Yogyakarta, panjimas – Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Sekolah Kader Tarjih pada Ahad (19/10).
Kegiatan ini menjadi ruang penguatan ideologis dan intelektual bagi kader Muhammadiyah untuk memperdalam manhaj tarjih sekaligus memperteguh karakter gerakan Islam yang menjadi ruh Muhammadiyah.
Wakil Ketua PWM DIY, Ridwan Furqoni, dalam sambutannya menegaskan bahwa keberadaan Majelis Tarjih merupakan ciri utama yang menegaskan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, bukan semata gerakan sosial atau pendidikan.
“Muhammadiyah adalah gerakan Islam, sehingga nilai-nilainya harus dari Islam. Keberadaan Majelis Tarjih menjadi sangat penting karena ini penanda gerakan Islam. Jika tidak ada majelis tarjih, bisa jadi Muhammadiyah hanya dikenal sebagai gerakan pendidikan dan kesehatan,” ujarnya.
Ridwan menambahkan, kaderisasi tarjih mutlak diperlukan agar dinamika keagamaan di semua tingkatan, dari pusat hingga ranting, selalu diwarnai oleh Manhaj Tarjih.
“Kita butuh lebih banyak kader yang memahami pokok-pokok pemikiran khas keagamaan Muhammadiyah. Jangan sampai ada masjid Muhammadiyah, tapi amaliyah di dalamnya tidak mencerminkan kemuhammadiyahan,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY, Ali Yusuf, menjelaskan bahwa Sekolah Kader Tarjih ini berfokus pada pendalaman internal sebelum melakukan syiar ke luar.
“Kami ingin memperdalam pemahaman kader tentang ketarjihan lebih dulu sebelum menyampaikannya ke masyarakat. Harapannya kegiatan seperti ini bisa dikembangkan di tingkat daerah, cabang, bahkan ranting,” katanya.
Menurut Ali Yusuf, materi yang diajarkan meliputi pokok-pokok ketarjihan seperti Wawasan Tarjih dan Sumber Ajaran Agama Menurut Tarjih, Pendekatan dan Asumsi dalam Bertarjih, Prosedur Teknis dalam Bertarjih (termasuk Maqashid Syariah), Metodologi Tafsir al-Qur’an dalam Muhammadiyah, dan Metodologi dalam Memahami Hadis Menurut Muhammadiyah.
“Ini materi-materi dasar yang harus dikuasai sebelum disampaikan kepada jamaah,” jelasnya.
Para narasumber yang hadir di antaranya Ali Yusuf (Wawasan/Spirit Tarjih dan Sumber Ajaran Agama Menurut Tarjih), Wawan Gunawan Abdul Wahid (Pendekatan dan Asumsi dalam Bertarjih serta Prosedur Teknis dalam Bertarjih), Aly Aulia (Metodologi Tafsir al-Qur’an dalam Muhammadiyah), dan Jannatul Husna (Metodologi dalam Memahami Hadis Menurut Muhammadiyah).
Kegiatan ini diikuti oleh 51 peserta, terdiri atas perwakilan Majelis Tarjih dan Tajdid PWM DIY, PDM se-DIY (Sleman, Bantul, Gunungkidul, Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta), serta sejumlah mahasiswa Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM).
Adapun tujuan utama kegiatan ini adalah:
Menguatkan kompetensi peserta dalam bidang ilmu keislaman dan ketarjihan.
Mengembangkan wawasan dalam menghadapi isu-isu keagamaan kontemporer.
Membangun kapasitas peserta dalam memahami dan menerapkan Manhaj Tarjih secara kontekstual.
Menumbuhkan semangat dan komitmen kader tarjih untuk berperan aktif dalam bidang ketarjihan.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, PWM DIY berharap muncul kader-kader tarjih yang tidak hanya memahami metodologi keagamaan Muhammadiyah secara mendalam, tetapi juga mampu menjadi rujukan keislaman di tengah masyarakat













