MUINasionalNews

Buya Amirsyah Dorong Optimalisasi Peran MUI Sebagai Sadiqul Hukumah dan Himayatul Ummah

30
×

Buya Amirsyah Dorong Optimalisasi Peran MUI Sebagai Sadiqul Hukumah dan Himayatul Ummah

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas — Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Buya Amirsyah Tambunan, menegaskan pentingnya peran ulama dalam menopang pembangunan nasional serta mendukung implementasi program prioritas pemerintah yang saat ini dikenal sebagai astacita.

Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers usai pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) XI MUI, sebuah forum tertinggi organisasi yang menjadi momentum peneguhan arah gerak MUI memasuki usia ke-50 tahun. Menurut Buya Amirsyah, keberadaan ulama dalam Munas XI bukan hanya simbolis, tetapi merupakan penegasan akan peran strategis MUI dalam mengawal kebijakan publik sekaligus memperkuat kemandirian bangsa.

Buya Amirsyah menjelaskan bahwa MUI bersama umat Islam harus terlibat aktif dalam mendukung arah kebijakan pemerintah, terutama dalam upaya mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Majelis Ulama Indonesia sangat konsen untuk mengelaborasi sekaligus mengimplementasikan bagaimana program-program pemerintah ini bisa diaktualisasikan. Kenapa? Karena Presiden Prabowo sangat konsen untuk mengimplementasikan Pasal 33 tentang kekayaan alam yang dikuasai negara digunakan sebesar-besarnya untuk kemampuan rakyat,” ujarnya kepada MUIDigital di Mercure Convention Center Ancol, Kamis (20/11/2025).

Ia menyebutkan bahwa fokus pemerintah tersebut sangat selaras dengan tema Munas XI MUI, yakni “Meneguhkan Peran Ulama untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa dan Kesejahteraan Rakyat”. Ulama, kata dia, memiliki kapasitas strategis untuk ikut mendorong pencapaian tujuan itu.

Buya Amirsyah juga menggarisbawahi pernyataan Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang menegaskan bahwa peran ulama sudah hadir jauh sebelum Indonesia merdeka. Ia bahkan mengutip analogi menarik yang disampaikan Muzani.

“Ketika peran ulama ditampilkan, jangan seperti daun salam. Wah, itu saya sangat appreciate, ya. Itu mengingatkan kepada pemerintah supaya peran ulama ini bisa secara berkelanjutan.”

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penguatan peran ulama menjadi semakin relevan dalam momentum Munas XI, karena forum ini menjadi ajang evaluasi sekaligus penetapan langkah strategis MUI untuk periode berikutnya. Ia menegaskan bahwa peran ulama harus diwujudkan dalam dua dimensi penting.

“Pertama adalah mitra pemerintah yang disebut dengan ṣadīqul ḥukūmah. Dan yang kedua, melayani umat sekaligus melindungi umat, yaitu sebagai khādimul ummah dan ḥimāyatul ummah,” kata Buya Amirsyah.

Ia optimistis peran tersebut dapat diimplementasikan secara optimal demi kemaslahatan bangsa.

Di akhir penyampaiannya, Buya Amirsyah menegaskan bahwa keberagaman ormas Islam yang berhimpun dalam MUI, yang kembali dipertegas kehadirannya dalam Munas XI, merupakan kekuatan besar bangsa.

“Majelis Ulama Indonesia merupakan tenda besar. Tadi Ketua Wantim mengatakan 80 ormas berhimpun. Karena itu representasi, kemudian juga harus ada kompetensi, integritas, keterwakilan semua ormas yang memberikan warna keulamaan dan kecendekiawanan,” jelasnya.

Dengan kombinasi keulamaan dan kecendekiawanan itu, ia berharap MUI dapat melindungi dan mengayomi umat secara keseluruhan, tanpa membedakan dari ormas mana dia berasal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *