MuhammadiyahNasionalNews

Muhammadiyah Perkuat Jejaring Keberagaman untuk Merawat Lingkungan

35

Yogyakarta, panjimas – Program Massifikasi Ecobhinneka resmi ditutup setelah berlangsung selama kurang lebih lima bulan. Program yang digagas Departemen Kesehatan dan Lingkungan Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) dengan didukung langsung oleh LAZISMU ini berhasil menghadirkan praktik baik dalam menjawab tantangan lingkungan, sekaligus memperkuat jejaring lintas iman hingga ke tingkat akar rumput.

Inisiatif ini mendapatkan banyak apresiasi dari berbagai pihak, khususnya dari lima wilayah yang menjadi fokus pendampingan. Setiap wilayah memiliki karakteristik dan tantangan lingkungan yang berbeda, sehingga praktik yang lahir melalui program ini menjadi bukti nyata terhadap kolaborasi berbasis keberagaman yang mampu memperluas dampak dan memperkuat kepedulian ekologis di masyarakat.

Dalam sambutannya, Ketu Umum PPNA, Ariati Dina Puspitasari menegaskan, keberagaman Ecobhinneka mampu menjadi pintu bagi persoalan lingkungan yang selama ini berkolaborasi secara luas terutama dalam sektor lintas iman.

“Keberagaman ini menunjukkan bahwa organisasi mampu mengarusutamakan inklusivitas baik gender, isu, agama, maupun usia. Melalui Ecobhinneka, kami berharap Nasyiah tetap eksis hingga 100 tahun ke depan dengan warna-warna yang dibutuhkan masyarakat sesuai dengan zamannya,” jelas Ariati dalam pemaparannya pada Sabtu, (22/11).

Terkait lima wilayah yang menjadi fokus dampingan, kelimanya memiliki variasi aktivita syang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan memiliki karakteristik kedaerahan yang membutuhkan keterampilan dalam menghadapinya.

Ariati turut menambahkan bahwa Ecobhinneka telah memberikan wawasan khususnya bagi kader-kader Nasyiah. Mindset keberagaman, kepedulian lintas iman yang senantiasa ditekankan dalam merawat lingkungan ini menjadi tanggung jawab bersama dan praktik baik yang harus tetap berjalan secara berkelanjutan.

“Harapan kami adalah jejaring lintas iman dan kolaborasi yang telah terbentuk akan terus bekerja, menyuarakan isu-isu lingkungan secara berkelanjutan. NA akan tetap menjadi leading sector dari komunitas yang telah lahir melalui program ini,” tambahnya.

Aksi yang Menghadirkan Pencerahan
Selaras dengan hal itu, Ketua Badan Pengurus Lazismu, PP Muhammadiyah, Ahmad Imam Mujadid Rais menilai bahwa aktivitas yang telah membawa dampak nyata ini dapat menjadi rahmat apabila ada perubahan konkret, seperti yang telah dilakukan Nasyiah.

“Program ini bukan hanya menhadirkan aksi, namun juga pencerahan. Semangat rahmatan lil ‘alamin menjadi dasar penting bahwa kepedulian lingkungan bukan sekedar tren, tapi kebutuhan sistemik,” jelas Rais.

Nasyiah sebagai civil society penting untuk mengintegrasikan gerakan masyarakat dengan regulasi dan kebijakan pemerintah untuk memperkuat hasil program. Maka, Rais mendorong penyusunan policy brief agar program sejalan dengan kebijakan nasional dan mitigasi keberlanjutan yang jelas.

“Isu interfaith dan lingkungan adalah hal yang seharusnya secara bersama dapat diatasi. Melalui Lazismu kita juga dapat mempertegas semangat berbagi serta mendukung program-program lingkungan yang bermanfaat,” pungkasnya.

Penutupan program Massifikasi Ecobhinneka tak hanya menandai berakhirnya sebuah program. Namun juga menjadi tonggak penting dalam penguatan gerakan lingkungan berbasis keberagaman dan kolaborasi lintas iman di tubuh Nasyiatul Aisyiyah. Jejaring dan praktik baik yang telah lahir ini yang harus mampu menjadi spirit keberlanjutan dan modal penting bagi NA dalam merawat bumi dan menggerakkan dakwah menuju hidup yang berkeadilan bagi lingkungan

Exit mobile version