MuhammadiyahNasionalNews

Hari Bermuhammadiyah PDM Jaktim: Teologi Digital, Jalan Tengah antara Iman dan Teknologi

35
×

Hari Bermuhammadiyah PDM Jaktim: Teologi Digital, Jalan Tengah antara Iman dan Teknologi

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Dalam rangka memperingati Hari Bermuhammadiyah, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Timur menggelar kegiatan kajian tematik bertema “Teologi Digital dalam Perspektif Muhammadiyah” yang diselenggarakan di Masjid Al Maghfirah, PCM Duren Sawit II.

Acara yang berlangsung pada Ahad pagi, pukul 08.00 hingga 11.00 WIB, dihadiri oleh para pimpinan cabang, majelis, ortom, dan warga Muhammadiyah se-Jakarta Timur dengan penuh antusias.
Kegiatan diawali dengan sambutan hangat dari Ketua PCM Duren Sawit II, Bapak Agus Subeno, selaku tuan rumah.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan Hari Bermuhammadiyah di lingkungan Duren Sawit sebagai bentuk nyata penguatan ukhuwah dan dakwah di tingkat lokal. Menurutnya, keberadaan masjid dalam tradisi Muhammadiyah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan umat dan peradaban Islam.

“Masjid harus menjadi ruang yang hidup dan berdaya guna. Melalui kegiatan seperti ini, kita ingin menghidupkan kembali semangat bermuhammadiyah yang berdakwah dengan keilmuan dan keteladanan,” ujarnya.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ustadz Muhammad Nashihudin, selaku Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur, yang menegaskan pentingnya adaptasi dakwah di era digital. Beliau mengingatkan bahwa perkembangan teknologi menuntut para mubaligh dan kader Muhammadiyah untuk tidak hanya menguasai materi keislaman, tetapi juga memahami cara penyampaiannya di dunia maya.

“Dakwah hari ini tidak bisa lepas dari digitalisasi. Namun esensinya tetap sama: menyampaikan kebenaran dengan hikmah, menghadirkan akhlak, dan menjaga kemurnian niat,” tutur Ust. Nashihudin.

Selanjutnya, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Timur, Prof. Dr. M. Nur Rianto Al Arif, dalam amanatnya menekankan bahwa era digital adalah tantangan sekaligus peluang besar bagi gerakan Islam berkemajuan. Beliau menyampaikan bahwa kehadiran Muhammadiyah di ruang digital harus berperan sebagai kekuatan pencerahan yang menuntun umat untuk berpikir rasional dan berakhlak mulia.

“Digitalisasi bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Ia adalah keniscayaan zaman yang harus kita isi dengan nilai-nilai tauhid, etika, dan kemajuan. Muhammadiyah harus hadir dengan wajah Islam yang cerdas, moderat, dan mencerahkan,” pesan Prof. M. Nur Rianto dalam amanatnya yang disambut penuh semangat oleh peserta.

Puncak acara diisi dengan penyampaian materi oleh Ustadz Harry B. Jauhari, M.Pd., Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus PWM Jakarta, yang membahas secara mendalam konsep teologi digital dalam perspektif Muhammadiyah.

Ia menjelaskan bahwa teologi digital bukanlah bentuk baru dari ajaran akidah, melainkan cara pandang baru dalam memahami relasi manusia, teknologi, dan nilai-nilai ketuhanan. Menurut beliau, perkembangan teknologi harus dilihat sebagai bagian dari rahmat Allah yang menguji sejauh mana manusia mampu menggunakan akalnya untuk kebaikan.

“Teologi digital mengajak kita untuk tidak alergi terhadap teknologi, tetapi juga tidak menuhankannya. Kita harus menjadikan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat iman, bukan sekadar alat pemuas informasi,” jelasnya.

Ustadz Harry juga menegaskan bahwa warga Muhammadiyah perlu memiliki literasi digital yang baik agar tidak mudah terseret dalam arus informasi yang menyesatkan. Dakwah di era modern menuntut kecerdasan moral dan intelektual agar pesan Islam tetap relevan dan mencerahkan.

“Warga Muhammadiyah harus menjadi pelopor dalam bermedia. Jadikan dunia digital sebagai ladang dakwah yang beretika, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat,” tegasnya.

Kegiatan Hari Bermuhammadiyah ini kemudian ditutup dengan ajakan bersama untuk memperkuat semangat tajdid dalam setiap aspek kehidupan, termasuk di dunia digital. Melalui tema Teologi Digital dalam Perspektif Muhammadiyah, acara ini meneguhkan kembali komitmen gerakan Islam berkemajuan: bahwa iman dan teknologi tidak perlu dipertentangkan, melainkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *