Jakarta, panjimas — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir melakukan kunjungan kehormatan kepada Raja Perlis, Tuanku Syed Sirajuddin Jamalullail dan Raja Perempuan Perlis Tengku Fauziah binti Tengku Abdul Rashid.
Dalam pertemuan pada Selasa (25/11/2025) tersebut, turut serta Ketua PP ‘Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, Bendahara Umum PP Muhammadiyah Hilman Latif, Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Ahmad Muttaqin, Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara Agussani, dan Rektor Universiti Muhammadiyah Malaysia (UMAM) Saidul Amin.
Prof Haedar mengatakan, kunjungan ini merupakan upaya untuk semakin mempererat jalinan silaturahim antara Muhammadiyah dan tokoh-tokoh di Malaysia, terutama Perlis.
“Kami berharap hubungan baik antara Muhammadiyah dengan Malaysia, dan khususnya Perlis, akan semakin kuat ke depan, terutama dalam bidang pendidikan dan kemanusiaan,” ujar Haedar Nashir dalam keterangan tertulis, Rabu (26/11/2025).
Dalam pertemuan ini, Tuanku Raja Perlis turut didampingi Mufti Perlis, Mohd Asri Zainul Abidin. Pemimpin negara-bagian di Malaysia ini menyambut baik kunjungan kehormatan jajaran PP Muhammadiyah. Di samping itu, pihaknya juga menyampaikan apresiasi atas kontribusi Muhammadiyah di dunia pendidikan dan kemanusiaan.
Raja Perlis berharap, Muhammadiyah dapat semakin memajukan pendidikan di Perlis dan Malaysia pada umumnya. Hal itu sebagai bagian dari upaya memajukan umat dan dunia Islam.
Tak hanya UMAM
Dalam sejarahnya, Muhammadiyah terus meluaskan maslahat hingga ke luar negeri. Di Malaysia, amal usaha Persyarikatan sesungguhnya tidak hanya kampus, yakni UMAM, yang juga universitas Muhammadiyah pertama yang berdiri di luar Indonesia.
Muhammadiyah juga telah mendirikan sejumlah lembaga pendidikan dan pusat dakwah Islam di negeri jiran. Di antaranya adalah Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Sanggar Bimbingan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia. Ini terbentuk sejak tahun 2021 dan masih aktif hingga kini.
Kemudian, ada pula Rumah Hamka atau Ruhama di Selangor, Malaysia. Ini merupakan salah satu amal usaha Muhammadiyah (AUM) yang dirintis Pengurus Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia.
Pemilihan nama itu mengandung pesan, Buya Hamka bukan hanya milik Muhammadiyah atau Indonesia, melainkan juga seluruh Muslimin di Asia Tenggara, termasuk Malaysia. Ketokohan sang ketua umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu memang diakui luas di negeri-negeri rumpun Melayu
