Jakarta, panjimas – Prof.Dr. Andi Faisal Bakti, MA Direktur Center for Information and Development Studies Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (CIDES-ICMI) mengatakan bahwa peran penting atas kehadiran para nara sumber dan peserta Muzakarah Ulama dan Cendekiawan dalam Majelis Muzakarah untuk Mewujudkan Indonesia Emas 2045 di ruangan VVIP Masjid Istiqlal Jakarta pada hari Rabu, (27/8/25).
Majelis ini merupakan kelanjutan dari Pengajian Reboan Menteria Agama Prof. Dr. Nasarudin Umar, MA. Sebagai wujud dari kepedulian cendekiawan yang di motorori Prof. Dr. Nur Cholis Madjid. Kondisi bangsa yang masih tinggi angka kemiskinan. Namun ketika kita bersatu maka Indonesia akan Maju salah satunya dengan adanya program Presiden Prabowo seperti MBG, Koperasi Merah Putih, dll.
Masih menurutnya di MUI ada sekitar 1000 an para ulama yang telergabung serta di ICMI pun demikian para ulama, umara’ dan cendekian. Narasumber yang ditampilkan Prof. Arif Satria, Prof, Dr. Said Agil Siraj, Prof. Dr. Mahfud MD, Dr. Amirsyah Tambunan, Prof. Dr. Yuddy Chrisnandi, SE, ME, Dr. Mulawarman, Hannase, LC, MA, Sebagai moderator Dr. Hery Margono, MH. Pembicara kunci Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA.
Ia berharap Majelis Muzakarah harus memberikan kontribusi dalam memajukan kesejahteraan rakyat. Begitu juga dengan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Arif Satria, menegaskan bahwa program ICMI kembali ke desa untuk membangun desa. Jadi bukan sekedar wacana akan tetapi juga praktek.
Lebih lanjut Menag RI mengatakan Masjid menjadi forum kebebasan. Siapa yang masuk ke Istiqlal dengan kebebasan atau kemerdekaan, bukan kekuatan asing. Juga muzakah harus bisa membangkitkan tradisi intelektual. Para intelektual muslim yang telah berhasil mendorong kemajuan dunia Barat dengan lahirnya tokoh Islam seperti banyak para pemikir filsafat seperti : Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rush, Al Ghazali, Jahaluddin Rumi, dan lain sebagainya yang menjadi pilar dan tradisi pemikir cemerlang dari Islam.
Oleh karena itu penting melakukan Muzakarah Ulama dan Cendekiawan artinya adalah berdiskusi, bertukar pikiran, atau bermusyawarah. Dalam konteks keagamaan, muzakarah juga berarti kegiatan mengulang pelajaran bersama-sama atau membahas suatu masalah agama dengan tujuan mencapai pemahaman yang lebih baik.
Dr Amiryah Tambunan selaku Sekjen MUI Pusat menegaskan bahwa sejalan dengan tema in, ada tiga kata kunci; pertama, demokrasi, kedua, kesejahteraan; ketiga, Indonesia Emas 2045. Terkait demokrasi dari, oleh dan untuk rakyat baru di nikmati sekelompok orang.
Padahal demokrasi harus menjamin kesejahteraan rakyat. Misalnya pilihan teokrasi, kerajaan harus menjamin kesejahteraan rakyat. Demikian juga demokrasi harus menjamin pelaksanaan kesejahteraan rakyat. Sebaliknya teori demokrasi, teokrasi yang tidak menjamin pelaksanaan demokrasi harus di tolak. Ia mengajak mari menjadi pejuang demokrasi, bukan pecundang demokrasi.
Penguatan Demokrasi
Demokrasi saat ini masih bersifat prosedural yakni menjalankan demokrasi yang bersifat prosedur. Sedangkan demokrasi substantif adalah sistem yang benar-benar mewujudkan nilai-nilai demokrasi seperti jujur dan adil (jurdil) dengan persamaan hak, kesetaraan, dan pengakuan keberagaman melalui pemenuhan hak-hak rakyat serta partisipasi masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat.
Secara substansi atau isi dari sistem demokrasi itu sendiri, yaitu negara harus memenuhi hak-hak warga negara seperti memenuhi amanat pasal 33 UUD mengharuskan negara mendribusikan kekayaan alam untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. “Warga ICMI optimis melakukan ikhtiar memperjuankan demokrasi bukan menjadi pecundang demokrasi,” pungkas Sekjen MUI
