Jakarta, panjimas – Aula SMA Muhammadiyah 1 (Smamsatu) Gresik, Sabtu (6/9/2025), dipenuhi pelajar dengan jas almamater kuning. Mereka hadir dalam forum Gen-Z Future Leaders 2025 yang digelar PW IPM Jawa Timur dengan tema “Pelajar Bijak dan Berkarakter, Siap Berdampak di Era Ketidakpastian.”
Mengenakan jas kuning khas IPM, Fajar Izzul Muslimin, Sekretaris Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PD IPM Gresik, memandu jalannya forum sebagai moderator. Di panggung utama, Dr. Azaki Khoirudin, S.Pd.I., M.Pd., alumnus Smamsatu Gresik yang kini menjadi Tenaga Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, tampil dengan batik cokelat bernuansa Jawa. Senyum lepasnya membuat suasana cair.
Sementara itu barisan kursi merah di depan panggung tampak penuh oleh pelajar Muhammadiyah yang duduk rapi memperhatikan jalannya acara. Sebagian menunduk mencatat, sebagian lain mengangkat kepala penuh konsentrasi ke arah panggung. Atmosfer ruang terasa padat energi muda, sebuah pemandangan yang menegaskan forum ini benar-benar menjadi milik mereka.
Dari IPM Desa hingga Kementerian
Azaki membuka paparannya dengan nada reflektif. Ia mengenang perjalanan panjangnya sejak menjadi ketua IPM di tingkat desa, ranting, hingga cabang, sebelum akhirnya dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal PP IPM. Pada masa SMA, ia bersama rekan-rekannya pernah merintis dan menghidupkan kembali cabang-cabang IPM yang sempat vakum.
Pengalaman berorganisasi itu, katanya, sangat memengaruhi jalannya kehidupan. Ia kemudian menempuh pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktor, menjadi dosen di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), dan turut menyusun paradigma keilmuan khas kampus tersebut. Beberapa gagasan yang ia lahirkan semasa di IPM, seperti Gerakan Pelajar Berkemajuan dan sistem perkabelan IPM, hingga kini masih digunakan.
“Kalau ingin tahu masa depan, lihat apa yang kita lakukan hari ini. Semua karier saya di kampus, di Muhammadiyah, hingga di kementerian, tidak jauh-jauh dari apa yang saya lakukan saat di IPM,” ujarnya, disambut anggukan para peserta.
Dengan mengutip tradisi sufi, ia menegaskan, “Siapa yang mengenali dirinya, ia akan menemukan masa depannya.” Baginya, pelajar Muhammadiyah harus berani menjadi subjek, bukan sekadar objek. “Gen Z IPM harus tampil sebagai subjek perubahan. Sudah saatnya pelajar tidak hanya menerima, tetapi memberi warna dan arah bagi bangsa,” tambahnya.
Gagasan ini, katanya, terinspirasi dari teori atomic habits yang menekankan bahwa kebiasaan kecil tidak bisa diremehkan karena akan membentuk karakter dan, pada akhirnya, peradaban. Tujuh kebiasaan itu antara lain bangun pagi, rajin beribadah, belajar dengan tekun, gemar membaca, aktif bermasyarakat, hingga menjaga pola tidur lebih awal.
Ia menekankan, inti kepemimpinan ada pada kemampuan mengelola emosi. “Orang sukses bukan yang paling pintar, tapi yang bisa mengelola emosi. Organisasi seperti IPM adalah laboratorium terbaik untuk melatih itu,” jelasnya. Mengelola emosi, tambahnya, bukan hanya inti dari kepemimpinan, tetapi juga kunci moderasi—kemampuan bersikap bijak di tengah perbedaan.
Selain kecerdasan emosional, Azaki menyoroti pentingnya resiliensi, yang ia sebut sebagai daya lenting sekaligus daya banting. Resiliensi mengajarkan pelajar untuk terbiasa menghadapi konflik, menahan diri, dan bangkit kembali setelah jatuh. “Biasanya yang kalah itu yang marah, yang ngambek. Resiliensi mengajarkan kita untuk menahan diri, bernegosiasi, dan terbiasa menghadapi masalah,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya konsistensi dalam menjaga rekam jejak. “Sekali kita tidak konsisten, berat rasanya untuk mempertahankan kepercayaan. Konsistensi adalah pekerjaan kecil tapi sulit,” katanya. Konsistensi, menurutnya, bukan sekadar keselarasan kata dan perbuatan, tetapi kesetiaan menjaga kebiasaan kecil secara terus-menerus.
Untuk menjaga konsistensi, pelajar perlu memiliki sosok panutan. Dalam beragama, idola terbaik adalah Nabi Muhammad Saw. Sementara dalam bidang profesional, pelajar bisa belajar dari tokoh yang sesuai cita-citanya—baik akademisi, politisi, maupun atlet. “Idola itu memberi arah. Kalau mau jadi akademisi, ya harus gemar membaca buku-buku akademik. Jangan ingin jadi ilmuwan tapi malas membaca,” pesannya.
Azaki juga berpesan agar IPM tidak dijadikan sumber stres. Forum dan rapat, katanya, jangan terlalu kaku, melainkan harus bisa menjadi tempat yang menyenangkan. “Kalau rapat kebanyakan malah bikin capek. Perbanyak ngobrol santai, ngopi bareng, dari situ biasanya ide-ide besar lahir,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebagai penutup, ia membandingkan generasi IPM pada masanya yang identik dengan militansi—kuat, tangguh, dan serius berorganisasi—dengan generasi saat ini. “Mungkin konsep militansi dulu perlu disesuaikan. Gen Z hari ini harus menemukan gaya baru yang lebih sesuai zamannya, tanpa kehilangan semangat untuk berjuang,” ujarnya
