Panjimas – Terjadinya polusi dan kerusakan di darat, sungai, laut dan di udara kata Sjafruddin Prawiranegara bukanlah karena banyaknya penghuni bumi tetapi karena merosotnya akhlak dan moralitas manusia.
Hal itu terjadi karena tujuan hidup manusia tidak lagi untuk beribadah dan mengabdi kepada Tuhan, tetapi untuk supaya bagaimana mereka bisa mendapatkan kesenangan hidup di dunia ini dengan tenaga dan biaya yang sekecil-kecilnya dan keuntungan yang sebesar-besarnya (serakahnomic) yang dalam ilmu ekonomi disebut dengan motive ekonomi.
Jadi motive ekonomi yang merupakan cermin dari hawa nafsu itulah kata Sjafruddin yang telah mendorong orang untuk menjadi rakus dan tamak sehingga kalau masalah ekonomi, dikelola hanya berdasarkan motiv ekonomi maka masyarakat yang akan terbentuk menurut Sjafruddin bukanlah masyarakat yang baik dan beradab tapi masyarakat yang biadab karena tidak lagi memperhatikan dan menjunjung tinggi akhlak dan moralitas serta nilai-nilai luhur.
Berbeda halnya jika masalah ekonomi dikelola dengan berdasarkan ajaran agama karena bagi seorang muslim yang mendorong mereka untuk berbuat dalam kehidupan ekonomi bukanlah motive ekonomi tapi adalah ketaqwaan terhadap Allah SWT dan kecintaannya untuk berbuat baik terhadap sesama.
Dimana dia akan tampil tidak hanya sebagai sosok homo economicus tapi juga sekaligus sebagai homo religius dimana dia diharapkan akan dapat mempergunakan alam kebendaan yang dimiliki dan dihadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya sesuai dengan ketentuan dari Tuhannya.
Akhlak dan moralitas seperti itulah kata Sjafruddin yang tidak ada pada orang yang bekerja hanya menurut metode ekonomi semata sehingga akibatnya kita lihat mereka menjelma menjadi iblis dalam tubuh manusia yang menghisap darah orang lain dan darah masyarakatnya.
Oleh karena itu jika kita ingin menata kehidupan ekonomi suatu bangsa dan negara kata Sjafruddin maka adalah suatu kekeliruan bila pemerintah dalam menyelesaikan masalah ekonomi yang dihadapi rakyatnya hanya mempergunakan pendekatan ekonomi dan pasar semata karena yang namanya pasar dan ekonomi murni itu menurut Sjafruddin tidak punya hati nurani karena dia hanya akan berpihak kepada orang yang kuat saja dan tidak peduli kepada orang yang lemah.
Keadaan pasar yang seperti itu tentu akan sarat dengan pro-kontra karena tidak bisa diterima oleh orang yang miskin sebagai pihak yang termarjinalkan dan dimarginalkan. Oleh karena itu adalah wajar jika mereka berjuang dan berusaha dengan keras bagi mendapatkan hak-haknya sehingga akibatnya terjadilah gesekan dan tindak kekerasan serta perbuatan-perbuatan tidak terpuji lainnya yang kesemuanya tidak mustahil akan memantik bagi terjadinya kekacauan sosial dan kekacauan politik yang akan sangat merugikan berbagai pihak dari kalangan bangsa dan negara tersebut.
Untuk menghindari hal demikian maka tidak dapat tidak kata Sjafruddin agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, kebersamaan dan keseimbangan harus terlibat dan dilibatkan bagi mengatur kehidupan ekonomi dan pasar agar kehidupan ekonomi dan pasar bisa berjalan dengan baik dan lancar dalam bingkai akhlak dan moral yang luhur sehingga kehidupan ekonomi dan pasar diharapkan akan dapat menjadi tempat yang aman, nyaman dan sejuk bagi semua pihak, dan itulah yang kita harapkan.
Anwar Abbas
Ketua PP Muhammadiyah













