InternasionalMuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Tetap Bergerak Efisien dan Sederhana, Meski Menjadi Organisasi Islam Terkaya di Dunia

31
×

Muhammadiyah Tetap Bergerak Efisien dan Sederhana, Meski Menjadi Organisasi Islam Terkaya di Dunia

Sebarkan artikel ini

Jakarta, panjimas – Masih viral tentang Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terkaya di dunia, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir ingatkan menjalankan organisasi secara efisien.

Pesan itu disampaikan Haedar Nashir pada Rabu malam (19/11) dalam Leadership Training bagi Pimpinan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) angkatan sebelas di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Meski dikenal sebagai organisasi Islam dengan aset triliunan rupiah, namun kesederhanaan dan efektivitas dalam gerakan harus tetap terjaga. Setiap gerakan harus terukur sehingga memberikan dampak bagi kemajuan masa depan.

Pesan supaya berlaku efisien ini tidak hanya ditujukan kepada institusi atau kelembagaan, tetapi juga bagi para perseorangan atau pimpinan baik di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) maupun yang di Persyarikatan.

Sanjungan atas berbagai capaian yang diraih oleh Muhammadiyah, kata Haedar, jangan kemudian menjadikan pimpinan, kader, dan warga Muhammadiyah sombong – tetapi tetap boleh bangga.

Kepemimpinan Moderat untuk Menjalankan Fungsi Kenabian
Sementara itu, kepada peserta pelatihan, Haedar menyampaikan supaya segala jabatan yang diemban tidak boleh menjadikan sombong diri, di sisi lain juga tidak boleh menunduk-nunduk yang menampakan rendah diri.

Hadiri Pengukuhan IGABA, Wamen Fajar Tegaskan Pentingnya Pembelajaran Berbasis Bermain di PAUD
Ketika Anak Muda Merawat Masjid: Kisah Mangundimejan Sragen Menginspirasi
Peringati Milad Muhammadiyah, Komunitas Jaki Mu DIY Tuntaskan Jalan 113 Km bersama Komunitas Penyintas Stroke

“Kesombongan itu akan membuat barrier kita dengan orang, hatta di saat kita menjadi pemimpin. Tapi juga kemudian kata Pak AR itu nunduk-nunduk, itu tidak boleh juga. Moderatlah atau tawassuth,” katanya.

Kepemimpinan, imbuhnya, harus memiliki dimensi ruhaniah, intelektual, dan sosial. Berbagai dimensi ini menurutnya dapat menjadikan kepemimpinan itu berdampak pada kemajuan pada institusi atau lembaga yang dipimpinnya.

Selain itu, kepemimpinan di Muhammadiyah merupakan wasilah untuk menjalankan fungsi kerisalahan atau kenabian. Maka dalam menjalankan kepemimpinan didorong supaya memiliki empat karakter yaitu sidiq, tablig, fatanah, dan amanah.

“Pemimpin di level apapun itu menjalankan fungsi kerisalahan, yang disebut sebagai kepemimpinan profetik,” ungkapnya.

Keempat karakter kepemimpinan nabi tersebut menurutnya berlaku universal, artinya tidak hanya tepat untuk kepemimpinan dalam urusan-urusan keagamaan saja, melainkan juga kontekstual dalam kepemimpinan di bidang yang lain.

Menjelaskan karakter pertama yaitu sidiq atau jujur, menurut Haedar ini merupakan karakter sekaligus nilai universal yang kontekstual di semua tempat. Karakter jujur ini membawa kemajuan sebab tidak ada korupsi misalnya.

“Sering menjadi sumber masalah itu hilangnya kejujuran. Dan ketika kejujuran hilang, akan ditutupi ketidakjujuran,” ungkapnya.

Selanjutnya adalah amanah atau dapat dipercaya. Kepemimpinan yang membangun harus memiliki karakter amanah. Seperti Muhammadiyah saat ini berhasil mendapat kepercayaan yang tinggi di mata publik.

Sementara itu, karakter ketiga adalah fatanah berarti cerdas atau bijaksana, dan karakter keempat adalah karakter tablig yang berarti menyampaikan wahyu atau pesan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *