilai Kemanfaatan

Sebarkan artikel ini

Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA
(Sekretaris Universitas)

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menegaskan bahwa filosofi dakwah dalam Islam adalah menyebarkan kebenaran dan kebaikan untuk membawa kemajuan bagi seluruh umat manusia. Namun, kemajuan yang dimaksud bukanlah sekadar pertumbuhan material, melainkan kemajuan yang berlandaskan nilai-nilai moral, menciptakan kemakmuran di bumi serta kesejahteraan bagi seluruh penghuninya, bukan sebaliknya, justru mendatangkan kerusakan dan kehancuran.

Berbagai macam daya upaya telah dilakukan manusia untuk membawa kemajuan itu sendiri, berbekal akal pikiran yang dianugerahkan Allah.

Dalam perjalanan sejarah, kita menyaksikan bagaimana peradaban manusia tumbuh dan berkembang pesat melalui kekuatan akal dan ilmu pengetahuan. Saat ini, dunia berada di bawah dominasi peradaban Barat yang unggul dalam banyak aspek, mulai dari ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), hingga ekonomi, politik, dan kekuatan militer.

Namun, kemajuan Barat itu menyimpan ironi. Ia kerap dibarengi dengan keangkuhan, egoisme, dan sikap superioritas. Dalam praktiknya, seringkali kita melihat Barat mendikte, memaksakan kehendak, menyingkirkan, mengeksploitasi, bahkan menindas bangsa-bangsa lain. Lihatlah apa yang terjadi di Palestina, Suriah, Libya, Irak, Afghanistan, hingga Iran. Semuanya menjadi contoh nyata bagaimana kemajuan yang tak disertai adab dapat berubah menjadi ancaman global.

Berbeda halnya dengan Islam yang membawa konsep dakwah berkemajuan, yakni dakwah yang mengusung nilai adab dan peradaban. Islam mengajarkan bahwa kemajuan harus selaras dengan akhlak, moralitas, kasih sayang, perlindungan, penguatan, sinergi, dan keberpihakan terhadap sesama. Kemajuan dalam perspektif Islam adalah kemajuan yang tidak berjalan sendiri, tapi membawa serta kebaikan bagi orang lain.

Inilah prinsip yang diusung Muhammadiyah dalam gerakan dakwahnya, yakni mendakwahkan Islam yang berkemajuan melalui berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi. Di bidang pendidikan, misalnya, Muhammadiyah tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga mendorong lahirnya institusi-institusi unggul dan inklusif.

UMY menjadi teladan nyata dari dakwah berkemajuan Muhammadiyah. UMY membuktikan bahwa sebuah institusi dapat maju tanpa meninggalkan yang lain. UMY hadir sebagai berkah bagi masyarakat, bersinergi untuk memperkuat amal usaha Muhammadiyah di berbagai daerah.

Komitmen UMY dalam mendakwahkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dilakukan melalui semangat ta’awun (saling membantu) yang bersifat lintas batas (borderless). UMY terus berbagi, bukan hanya dengan masyarakat sekitar, tetapi juga dengan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) lain di Sumatra, Maluku, Papua, bahkan luar negeri.

Fokus pada sinergi dan kolaborasi ini menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah tidak bertujuan untuk membesarkan diri sendiri, melainkan membangun kemajuan kolektif yang berkelanjutan dan berdampak luas bagi umat.

(Naskah ini merupakan penggalan dari khutbah Jum’at (20/6) yang disampaikan oleh Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA di Masjid Kampus UMY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *