MuhammadiyahNasionalNews

Abdul Mu’ti: Al-Ma’un Tak Hanya Dibaca, Tapi Harus Diwujudkan dalam Aksi Nyata

30

Jakarta, panjimas – Pentingnya memahami surah Al Ma’un tidak hanya sebagai bacaan rutin dalam salat, tetapi sebagai dokumen sosial yang menuntut aksi nyata.

Hal ini disampaikan oleh Prof Dr H Abdul Mu’ti Med dalam materi kuliah subuh di Masjid Al Huda, kompleks Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (PPSDM) Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia, Depok, Jumat (27/6/2025).

Kegiatan ini menjadi bagian dari Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II dan Silaturahmi Nasional (Silatnas) Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Dalam ceramahnya, Prof Mu’ti menekankan pentingnya memahami surah Al-Ma’un tidak hanya sebagai bacaan rutin dalam salat, tetapi sebagai dokumen sosial yang menuntut aksi nyata. Ia menegaskan bahwa keimanan yang sejati harus terwujud dalam kepedulian kepada sesama, terutama terhadap anak yatim dan kaum miskin.

“Al-Ma’un bukan sekadar surat pendek untuk dibaca, tapi seruan kuat agar kita membela mereka yang terpinggirkan. Kita perlu bergerak dari belas kasihan menuju pemberdayaan,” ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini.

Kritik Al-Qur’an terhadap Iman yang Tidak Sosial

Mendikdasmen RI tersebut menjelaskan bahwa ayat pertama Al-Ma’un “Ara’aita alladzi yukadzdzibu biddin” adalah bentuk gugatan terhadap praktik beragama yang tidak berakar pada etika sosial. Ia menyebut, roa dalam Al-Qur’an tidak hanya bermakna melihat secara fisik, tetapi juga pemahaman spiritual dan tindakan etis terhadap realitas.

“Indikator keimanan bukanlah rajin beribadah saja, melainkan apakah kita peduli terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kelompok yang rentan,” jelasnya.

Dalam pandangannya, istilah yatim tidak hanya merujuk pada anak-anak yang kehilangan orang tua, tetapi juga pada mereka yang kehilangan akses terhadap ilmu, pengasuhan, dan keadilan sosial. Ia mengutip tafsir Bintus Syathi’, mufassirah asal Mesir, yang menafsirkan “yatim” dalam arti yang lebih luas, termasuk mereka yang tersingkir dari sistem pendidikan dan sosial.

“Orang miskin ilmu, orang yang tidak mendapatkan akses untuk berkembang, juga termasuk yatim dalam makna sosial. Mereka harus didampingi, bukan diabaikan,” imbuhnya.

Mu’ti menyebut bahwa eksploitasi anak, pernikahan dini, kerja paksa, dan kebodohan sistemik merupakan bentuk-bentuk baru dari yatim yang harus menjadi perhatian umat.

Dari Charity ke Empowerment

Mu’ti menekankan perlunya pergeseran paradigma dari pendekatan karitatif ke pemberdayaan. Ia menyebut bahwa pemberian santunan seringkali bersifat sementara dan menciptakan ketergantungan.

“Sudah saatnya kita tidak sekadar memberi santunan. Kita harus memberi akses─pendidikan, keterampilan, dan kesempatan agar mereka bangkit. Jangan hanya beri kail pastikan ada kolamnya,” tegasnya.

Lebih lanjut Mu’ti mengingatkan bahwa sejak awal, KH Ahmad Dahlan telah menafsirkan Al-Ma’un secara progresif sebagai dasar pembentukan amal usaha Muhammadiyah. Maka menjadi tugas kolektif warga persyarikatan untuk melanjutkan visi tersebut.

“Wali bukan satu orang, tapi kita semua. Tugas kita adalah membimbing dan memberdayakan,” ujarnya.

Membangun Keluarga, Menguatkan Masyarakat

Dalam kesempatan itu, Mu’ti juga menyampaikan keprihatinan terhadap krisis keluarga di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Sosial, tercatat lebih dari empat juta pernikahan tidak tercatat secara resmi setiap tahun, berbanding jauh dengan angka pernikahan resmi.

Menurutnya, kondisi ini melahirkan generasi yang rapuh secara sosial, hukum, dan emosional. Anak-anak yang lahir dari keluarga tidak stabil sering kali menjadi korban eksploitasi atau kehilangan jaminan perlindungan.

“Kita tidak bisa hanya menyelesaikan di hilir. Kita harus mulai dari hulu─memperbaiki sistem keluarga, pencatatan sipil, dan penguatan pendidikan karakter,” katanya.

Mu’ti menutup kuliah subuhnya dengan ajakan untuk menjadikan Al-Ma’un sebagai dasar gerakan sosial, bukan hanya bahan bacaan. Ia menekankan bahwa setiap bentuk ibadah harus berdampak sosial.

“Jangan jadikan Al-Ma’un sekadar surat yang dihafal. Jadikan ia roh gerakan. Karena iman sejati adalah keberpihakan kepada mereka yang paling lemah,” pungkasnya

Exit mobile version