MuhammadiyahNasionalNews

Sekum Abdul Mu’ti Ajak Muhammadiyah Hindari Konflik : Ojo Rebutan Balung dan Selalu Kompak

66
×

Sekum Abdul Mu’ti Ajak Muhammadiyah Hindari Konflik : Ojo Rebutan Balung dan Selalu Kompak

Sebarkan artikel ini

Surabaya, panjimas – Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti memberikan pesan strategis pada peringatan Milad ke 113 Muhammadiyah, Sabtu (29/11/2025).

Berbicara pada forum yang digelar di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur tersebut, Abdul Mu’ti menyampaikan konsep “Tidak 3K”.

Kegiatan yang berlangsung di Aula KH Mas Mansur, Gedung PWM Jatim tersebut turut menghadirkan pengurus PWM Jatim hingga Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten/Kota. Ketua PWM Jatim Sukadiono bersama Sekretaris PWM Jatim Biyanto hadir sebagai tuan rumah.

Meneguhkan Semangat Anggota Muhammadiyah
Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa peringatan Milad Muhammadiyah harus meneguhkan semangat anggota Muhammadiyah terus membesarkan organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut.

Membawa konsep Tidak 3K, Abdul Mu’ti menyampaikannya sebagai: tidak konflik, tidak korupsi, dan tidak kolot.

Mu’ti dengan tegas mengawali arahannya dengan peringatan tentang bahaya konflik internal. Menurut peraih penghargaan Australian Alumni Award kategori Inspiration Award ini, organisasi besar seperti Muhammadiyah hanya bisa bertahan sepanjang lebih dari satu abad karena mampu menjaga kekompakan dan menghindari perpecahan.

“Jangan konflik. Ojo rebutan balung (jangan berebut tulang). Kadang balungnya sudah tidak ada, tapi masih berebut sumsum. Bahkan, sudah tak ada balung sama sumsum, permusuhannya sampai balung sumsum,” ujarnya Abdul Mu’ti di atas podium sambil mengutip pepatah Jawa.

Tidak Berkonflik
Ungkapan itu menggambarkan bahwa sering kali konflik muncul bukan karena substansi persoalan.

Melainkan, karena ambisi dan perebutan posisi yang tidak lagi memiliki nilai strategis bagi organisasi.

Ia menegaskan bahwa dalam Islam, ikhtilaf atau perbedaan pendapat adalah hal wajar, bahkan merupakan kenyataan sosial yang tidak bisa dihindari.

Namun yang dilarang adalah tafaruk, yaitu perpecahan yang menimbulkan permusuhan.

“Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada tali agama-Nya dan melarang kita untuk bercerai-berai. Tafarruq (berpecah belah) itu dilarang, ikhtilaf (berbeda pendapat) tidak bisa dihindari.

Bahkan kalau kita ikuti beberapa pendapat itu menyebutkan ikhtilaf itu kan sunnatullah. Tapi tafaruk itu laknatullah,” kata Abdul Mu’ti yang kini menjabat Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) tersebut.

Karena itu, K pertama yang ditekankan adalah kompak, menjaga kohesi, mengedepankan musyawarah, serta meminimalkan potensi friksi antarkader dan antarpimpinan.

Ia mengingatkan, konflik yang dibiarkan berlarut-larut akan menguras energi, merusak keteladanan organisasi Islam modern, dan pada akhirnya menghambat amal usaha yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah.

Seluruh kader diminta kembali pada nilai ukhuwah, tidak mudah tersulut provokasi, serta mengelola dinamika organisasi secara dewasa.

“K-nya itu jangan konflik tapi kita kompak,” tegas alumnus S3 UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta dan S2 Flinders University, Adelaide, South Australia ini.

Selain menegaskan pentingnya menghindari konflik, Abdul Mu’ti menyoroti K kedua, yakni tidak korupsi.

Sebagai organisasi Islam, ia menekankan bahwa potensi korupsi bukan hanya soal penyalahgunaan uang negara atau dana besar.

Namun, juga bentuk kebohongan moral yang dapat terjadi di mana saja, termasuk dalam lembaga keagamaan.

“Tidak berarti organisasi keagamaan itu tidak ada korupsinya. Ada juga. Bahkan kadang-kadang sampai mushaf pun bisa dikorupsi,” ujarnya menyinggung skandal besar yang terjadi di Kementerian Agama Indonesia selama tahun anggaran 2011 dan 2012 silam.

Dengan gaya jenaka namun tajam, ia menggambarkan bagaimana praktik korupsi kerap bermula dari hal kecil. “Kalau 250 juta ditambah nol jadi 2,5 miliar, itu sudah beda sekali. Makanya hati-hati naruh nol,” tuturnya disambut gelak tawa peserta forum.

Mu’ti menjelaskan bahwa Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan tentang kehancuran bangsa-bangsa yang perilakunya penuh kebohongan dan kecurangan.

Ia menafsirkan larangan La Tufsidu Fil Ardh (Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 11 dan Surat Al-A’raf ayat 56) sebagai peringatan keras agar manusia tidak melakukan korupsi dalam bentuk apa pun.

Tata Kelola Rapi dan Detail

Dari perspektif kelembagaan, ia menegaskan bahwa Muhammadiyah selama ini diakui sebagai organisasi dengan tata kelola rapi, detail, dan akuntabel.

Standar itu perlu dijaga karena kredibilitas adalah modal besar bagi gerakan Islam modern.

K ketiga yang disampaikan adalah tidak kolot, yang berarti Muhammadiyah harus senantiasa bergerak maju dan tidak terjebak pada pola pikir jumud.

Menurut Mu’ti, sebagai gerakan tajdid (pembaharuan menuju kemurnian Al Qur’an), Muhammadiyah memiliki identitas pembaruan yang harus terus dijaga.

“Kalau kolot itu jumud. Muhammadiyah itu gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar, dan tajdid. Jangan berhenti hanya pada amar ma’ruf nahi mungkar, tajdid-nya jangan dipotong,” ujar pria yang pernah menjadi Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan ini.

Ia mendorong warga Muhammadiyah untuk kreatif dalam mengembangkan amal usaha, memajukan masjid, meningkatkan kualitas pendidikan, dan merespons perkembangan zaman.

Mu’ti menegaskan bahwa kreativitas dan keterbukaan pada pembaruan adalah kunci agar Muhammadiyah tetap relevan di tengah perubahan sosial dan teknologi yang begitu cepat.

Abdul Mu’ti menegaskan ketiga prinsip tersebut harus saling melengkapi dalam menjaga kekokohan Muhammadiyah.

“Supaya Muhammadiyah tetap besar, kompaklah. Jaga kredibilitas dan jadilah kreatif,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *