Saya, Edy Susanto (Pemred Panjimas.id) ingin menyampaikan kesaksian dan klarifikasi saya atas apa yang saya lihat dan dengar serta saksikan sendiri saat wawancara Sekjen MUI dengan beberapa awak media.
Hal ini untuk menanggapi pemberitaan media Kompas tentang pemberitaan Sekjen MUI menanggapi pertanyaan wartawan soal musibah pesantren di Sidoarjo bisa saya jelaskan dan gambarkan sebagai berikut :
Kebetulan saya hadir dan langsung ikut mewawancarai Sekjen MUI saat dilakukan doorstop wartawan yg mencegat Buya Sekjen ketika keluar ruangan Aula MUI pada Selasa(7/10/25)
Saat itu sejumlah wartawan termasuk dari media Kompas,dll sudah menyiapkan diri untuk menanyakan soal sikap MUI terhadap musibah runtuhnya Pesantren Al Khoziny. Sementara Sekjen MUI baru saja keluar ruangan langsung didatangi dan dihampiri banyak wartawan yang hadir di MUI.
Ketika pertanyaan disampaikan kepada Sekjen MUI soal tanggapannya, dirinya menyatakan turut bersedih dan sangat berduka terhadap kejadian tersebut. Bahkan berulang kali Buya Sekjen mengucapkan kalimat : “Innalillahi Wa Inanililahi Rojiun, mari kita doakan semoga seluruh anak-anak santri husnul khotimah”.
Bahkan Amirsyah sempat menghentikan suaranya karena beliau tidak tahan dan menangis sambil mengusap syal Palestina yg dipakainya setelah mengikuti acara Solidaritas Palestina yang diadakan di Aula Kantor MUI, Jakarta
Sangat jelas di video yang saya rekam langsung bagaimana suasana kedukaan Sekjen MUI saat harus menyampaikan rasa kesedihan musibah para penuntut ilmu (santri) yang mendapatkan musibah tersebut.
“Sabagai representasi pemimpin para Ulama di MUI, Buya Amirsyah lebih banyak ingin menyampaikan perasan dan suasana kebatinan yang ada dan tidak ada tendensi beliau ingin menyampaikan yang lain diluar ranah Keagamaan dan Keulamaan beliau sebagai Sekjen MUI”
Tapi beberapa wartawan yang melakukan doorstop berusaha mengiring (framing) pertanyaan agar ada pernyataan sikap MUI yang menyalahkan pemerintah atau pesantren terhadap peristiwa musibah tersebut. Tapi Sekjen MUI tidak terpancing dan tetap bijak serta santun dalam menyikapi musibah tersebut harus menjadi bahan Evaluasi (bukan meminta mengentikan aktivitas pesantren).
Sebab kalau Sekjen MUI meminta untuk di evaluasi adalah hal yang wajar dan seharusnya dilakukan apalagi ini menyangkut adanya peristiwa luar biasa yang terjadi bahkan menelan korban jiwa. Tapi kalo meminta untuk dihentikan itu bukan ranah dan kewenangan MUI. Sekjen faham betul itu adalah kewenangan Pemerintah dan Presiden.
Sekjen MUI sadar betul bahwa ranah hukum dan teknis lapangan itu bukan hal yang perlu direspon oleh lembaga MUI. Jadi framing yang dibuat dan diciptakan oleh media itu memang sengaja menjadi bahan pembicaraan publik sekaligus mengerek antusiasme pembaca terhadap media yang memberitakan. Pada gilirannya media tersebut akan di baca banyak orang.
Sebagai seorang wartawan senior dan berpengalaman dilapangan selama puluhan tahun saya sudah sangat faham dan mengerti mana media yg memang cari rating pembaca dan viewers dengan membuat judul dan framing yang bombastis dan viral dan mana media dan jurnalis yang mengunakan kode etik jurnalistik dengan baik dan benar.
Wartawan kompas yang melakukan wawancara doorstop itu usianya masih muda dan baru menjadi wartawan. Terlihat saya perhatikan dari sisi usia, penampilan dan gaya bicaranya dengan beberapa teman-teman dia yang dari media lain. Sebab usia dan pengalaman seorang jurnalis menentukan kualitas hasil tulisan yang dibuatnya.
Saya punya bukti rekaman video wawancara doorstop itu. Silahkan kalau ada Pengurus MUI atau yang lainnya yang ingin bertanya dan klarifikasi ke saya langsung tentang kejadian wawancara doorstop itu bisa langsung menghubungi saya.
Edy Susanto
Wartawan Senior, Pemred Panjimas
