Jakarta, panjimas – Komisaris Utama Bank Syariah Indonesia (BSI) Muhadjir Effendy menyampaikan pandangannya tentang pentingnya membangun ekosistem yang tidak saling mematikan. Ia menyebut BSI sebagai bank syariah terbesar harus berperan melengkapi, bukan justru menghambat tumbuhnya BPR Syariah.
”BSI tidak boleh menjadi predator bagi BPR Syariah,” kata Muhadjir dalam peluncuran BPR Syariah Matahari (BSM) di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Menurutnya, BSI sebaiknya berfokus pada sektor wholesale dan korporasi, sementara BPR Syariah menggarap sektor mikro dan kecil. Dengan pembagian peran semacam ini, pertumbuhan perbankan syariah akan lebih sehat dan terarah. Ia juga mengingatkan bahwa literasi keuangan syariah di Indonesia sudah mencapai 43 persen, tetapi inklusinya baru 13 persen. Artinya, ruang pengembangan masih sangat luas. Dengan 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam, peluang yang bisa digarap masih jauh dari optimal.
BSI sendiri, kata Muhadjir, juga tak lepas dari tantangan pengembangan. Pada aspek teknologi informasi misalnya, BSI masih bergantung pada platform lama Bank Mandiri yang kapasitasnya tidak lagi memadai. Hal ini membuat sistem sering bermasalah dan tidak sebanding dengan kebutuhan nasabah yang terus bertambah.
Selain itu, status BSI yang masih berada di bawah tiga bank induk (Mandiri, BNI, dan BRI), membatasi ruang gerak. Menurut Muhadjir, jika BSI bisa lebih independen, maka akan lebih leluasa bersaing, termasuk dengan mantan induknya sendiri. ”Kalau bisa lebih independen, BSI akan lebih leluasa bersaing dengan bank konvensional,” ujarnya.
Ke depan, BSI juga sedang mempersiapkan perwakilan di Jeddah untuk mendukung ekosistem haji. Muhadjir menilai langkah ini penting karena urusan haji dapat dijadikan bagian dari skema pengembangan ekonomi syariah. Dengan basis jamaah haji Indonesia yang besar, kehadiran BSI di Arab Saudi akan membuka peluang layanan keuangan baru











